
“Boleh saya mengikutinya?”
“Ya, silahkan Bu,” jawab Rizal dengan suara lembut.
Di saat ketiga melintasi ruang majelis guru, tanpa sengaja Nuri melihat mereka. Nuri yang telah menerima uang ganti rugi dari Kemuning merasa tak tenang ketika melihat hal itu.
Nuri pun langsung berlari keluar ruangan, dia merasa takut sekali, kalau kepala sekolah sampai tahu tentang penipuan yang telah dia lakukan, dengan cepat Nuri memanggil Rizal dari kejauhan.
Karena jarak mereka agak sedikit jauh, sehingga Rizal tak mendengar panggilan Nuri yang begitu keras dan kuat.
“Oh, kacau, kalau sampai Pak kepala tahu hal ini, pasti tamatlah karirku sebagai seorang guru yang sudah puluhan tahun mengajar disini,” gumam Nuri dengan nada cemas.
Karena Rizal tak mendengar panggilannya, Nuri pun kembali kedalam ruangannya, lalu dia menghitung lembaran uang kertas yang di berikan Kemuning padanya.
“Ya ampun! banyak sekali, ternyata semuanya ada dua juta rupiah. Aduh gimana ini, kalau Ibu Ara melaporkan hal ini ke kepala sekolah, pasti aku bisa di pecat dari tugas ku sebagai seorang guru.”
Merasa tak tenang, lalu Nuri keluar dari ruangan majelis guru dan pergi menghampiri kantor kepala sekolah.
Dengan pelan, sekilas Nuri mendengar kalau di dalam, kepala sekolah membahas hal yang menyangkut kelakuan Ara di dalam kelas.
“Kacau, kepala sekolah telah mengetahui kejadian ini,” ucap Nuri di dalam hatinya.
Tak ingin mengambil resiko yang begitu berat, Nuri pun langsung mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.
“Tok, tok, tok.”
Mendengar suara pintu di ketuk dari luar, mereka berempat pun saling beradu pandang, di saat itu kepala sekolah mempersilahkan yang mengetuk pintu untuk masuk.
Dengan langkah pelan Nuri mulai menampakkan wajahnya di hadapan mereka berempat dan berjalan menghampiri kepala sekolah dan yang lainnya, sementara Rizal dan Kemuning memandangi Nuri dengan penuh tanda tanya.
“Ada apa?” tanya kepala sekolah heran.
“Maaf Pak, saya belum sempat melaporkan hal ini ke Bapak, sebenarnya Ibu ini, telah membayar uang ganti rugi tentang meja yang di pecahkan oleh Ara putrinya.”
“Tapi tadi..?” Rizal bermaksud untuk bicara.
Belum selesai Rizal melanjutkan perkataannya, kepala sekolah langsung mempertanyakan ucapannya Nuri yang terputus oleh Rizal.
“Berapa Ibu ini, mengganti uang kerugiannya, Bu Nuri?”
“Dua juta Pak,” jawab Nuri pelan.
“Dua juta, kenapa banyak sekali. Bukankah Ibu tahu sendirikan, kalau harga meja itu tak sebanyak itu.
“Maaf Pak, saya kurang jelas berapa harga sebuah meja saat ini,” jawab Nuri menutupi kesalahannya.
“Ya sudah, kamu boleh pergi!” ujar kepala sekolah.
Mendengar kepala sekolah menyuruhnya keluar, Nuri pun langsung keluar. Setelah menaruh lembaran uang dua juta itu di atas meja kepala sekolah.
__ADS_1
Sedangkan Ara yang melihat ada yang tak beres pada Nuri, dia pun tak segan-segan membongkar kedok Nuri dihadapan yang lainnya.
“Ooo, ternyata Bu Nuri, berniat untuk memakan uang itu sendirian, untung Pak Rizal melaporkan hal ini ke kepala sekolah, kalau nggak pasti Bu Nuri nggak akan mengembalikannya.”
Mendengar jawaban dari Ara, semuanya terperangah heran, pasalnya Ara yang masih berusia tujuh tahun bisa bicara seperti itu terhadap orang lain.
“Kok kamu tahu, kalau Bu Nuri berencana mau menggelapkan uang.”
“Buktinya aja, Bu Nuri mengabarinya setelah Pak Rizal melaporkannya ke kepala sekolah.”
Mendengar penjelasan dari Ara, kepala sekolah langsung memanggil kembali Nuri yang saat itu masih berada di dalam ruangannya.
“Celaka aku!” gerutu Nuri ketakutan.
“Benar itu Bu?” tanya kepala sekolah pada Nuri yang hendak meninggalkan ruangannya.
Karena kepala sekolah melontarkan pertanyaan kepada dirinya, Nuri langsung menghentikan langkah kakinya, perasaan takut tampak menghantui dirinya yang sudah sedikit menjauh. Lalu dengan pelan Nuri mencoba membalikan tubuhnya.
“Nggak Pak, bukan begitu tujuan saya.”
“Tapi Ara bilang begitu tadi.”
“Dia itu kan masih anak-anak Pak, jadi dia nggak akan mengerti akan hal ini.”
“Ara mengerti kok, bahkan Ara juga tahu pesan Mama pada Bu Nuri.”
Nuri yang mendengar ucapan Ara, tubuhnya terasa gemetar, perasaan takut muncul seketika membayangi dirinya yang telah ketahuan berbuat culas.
“Benar itu, Bu Nuri?” tanya kepala sekolah ingin tahu.
“Ara benar Pak, rencananya tadi emang begitu, tapi aku sadar, nggak baik berbuat demikian. Itu sebabnya aku datang ke sini menemui Bapak.”
“Itu pun Bu Nuri masih berbohong!”
“Ssst, Ara nggak baik bicara lagi, kasihan kita sama Bu Nuri, nanti dia bisa dimarahi kepala sekolah, lagian Bu Nuri kan udah mengembalikan uang Mama dan mengakui semua kesalahannya.”
“Ya udah, kalau Mama melarang, Ara akan menurutinya,” jawab Ara yang langsung turun dari bangku tempat duduknya.
Melihat sikap Ara itu, kepala sekolah dan yang lainnya menjadi tertegun sejenak. Kepala sekolah tak menyangka, kalau muridnya punya kebiasaan luar biasa.
“Kalau begitu, boleh saya keluar Pak?” tanya Kemuning dengan suara lembut.
“Oh, ya. silahkan Bu.”
“Terimakasih, Pak,” jawab Kemuning seraya bergegas keluar dari ruangan kantor kepala sekolah.
Setibanya di luar Kemuning langsung menggandeng tangan Ara, dan mengajaknya untuk segera pulang kerumahnya.
“Kita pulang aja yuk sayang,” ajak Kemuning pada putri kecilnya itu.
__ADS_1
“Kenapa harus pulang sih Ma?” tanya Ara heran.
“Rasanya Mama mulai nggak cocok dengan sekolah mu ini.”
“Kenapa?”
“Karena gurunya, nggak ada yang jujur.”
“Siapa bilang nggak ada yang jujur Ma, buktinya Pak Rizal itu, orangnya baik kok.”
“Kalau Pak Rizal baik, kenapa Ara bermasalah dengannya nak.”
“Ara cuma ingin bercanda aja kok, Ma.”
“Bercanda?”
“Iya, Ma.”
“Apanya yang bercanda sayang, Mama ini serius lho.”
“Mama tahu nggak, kalau yang mencolek pinggangnya Yuni itu, emang Ara Ma.”
“Jadi, benar Ara yang melakukan semua itu?”
“Iya, Ma.”
“Astagfirullah nak! kenapa Ara melakukan semua itu?”
“Ara cuma bercanda kok, Ma.”
“Ara tahu nggak, gara-gara kelakuan Ara tadi, Mama sampai mengeluarkan uang dua juta untuk mengganti meja yang telah Ara pecahkan.”
“Salah Mama dih, kenapa Mama ngasih uangnya terlalu banyak,” jawab Ara dengan santainya.
“Kalau Mama nggak ngasih uang banyak ke Ibu guru tadi, kasus Ara mungkin udah di perpanjang oleh kepala sekolah.”
“Mama yakin, kalau kasus Ara akan di perpanjang, kalau Mama nggak ngasih uang.”
“Iya sayang.”
“Berati Mama benar, sekolah Ara pasti sekolah orang jahat.”
“Besok kita cari sekolah baru aja sayang. lagian orang udah pada tahu, kalau Ara itu punya kelebihan.”
“Biarkan aja, kenapa Mama mesti takut.”
“Mama nggak takut sayang, hanya saja Mama nggak mau nyarik masalah dengan orang lain,” jawab Kemuning berkilah.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*