AraDea

AraDea
Part 105 Niat jahat Tuti


__ADS_3

"Cepat lakukan, jangan buat aku resah untuk menunggu!" bentak Askara pada tabib istana tersebut.


Mendengar perintah dari sang raja, nyali tabib istana menjadi ciut. Dia pun bekerja dalam tekanan dan rasa takut, akan hukuman yang akan menimpanya nanti. Jika saja mereka semua gagal dalam melakukan pekerjaannya.


Berbagai macam obat, telah diramu dan diminumkan kepada Dea, namun gadis itu tak kunjung sadarkan diri. Bahkan dia, mengalami muntah darah, akibat luka dalam yang sangat parah.


"Bagaimana ini, kita bisa dihabisi oleh yang mulia raja nantinya, jika ketahuan putrinya semakin parah."


Melihat kondisi Dea yang semakin parah, kelima orang tabib tersebut langsung keluar dari kamar Dea. Ketika melihat kelima orang tabib itu keluar dari kamar Dea, raja Askara langsung menghampirinya.


"Gimana, apakah sudah ada perubahan pada putriku, tabib?" tanya raja Askara.


"Ampun kan kami yang mulia, kami tak ada yang mampu mengobati luka dalam, yang diderita oleh putri yang mulia."


"Aaah...! bodoh kalian semua! prajurit, tangkap kelima tabib ini dan serat ke dalam penjara, jangan diberi dia makan selama seminggu," perintah raja Askara pada beberapa orang prajuritnya.


"Bang, kenapa kau lakukan itu! semua itu bukan salah tabib istana. Lalu kenapa kau menghukum mereka semua. Jika mereka kau hukum, kesempatan untuk hidup bagi putrimu itu sangat tipis. Karena hanya mereka, yang mampu mengobati luka dalam yang diderita oleh Dea."


"Tapi mereka berlima itu, tidak becus Pandan. Mereka harus dihukum sesuai dengan peraturan istana."


"Tidak! tak seorangpun yang boleh dihukum. Demi nyawa seseorang, kau menyakiti orang lain. Raja macam apa, yang tega menyiksa seluruh prajurit dan rakyatnya, hanya demi kesembuhan putrinya sendiri."


"Tapi itu semua tugasnya, Pandan wangi. Jika dia tak sanggup mengobati, jangan jadi tabib, jadilah rakyat biasa."


"Tidak semudah itu Bang. Seorang tabib, dia terpaksa menjadi tabib, mungkin karena mereka butuh pekerjaan itu, untuk kebutuhan diri dan keluarga nya."


"Itu bukan urusanmu Pandan wangi, tugasmu hanya menjaga putriku Dea, dari gangguan makhluk yang ingin berbuat jahat kepadanya."


"Untuk apa aku mesti menjaganya. Bukankah ilmu putrimu lebih hebat, sedangkan aku tidak punya apapun, untuk membela diri. Jika saja ada seseorang yang ingin mencelakaiku maka tamatlah aku."

__ADS_1


"Itu kesalahanmu Pandan wangi, kenapa kau menolak untuk tinggal di Parahyangan. Bagiku, istana Parahyangan lebih aman untukmu dan untuk Putri kita."


"Kau lupa satu hal Bang, aku ini manusia. Aku punya kebutuhan di bumi, karena ini adalah tempat kelahiran kami. Kami tidak bisa tinggal di planet lain, apalagi bangsa jin tidak membutuhkan apapun."


"Tapi kerajaanku, sanggup menyediakan apa saja kebutuhan kalian selama di sana. Kenapa kalian tidak mau mengikuti perintahku."


"Prajuritmu dapat makanan dari mana? apa pernah mereka memasak. Bukankah yang kau harapkan dariku hanyalah seorang keturunan, nah hal itu telah kau dapatkan, untuk itu jangan pernah kau memaksa aku untuk tinggal di Nirwana."


"Tidak Pandan wangi, selamanya kau tetap menjadi ratu kerajaan Parahyangan. tak akan ku izinkan seorang manusia pun menjadi suamimu."


"Aku nggak pernah mencari suami lagi. Saat ini, cukup aku hidup bersama putriku dan aku tidak butuh apapun lagi."


"Jangan bicara seperti itu Pandan, kerajaan Parahyangan sangat membutuhkan seorang Ratu yang baik seperti dirimu dan untuk selamanya kau akan tetap menjadi ratu kerajaan Parahyangan."


Mendengar ucapan suaminya, Pandan wangi hanya diam saja. Sementara itu, Yeni yang melihat mereka berdua sedang bicara, dia hanya bisa geleng kepala. Karena selama ini, Yeni begitu tahu penderitaan yang dirasakan oleh putrinya itu. Hidup sendiri, tanpa ada suami di sampingnya selama bertahun-tahun.


Mesti demikian, sebenarnya Pandan wangi tidak mempersoalkan hal itu. Namun, jika Askara tetap menuntut tanggung jawab yang besar terhadap dirinya, maka Pandan wangi merasa tersinggung dan marah.


Di saat bersamaan, tanpa sengaja Tuti melihat beberapa orang keluar masuk ke dalam rumah itu. Yang membuat Tuti menjadi heran, setiap orang yang masuk ke rumah itu dia menghilang ketika hendak memasuki rumah tersebut. Padahal pintu rumah itu tertutup dengan rapat.


Lama Tuti memperhatikan, namun hal itu berlangsung secara berulang-ulang kali. mereka datang dan pergi, sementara pintu tertutup tanpa ada celah sedikitpun.


"Aneh sekali, siapa mereka semua? kenapa mereka bisa masuk ke dalam rumah itu, dalam keadaan pintu tertutup?" tanya Tuti pada dirinya sendiri.


Merasa penasaran, dengan pelan Tuti langsung menghampiri rumah Pandan wangi. Dengan cara mengendap mengendap, Tuti mengintip dari balik tembok rumahnya.


"Ternyata dia tidak salah lihat, karena benar. Banyak orang yang keluar masuk dari rumah itu, sementara pintu tertutup dengan rapat. Mereka menghilang ketika masuk dan tiba-tiba saja, mereka muncul setelah berada di luar.


"Aneh, siapa sebenarnya mereka itu? seperti hantu yang bergentayangan, bisa masuk di saat angin bisa lewat."

__ADS_1


Di saat itu, timbul ide gila di kepala Tuti. Rencananya, dia ingin menceritakan semua kejadian itu kepada Ibu-ibu yang berada di pondok ronda, karena di sanalah tempat Tuti menceritakan aib orang lain, bersama para Ibu-ibu, yang hobi menggunjingkan orang.


"Hm...! aku mesti ceritakan hal ini, pada Ibu-ibu di pondok ronda. Tapi gimana caranya, aku menceritakannya ya? kan aku nggak bisa ngomong. Aduh, ini semua gara-gara Pandan wangi, perempuan sialan itu. Gara-gara dia, aku nggak bisa ngomong sampai sekarang. Awas kau Pandan, akan kubuat hidupmu menderita," gerutu Tuti seraya mengepal tangannya.


Di saat itu, tiba-tiba saja muncul ide baru di kepala Tuti. Lalu dia bergegas meninggalkan rumahnya menuju pondok, untuk mengajak seluruh Ibu-ibu yang saat itu sedang berada di pondok, mengintip keadaan di rumah Pandan wangi.


"Hah... aak..ak..!"


"Kau sedang bicara apa sih Tuti?" tanya Bu Yola pada Tuti, yang saat itu hendak bicara sesuatu pada mereka.


"Tuti ini udah jelas nggak bisa ngomong tapi semangat untuk menceritakan keburukan orang lain kepada kita sangat kuat sekali."


"Uwuh.. Hmm.."


"Apa sih Tuti, kamu itu mau bicara apa? kami nggak mengerti," jawab Dewi yang saat itu semakin merasa bingung.


Merasa tak mendapat jawaban yang sempurna, akhirnya Tuti langsung menarik tangan Dewi, menuju rumah nya.


"Sebenarnya kita ini, mau ke mana sih Tuti?" tanya Dewi penasaran.


Mesti terdengar jelas di telinga Tuti, namun perempuan itu tidak memperdulikannya. Dia tetap saja menarik tangan Dewi, menuju rumah Pandan wangi.


"Kau mau menceritakan, Pandan wangi ke kami?" tanya Dewi ingin tahu.


"Huuh...!" jawab Tuti seraya menganggukkan kepalanya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


"


__ADS_2