
"Maaf aku nggak bisa menjelaskannya. Sebab, jika aku bicara pasti Ara merasa tersakiti. Jadi cobalah kalian untuk mengerti."
"Nggak bisa gitu dong, Dea. Kami harus mendapatkan penjelasan yang valid dari mu, baru kami paham, kenapa kamu melarang kami untuk melawan Ara."
" Aku hanya bisa bicara seperti itu, nggak lebih," jawab Dea.
"Kalau memang itu merupakan rahasia, kalian nggak boleh mengungkit nya lagi. Karena bisa berbahaya buat Dea. Jadi, Bapaknya hanya sekedar memberi tahu, apa yang dikatakan Dea itu, merupakan pelajaran untuk kita."
"Nah untuk itu, mari kita lanjutkan pelajaran kita kembali."
"Baik Pak!" jawab seluruh siswa serentak.
Proses belajar mengajar, kembali dilanjutkan. Siswa tampak mendengarkan, apa yang diterangkan oleh guru mereka di depan kelas.
"Suasana tampak hening disaat Ara pergi. Setelah mereka semua menunggu kedatangan Ara, gadis cantik itu tak pernah lagi kembali ke kelas tersebut.
Tak berapa lama kemudian, bel sekolah pun berdering. Tanda waktu pulang sekolah telah tiba. Seluruh siswa dan siswi mengemasi peralatan sekolah mereka dan memasukkannya ke dalam tas mereka masing-masing.
Ketika kelas telah kosong, barulah Ara masuk untuk mengambil tasnya. Hal itu dilihat oleh Dea, yang masih berada di depan pintu gerbang. Seraya menunggu kedatangan Mamanya.
"Tadi kamu kemana Ara?" tanya Dea.
"Itu urusanku, kau nggak usah ikut campur!" jawab Ara ketus.
"Lho, kok kau marah!"
"Udahlah Dea, nggak usah cari perhatian gitu. Aku tahu kok, siapa kau yang sebenarnya?"
"O ya, emangnya siapa aku?" tanya Dea black black kan."
"Kau juga sama dengan aku bukan, Ayahmu adalah raja Askara yang berasal dari parahyangan. sementara aku putri dari raja Dasamuka, penguasa angkara."
"Terus kenapa, kalau aku berasal dari parahyangan. Apakah ada masalah dengan mu?"
"Masalah sih nggak ada! hanya saja kita sama-sama berasal dari luar angkasa. Kita adalah penguasa dari kerajaan yang berbeda. Di bumi kita hanya menumpang, karena ibu kita berasal dari bumi. Lalu kenapa kau begitu angkuh dan sombong Dea!"
" Itu bedanya, kau dengan aku, Ara," jawab Dea.
"Apanya yang beda, kita sama-sama dari luar. Kau makhluk ghaib, aku juga makhluk ghaib."
"Nggak Ara, aku memang makhluk ghaib. Tapi aku makhluk suci. Sementara kau, berasal dari makhluk yang jahat."
__ADS_1
"Kau kurang ajar Dea, akan ku balas kau nanti," ujar Ara kesal.
Mendengar ucapan Ara, Dea hanya diam saja. Sebenarnya Dea tak ingin menyakiti hati Ara, tapi untuk sekali-kali. Ara harus diberi pelajaran, agar dia tidak berlaku semena-mena terhadap orang lain.
Mesti Ara marah dan menjauhi Dea, namun gadis itu, tetap menghampirinya dan meminta maaf atas kesalahannya.
"Maafkan aku Ara, tadi aku begitu kasar bicara padamu. Kau mau memaafkan aku kan?" tanya Dea dengan suara lembut.
"Baiklah, aku telah memaafkanmu."
"Kalau begitu, mari kita sama-sama pulang!" ajak Dea, yang kebetulan Mamanya sudah datang menjemput.
"Ayo, kita barengan!" ajak Dea pada Ara.
"Nggak usah, sebentar lagi Mama juga datang menjemput ku, kok."
"Ya sudah, aku duluan ya."
"Ok," jawab Ara singkat.
Setelah Dea pergi, mobil Kemuning pun datang untuk menjemput Ara, yang saat itu masih menunggu di depan gerbang sekolah.
"Nggak Ma, Ara baru saja datang!"
,"Oh syukurlah, berarti Mama nggak terlambat kan?"
"Nggak Ma, Mama nggak perlu kuatir. Mama tenang aja, Ara akan tunggu Mama sampai datang kok."
"Anak pintar, makasih ya sayang atas pengertiannya."
"Sama-sama Ma," jawab Ara, seraya masuk ke dalam mobil.
Seperti biasa, di dalam mobil Ara tampak diam. Tak sepatah kata pun yang mereka ucapkan, sampai mereka tiba di rumah.
Malam itu, malam bulan purnama. Seperti biasa, Ara kembali menggerakkan boneka darah miliknya. untuk mencarikan majikannya tumbal. agar tubuh gadis itu tetap sehat dan memiliki tenaga yang kuat.
"Cari dan bunuh gadis yang bernama Dea. Jika kau tak sanggup melawannya, bunuh Ibunya atau Neneknya atau siapa saja yang berada di dalam rumah itu!" perintah Ara pada boneka darah miliknya.
"Maafkan aku yang mulia Ratu, sepertinya keluarga itu tak bisa aku masuki!"
"Kenapa, kau takut ya?"
__ADS_1
"Mereka orang alim yang mulia. Nenek dan Ibunya, taat sekali beribadah. Sementara Dea, putri satu-satunya itu juga taat beribadah. Bukan hanya itu saja, Ayahnya adalah seorang raja dari Nirwana. Maafkan saya yang mulia Ratu, saya nggak sanggup memasuki rumah itu."
"Dasar bodoh! kau bisa cari celah lain bukan, agar kau bisa masuk ke dalam rumah itu!"
"Rumah itu telah mereka beri rajah gaib, sehingga kami tak bisa memasuki rumah tersebut."
"Dasar makhluk tak berguna! pergi kau, cari cepat keluarga Dea dan habis itu dia!"
"Maaf yang mulia Ratu, aku tak berani!"
"Dasar pengecut kau! masa kau nggak berani dengan anak gadis, Nenek-Nenek dan seorang Ibu yang sudah tua!"
"Bukan itu masalahnya yang mulia Ratu,
yang mulia Ratu tahu sendiri bukan, kalau Ayah dari Dea, dia juga seorang raja di kerajaan Nirwana. Jika dia mengerahkan anak buahnya untuk menghabisi aku maka lenyaplah aku untuk selama-lamanya."
"Mendengar jawaban dari boneka darah miliknya, hati Ara benar-benar sakit. Lalu, dilemparkannya boneka itu, sejauh-jauh mungkin dan dia pun menangis histeris di dalam kamarnya.
"Ada apa sayang!" ujar Dasamuka yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat putrinya Ara.
"Boneka ku Ayah, boneka ku sudah mulai membantah perintahku. Dia tak mau ku suruh untuk membunuh Dea dan keluarganya. Aku ingin menikmati darah segar dari gadis yang selalu menentangku itu."
"Tidak putriku, Dea bukan tandinganmu. Kau bisa cari tumbal yang lain, tapi jangan Putri Askara. Jika kau membunuhnya, maka kerajaan Ayah akan hancur sayang!"
"Ayah bantu aku dong! cari tahu, bagaimana caranya agar aku bisa membunuh perempuan itu dan keluarganya. Aku nggak mau tahu Ayah, saat ini aku sudah haus sekali!"
"Kau keras kepala Ara, kalau Ayah sudah bilang, jangan kau bantah. Karena Ayah tidak suka mendengar bantahan dari bawahan termasuk kau putriku!"
Mendengar ucapan Dasamuka, darah Ara langsung mendidih. Dia begitu kesal karena Dasamuka tak mau membantunya untuk membunuh Dea.
Ara tampak duduk sendiri di dalam kamarnya. Saat itu hatinya terasa begitu sakit, karena permintaannya tak mendapat restu dari Ayahnya raja Dasamuka.
Di saat mereka sedang bicara berdua, lalu Kemuning datang dan masuk ke dalam kamar Ara, disaat itu dia melihat wajah Danu sedang bersama dengan putrinya.
"Kau, kenapa kesini. Bukankah aku sudah katakan, kau nggak ada urusan lagi di bumi ini."
" Kau salah kemuning, justru Ara adalah tempat aku berpulang ke bumi, kapan saja aku menginginkannya," jawab Dasamuka.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1