AraDea

AraDea
Part 43 Mimpi buruk


__ADS_3

"Sekarang kembalilah ke bumi, tugasmu hanya memperhatikan gerak-gerik keluarga Kemuning dan Ara putrinya."


"Baik yang mulia raja, perintah yang mulia, akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya."


"Ingat putriku, bersikaplah biasa-biasa saja. Jangan perlihatkan, kalau kau sedang melaksanakan tugasku."


"Baik yang mulia raja, titah yang mulia, akan segera saya laksanakan. Untuk itu, saya mohon diri untuk kembali ke bumi."


"Silakan putriku, informasi darimu akan ditunggu."


"Baik yang mulia raja."


Setelah berpamitan dengan Askara, Dea langsung turun ke bumi. Dia duduk di kamarnya sembari berpikir mencari cara, bagaimana agar dia bisa bertemu dengan Ara setiap hari.


Di saat Dea sedang berpikir, lalu Pandan wangi masuk ke dalam kamar Putrinya. Seraya berbisik pelan ke telinga Putri kecilnya itu.


"Mama dapat cara agar kau bisa bertemu dengan Ara setiap saat. Dea kau harus pindah sekolah."


"Mama!" ujar Dea kaget.


"Iya sayang."


"Mama tahu dari mana, kalau aku ditugaskan untuk mengikuti Ara?" tanya Dea heran.


"Nggak perlu kau tanyakan sayang. Mama tahu apa saja tugas yang diberikan Papa kepadamu."


"Bukankah kau mendapat tugas menyelidiki keberadaan Ara?"


"Benar Ma, aku harus tahu kelebihan dan kekurangan gadis itu."


"Baiklah, besok kau ikuti Ara dari belakang, ketika dia pergi ke sekolah."


"Baik Ma, ide cemerlang," jawab Dea senang.


"Nah sekarang tidurlah dengan nyenyak, besok pagi kau harus cepat bangun, untuk mengikuti di mana Ara bersekolah."


"Baik Ma, perintah siap dilaksanakan!"


"Ini bukan di kerajaan Papamu sayang," ucap Pandan bercanda.


"Mama!" jawab gadis kecil itu, seraya memeluk tubuh Pandan wangi.

__ADS_1


"Nah, sekarang tidurlah. Jangan lupa baca do'a, agar tidurmu tidak diganggu oleh makhluk yang ingin mengganggumu."


"Baik Ma."


Setelah Dea selesai bicara dengan pandan, dia pun langsung memejamkan matanya. Sementara itu, Pandan wangi segera mempersiapkan alat sekolah Dea, karena besok pagi dia sudah berangkat.


Ketika pandan selesai mempersiapkan alat sekolah putrinya, dia pun meninggalkan kamar Dea dan kembali ke ruang tengah. Seraya duduk di ruang tengah, Padan tampak gelisah sekali. Yeni yang melihat putrinya gelisah langsung menghampirinya.


"Ada masalah apa sayang, kenapa kau terlihat begitu gelisah?"


"Dea Bu, kali ini dia mendapat tugas lagi dari Papanya. Untuk menyelidiki keberadaan Putri Kemuning. Rasanya semakin hari aku semakin tak tenang Bu. Karena Dea selalu mendapat tugas yang berat, yang membuat jantungku tak berhenti berdebar."


"Yang sabar sayang, kita hanya bisa berdo'a untuk keselamatannya. Semoga kau jangan pernah berhenti beribadah dan mohon perlindungan kepada Allah untuk putrimu."


"Tapi Bu, kapan tugas ini akan berakhir membebani pundak putriku. Aku nggak tenang di rumah Bu, aku gelisah setiap dia menjauh dariku."


"Sayang, itu resiko yang harus kau terima. Dahulu, sebelum Askara menikah dengan mu, kalian sudah membuat perjanjian. Bukankah perjanjian itu pun kau sanggupi? Ibu masih ingat, saat itu dia ingin mencari seorang istri, untuk menitipkan pewarisnya di rahimmu. Kelak dia akan menjadi pembela kerajaannya."


"Iya, aku masih ingat itu Bu."


"Lalu, apalagi yang membuatmu gelisah?"


"Sekarang tugas yang diberikan suamimu itu, telah diemban oleh putrimu. Tugasmu hanyalah berdoa untuk keselamatannya."


"Apakah menurut Ibu, Dea sanggup menjalankan semua perintah yang berat itu?"


"Putriku Pandan wangi. Dea itu bukan gadis biasa nak. Dia itu keturunan dari bangsa jin. Kekuatan dan keahliannya jauh di atas kepandaian manusia biasa. Jadi kau nggak perlu kuatir dengan tugas yang dibebankan kepadanya."


Mendengar nasehat dari ibunya, Pandan wangi merasa sedikit lega. Karena saat itu, pandan tidak sendiri, ada ibunya yang selalu mendukung, segala yang dilakukan oleh keluarga kecil itu.


Malam itu. Purnama sedang bersinar di langit. Tubuh Dea tampak gemetar. Pandan yang melihat putrinya seperti sedang menahan rasa sakit, dia pun mencoba untuk membangunkannya dari tidur.


"Dea kamu kenapa sayang?" tanya Pandan wangi heran.


Di saat mendengar suara mamanya, Dea langsung terbangun dari tidur. Keringat dingin tampak membasahi seluruh tubuh gadis kecil itu.


"Ada apa sayang, kau mimpi nak?"


"Benar Ma, aku melihat ada boneka keluar dari rumah seseorang. Tapi aku nggak tahu, dari rumah siapa boneka itu keluar."


"Emangnya, kenapa dengan boneka itu nak?" tanya Pandan wangi ingin tahu.

__ADS_1


"Aku belum sempat melihatnya, tapi aku melihat keanehan pada boneka terbang itu. Sepertinya boneka itu, diperintah oleh seseorang, untuk mencari sesuatu."


"Apakah kau tidak melihat, kemana arah boneka itu terbang, nak?"


"Nggak Ma, karena Mama udah keburu membangunkan aku."


"Maafkan Mama sayang, Mama nggak tahu, kalau saat itu kau sedang bermimpi, sesuatu yang penting."


"Udahlah Ma, lupakan saja. Besok kita akan mengetahui, kenapa boneka itu keluar dari rumah tersebut dan siapa pula yang telah memerintahkan boneka itu."


"Semakin hari, Mama semakin kuatir, melihat tugas yang telah diembankan oleh Papamu, nak."


"Mama nggak perlu kuatir. Aku sanggup kok, melakukan semua perintah Papa."


"Tapi, besar resiko yang akan kamu hadapi sayang?"


"Resiko apapun itu, aku nggak akan pernah gentar Ma. Aku hanya butuh doa dari Mama, agar tugasku bisa diselesaikan dengan baik."


"Kau putri Mama yang tangguh Dea. Semoga saja kau selalu diberkahi kesehatan dan keselamatan oleh Allah. Selalulah beribadah nak, sembah Dia setiap saat. Jangan pernah kau meninggalkannya. Mohon perlindungan kepada Allah, agar dia selalu melindungimu."


"Terima kasih Ma, nasihat dari Mama sangat penting sekali bagiku. Aku bangga punya orang tua baik dan lembut seperti Mama, Nenek dan Papa."


"Sama-sama sayang. Kalau begitu, sebaiknya kita kembali tidur. Bukankah besok tugasmu akan kau lakukan?"


"Benar Ma," jawab Dea sembari kembali tidur.


Di saat Dea kembali tidur, mimpi yang sama datang lagi kepadanya. Ketika itu, Dea sedang berdiri, di depan sebuah rumah yang sangat mewah. Dari sudut kamar rumah tersebut, kembali Dea melihat boneka itu keluar dan melayang menuju ke suatu tempat.


"Aneh, kenapa boneka itu tak bisa ku ikuti," bisik Dea di alam batinnya.


Dengan segala kemampuannya, Dea terus berusaha, agar dapat mengikuti ke mana boneka itu pergi. Namun Dea tetap gagal, untuk dapat mengikutinya.


Ketika Dea berkonsentrasi penuh, Pandan kembali terbangun dari tidurnya. dia menyaksikan sendiri putrinya mengerang seperti sedang mengalami kesulitan.


Di saat Pandan, ingin membangunkan Dea dari mimpinya. Dia teringat pesan Dea, kalau Dea dibangunkan maka tugasnya akan berakhir buruk. Sementara buruannya akan hilang entah ke mana. Tapi, jika tidak dibangunkan, barangkali Dea dalam kesulitan.


"Ya Allah. Apa yang mesti aku lakukan, apakah aku membiarkan putriku menderita seperti ini," ujar Pandan wangi ketika melihat keringat dingin membasahi tubuh putrinya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2