AraDea

AraDea
Part 47 Terbunuhnya Jendral Angkara


__ADS_3

Jurus demi jurus yang dilancarkan oleh Dea, pada jenderal perang dari Angkara itu, membuatnya kewalahan. Dengan lincah dan cepat, Dea menancapkan tombaknya yang ada di tangannya, ke dada jenderal tersebut hingga tembus ke punggung.


Tombak yang dia dapat dari mayat bergelimpangan itu pun, membuat jenderal dari Angkara berakhir tragis.


Kemenangan pun diraih oleh pasukan Parahyangan dan dia bersama panglima perang serta para prajurit yang masih tersisa kembali ke istana.


Kekalahan yang diderita oleh kerajaan Angkara membuat raja Dasamuka menjadi murka. Dasamuka tak terima kalau prajuritnya ditaklukan oleh seorang gadis kecil yang berasal dari bumi.


"Kurang ajar! cepat cari tahu, siapa gadis kecil itu sebenarnya dan ada urusan apa antara dia dengan raja Askara. Cepat menyebarlah kalian di permukaan bumi!" ujar Dasamuka marah.


Perintah Dasamuka langsung dilaksanakan oleh prajuritnya. Ribuan prajurit pun menyebar di permukaan bumi, untuk mencari keberadaan Dea, yang disinyalir telah menporak-porandakan pasukan dari Angkara.


Saat perintah itu mulai dijalankan oleh para prajurit Angkara, banyak di antara para penduduk bumi yang ketakutan saat itu. Karena prajurit Dasamuka tak segan-segan menampakkan dirinya di hadapan manusia. kekesalan mereka membuat para manusia banyak yang terluka dan bahkan ada yang jadi korban.


Malam itu, angin berhembus sangat kencang sekali. Disertai suara gemuruh, kilat menyambar dan petir pun bergelegar. Kemurkaan Dasamuka membuat bumi terguncang.


Seluruh masyarakat, yang berada di sekitar rumah Kemuning dan rumah Pandan wangi, merasakan betapa ngerinya suasana malam itu.


"Ada apa Ma?" tanya Dea pada Pandan wangi.


"Entahlah sayang, sepertinya angin berhembus sangat kencang sekali. Mama jadi sedikit takut menghadapi semua ini."


"Mama nggak perlu khawatir, ini hanyalah gejolak alam biasa, sebentar lagi juga reda kok Ma," ujar Dea menenangkan hati Pandan wangi.


Di saat Pandan wangi telah masuk ke dalam, Dea mencoba menyibak gorden jendela rumahnya. matanya yang jeli menatap tajam ke atas langit. Ketika itu, dia melihat jelas banyak pasukan berbulu tebal turun ke bumi.


"Ya ampun, itu pasti pasukan dari Angkara. Kenapa mereka turun ke bumi? apa mungkin mereka diperintahkan oleh raja Dasamuka untuk mencari keberadaan ku?" tanya Dea pada dirinya sendiri.


"Dea sayang masuklah nak!" ajak Pandan wangi pada putrinya.


"Baik Ma," jawab Dea mengikuti perintah Mamanya.


"Mama yakin, ini bukan gejolak alam biasa nak, pasti ada yang tak beres terjadi di jagat raya saat ini. Jujurlah sayang, apa yang telah kau lakukan seharian ini, sehingga kau terlambat pulang ke rumah nak?"


"Aku tadi dipanggil Papa Ma, kami semua berperang melawan pasukan raja Dasamuka yang ingin menguasai sebagian kekuasaan Papa."

__ADS_1


Kau berperang melawan pasukan Dasamuka? pasukan apa itu sayang?" tanya Pandan wangi tak mengerti.


"Jika pun aku menjelaskan, Mama takkan pernah mengerti. Karena ini, menyangkut kerajaan di jagat raya."


"Ceritalah sayang? Mama ingin mendengar semuanya. Apa saja yang telah kau lakukan selama berada di Nirwana."


"Sebenarnya kerajaan Parahyangan, yang dipimpin oleh Papa, memiliki musuh bebuyutan yaitu raja Dasamuka, dari Angkara."


"Kenapa mereka menjadi musuh bebuyutan?"


"Aku kurang mengerti Ma, tapi setahuku, Dasamuka adalah raja genderuwo yang ganas dan kejam. Saat ini, dia telah melahirkan putrinya di bumi yang bernama Ara."


"Lalu, apa urusannya dengan kamu nak?"


"Aku telah menghabisi pasukannya, tadi kami berperang habis-habisan. Karena pasukan raja Dasamuka ingin merebut wilayah kekuasaan Papa di sebelah utara."


"Jadi kau pergi diam-diam, tanpa sepengetahuan Mama?"


"Maafkan aku Ma, aku terpaksa melakukannya. Sebab, jika aku minta izin pada Mama, Mama pasti nggak akan mengabulkannya."


"Kata siapa sayang. Buktinya apa saja kegiatanmu, Mama ikut mendukung kok. Mama nggak pernah melarang. Kalau kau ingin selamat berada di medan perang, maka minta izin dan restu kepada Mama, sebelum kau berangkat ke sana. Karena doa Mama, akan selalu menyertai anak yang sholeh sepertimu."


"Bagus. Jangan pergi secara diam-diam, karena doa seorang ibu cepat diijabah oleh Allah sayang."


"Iya Ma, aku minta maaf pada Mama, atas kelalaian dan kesalahan yang telah aku lakukan."


"Mama udah memaafkan kamu kok," jawab Pandan wangi seraya tersenyum lebar.


Tak terasa, waktu terus berlalu meninggalkan masa yang telah lewat. Mencapai angan yang belum tersampaikan. Seiring dengan itu, Ara dan Dea tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sehat.


Ara yang waktu itu lebih tua dari Dea, dia sekolah setingkat lebih tinggi dari Dea.


Malam itu, Dea tampak melakukan semedi di kamarnya. Mata batinnya sedang menuju ke suatu arah, yang sangat jauh sekali. Dari kegelapan malam itu, Ara melihat sekelebat bayang hitam datang menghampirinya.


"Kami dari pasukan raja Dasamuka, akan membalas semua perbuatanmu, terhadap pasukan Angkara."

__ADS_1


"Kau mengancamku? siapa kau yang berani mengancamku. Katakan pada rajamu, aku tak pernah gentar menghadapi prajuritmu, meski kalian banyak tapi kami tetap berjuang untuk menegakkan keadilan di seluruh jagat raya.


"Sekarang pergilah dari hadapan ku dan jangan pernah datang lagi. Karena jika ketahuan oleh raja Askara maka, bukan hanya kesedihan yang kau dapat, kau juga akan mengalami kemalangan yang sangat luar biasa.


"Aku mengingatkanmu, bahwa raja Dasamuka tak pernah main-main dengan ancamannya."


"Katakan pada rajamu, aku tak pernah takut menghadapi prajuritnya."


Setelah Dea selesai bicara, makhluk itu langsung menghilang dari hadapan nya. Samar-samar, dari dalam kamarnya. Pandan wangi mendengar percakapan putrinya dengan seseorang.


Rasa ingin tahu, mendorongnya untuk datang ke kamar Dea putrinya.


"Kamu sedang bicara dengan siapa Nak?" tanya Pandan wangi ingin tahu.


"Aku sedang bicara dengan prajurit dari Angkara Ma," jawab Dea dengan tenang.


"Apa yang dia katakan padamu sayang?"


"Mereka akan melakukan balas dendam, atas perbuatanku yang telah menghabisi begitu banyak prajurit Angkara."


"Emangnya pasukan Angkara itu seperti apa nak?" tanya Pandan wangi ingin tahu.


"Mereka itu sejenis genderuwo Ma," jawab dia pelan.


"Berarti nyawamu sedang terancam saat ini sayang."


"Tak ada yang mengancam nyawa aku Ma, aku nggak akan gentar melawan mereka, apalagi takut. Aku akan hadapi mereka semua di medan perang nantinya."


"Kamu jangan gegabah nak, mereka itu pasukan yang cukup kuat. Kau bisa binasa di tangan mereka."


"Tenanglah Ma, pasukan Parahyangan lebih tangguh dari mereka Ma, pasukanku tak pernah gentar melawan ke angkaramurkaan."


Mendengar jawaban dari putrinya, Pandan wangi tak bisa berbuat apa-apa. Karena tugas yang diembankan kepadanya, merupakan kewajiban yang harus dijalani, tanpa ada penolakan dan tawar-menawar diantara mereka.


Pandan wangi juga harus siap, menerima resiko apapun yang akan dialami oleh Putri tercintanya.

__ADS_1


Bersambung...


*selamat membaca*


__ADS_2