
“Ada apa dengan istri mu Bondan?” tanya Suminah heran.
“Aku nggak tau Bu, tapi dia memang nggak mau melakukan acara itu.”
“Kau tau apa alasannya nak?”
“Dia juga nggak ngasih alasan apa pun pada ku, Ibu.”
Seraya menarik nafas panjang, Suminah terdiam sejenak.
“Ibu punya jalan keluarnya?” tanya Bondan ingin tau tentang reaksi Ibunya.
“Mari kita kerumah mu, Ibu ingin tau apa alasan Kemuning menolak untuk mengadakan acara tujuh bulanan dia.”
“Baik Bu,” jawab Bondan seraya mengiringi Suminah dari belakang.
Dari kejauhan, Suminah melihat Kemuning sedang menyulam baju untuk bayinya yang masih dalam kandungan.
“Eh, Ibu," ucap Kemuning ketika melihat Ibu mertuanya datang menghampirinya.
Seraya berdiri, Kemuning pun mencium tangan Ibu mertuanya, serta mempersilahkannya duduk di samping dirinya.
“Kamu lagi ngapain nduk?”
“Aku lagi menyulam pakaian untuk sikecil Bu?”
“Boleh Ibu lihat?”
“Wah! apik tenan nduk, ternyata kau pintar menyulam ya.”
“Hanya iseng kok Bu.”
“Walau iseng tapi bagus lho.”
Karena Ibunya telah duduk di sampingnya, lalu Kemuning bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat.
“Kamu nggak usah repot-repot nduk.”
Kata Suminah ketika Kemuning menaruh segelas teh hangat di depannya.
“Hanya segelas teh kok Bu.”
“Duduklah nduk, ada yang perlu Ibu omongin.”
“Ada apa toh Bu?”
“Benar kamu nolak untuk melakukan syukuran nujuh bulan mu nduk?”
“Iya, Bu!”
“Kenapa nduk, apa kamu punya alasan untuk Ibu?”
“Bu, dari pertama kehamilan ini saja, kami berdua udah merasakan banyak keganjilan dan keanehan, aku nggak mau lagi Bu, disaat acara nujuh bulannya nanti, para tetangga menemukan hal yang nggak menyenangkan mereka."
“Ooo, gitu toh alasan mu!”
“Iya, Bu.”
__ADS_1
“Tapi ini udah menjadi tradisi kita turun temurun, lho nduk.”
“Aku tau itu Bu,” jawab Kemuning dengan suara lembut.
Mendengar penjelasan Kemuning, Suminah tak dapat bicara apa-apa lagi, karena dalam alasan Kemuning, tak ada yang bisa dia bantah sedikit pun.
“Ibu sendiri, tentu nggak mau, semua orang melecehkan dan menghina kita kan Bu.”
“Iya sayang. Kalau itu udah menjadi keputusanmu, Ibu mengerti sekali,”
jawab Suminah seraya meneguk teh hangat yang ada dihadapannya.
Seraya tersenyum bahagia, Suminah langsung pergi meninggalkan Kemuning dan Bondan berdua.
Setelah Ibunya pergi, Bondan dan Kemuning langsung masuk kedalam rumahnya, karena selama kehamilan, Kemuning jarang sekali berinteraksi dengan tetangganya.
Malam itu adalah purnama kesembilan, dimana usia kandungan Kemuning, seiring dengan genapnya setiap bulan purnama. Ketika Bondan sedang asik duduk-duduk di kedai kopi, makhluk itu pun datang membelai rambut istrinya di kamar.
“Kau kah itu Bang?” tanya Kemuning ingin tau.
“Iya, sayang! aku datang untuk malam yang sangat indah ini,” jawab pria jelmaan makhluk itu.
Diatas ranjang, Kemuning menikmati rasa rindunya dengan ayah dari bayi yang ada didalam kandungannya, Kemuning yang hasratnya sedang memuncak merasa sangat bahagia sekali.
Tubuhnya yang halus dan lembut, dibelai dengan pelan oleh pria itu, desah nafas kemuning terdengar jauh keluar angkasa menembus cakrawala dunia ghaib.
“Oh!" desah Kemuning menikmati cintanya di malam itu.
Tiba-tiba saja dari luar seseorang mengetuk pintu rumahnya, dan kemuning pun bergegas membenahi pakaiannya yang sembrautan.
“Aku Kak, Dina!” jawab seorang wanita dari arah luar.
“Ada apa Dina?”
“Mas Bondan ada kak? tuh, lagi di cari Ayah?”
“Dia pergi ke warung Dina!”
“Ooo,” walau Kemuning telah mengatakan Bondan ada diwarung, tapi Dina merasakan ada hal yang aneh terjadi didalam rumah itu.
“Aneh, kok aku merasakan hawa yang nggak mengenakkan ya,” ucap Dina seraya mencoba menoleh kedalam dari celah sempit dinding rumah itu.
Di saat Dina mengintip kedalam, tampak olehnya ruang kamar Kemuning terlihat gelap, padahal hari masih pagi.
“Kenapa aku nggak melihat apa-apa ya?” tanya Dina pada dirinya sendiri.
Karena merasa tak melihat apa-apa, Dina kemudian pergi meninggalkan rumah itu, dan meninggalkan Kemuning bersama mahkluk itu di dalam kamar.
Sementara itu, Di kedai Pak Ali, Dina melihat Bondan asik bercerita dengan teman-teman sebayanya.
“Bang, apa dirumah Abang ada orang selain kak Kemuning?”
“Nggak!” jawab Bondan polos.
“Tapi aku merasakan ada seseorang di sana.”
“Ah yang benar saja kamu Din.”
__ADS_1
“Kan aku bilang perasaan, itu pun kalau benar, kalau nggak ya sudah.”
"kamu yakin Din, kalau di dalam rumah Mas, kau merasakan sesuatu?"
"Sepertinya begitu Mas," jawab Dina pelan.
“Kenapa kau kemari Din?” tanya Bondan ingin tau.
“Ayah memanggil kang Mas!”
“Ngapain?”
“Entahlah nggak ngerti aku,” jawab Dina dengan logat Bahasa jawanya yang sangat kental.
“Ya udah, pulanglah dulu, nanti Mas nyusul.”
“Baiklah,” jawab Dina seraya kembali pulang kerumahnya.
Beberapa saat kemudian, Bondan keluar dari kedai tempat dia duduk, saat hendak melangkah menuju kerumah ayahnya, tiba-tiba terdengar bisikan lembut di telinganya.
“Bondan pulanglah! istrimu hendak melahirkan.”
Di saat suara itu tak terdengar lagi, Bondan langsung merasa linglung, dan pikirannya bercabang.
“Oh, suara siapa yang telah berbisik di telinga ku tadi? apa benar Kemuning mau melahirkan?” tanya Bondan pada dirinya sendiri.
Merasa ragu untuk melanjutkan langkahnya, Bondan langsung kembali menuju rumahnya.
Sementara itu, Kemuning yang kandungannya sudah mencapai bulan kelahiran, merasa sakit di perut bagian bawah.
“Ada apa ini? apakah aku mau melahirkan?” tanya Kemuning seraya menahan rasa sakit.”
Lalu Kemuning mencoba untuk senderan sejenak, tapi rasa sakitnya terasa semakin menggigit. Tak tahan dengan rasa sakit yang teramat sangat di perutnya, Kemuning mencoba untuk rebahan seraya menggigit kain panjang yang ada disamping tubuhnya.
“Oh, Bang! tolong aku, aku nggak kuat!” rintih kemuning dalam kesendiriannya.
Di saat itu, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat di hadapan dirinya, hal itu membuat Kemuning kaget sekali.
“Aku perempuan yang di utus yang Mulia raja, untuk menolong masa persalinan bayi mu,” ujar perempuan itu.
“Oh, terimakasih.”
Seperti manusia normal lainnya, pria tampan itu pun telah berada dikepala Kemuning, guna memberikan semangat untuk istrinya dalam masa persalinannya.
“Kau bisa melahirkan dengan mudah sayang,” jawab Pria itu seraya meniupkan angin segar ke ubun-ubun Kemuning.
Benar saja, setelah pria itu meniupkan sesuatu keubun-ubun Kemuning, lalu Kemuning tak merasakan sakit lagi dan tanpa dia rasakan sama sekali ternyata bayi Kemuning telah lahir dengan selamat.
Sementara itu, perempuan yang menolong persalinan Kemuning, mengambil ari-ari bayi itu dan dimasukkan kedalam sebuah kotak.
“Ari-ari bayi mu aman bersama kami Kemuning, rawatlah bayi mu dengan selamat, kelak dia akan menjadi Ratu di kerajaan kami.”
“Baiklah,” jawab Kemuning dengan suara lembut.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1