AraDea

AraDea
Part 22 Curiga


__ADS_3

Tuti pun menangis histeris, air matanya mengalir dengan deras, rasa senangnya berubah menjadi rasa kecewa. Beribu hujatan dan sumpah serapah hanya bisa di ungkapkan di dalam hatinya.


Tuti menangis histeris karena dia tak bisa lagi membuka keburukan Pandan di hadapan semua orang. Padahal dia tahu, kalau suami Pandan itu adalah makhluk halus.


Malam itu Tuti tampak duduk tenang di depan rumahnya, tak seorang pun yang ada bersamanya saat itu, tiba-tiba saja Askara muncul dengan wajah yang sangat tampan.


“Kak..kk..kak..kk.” Tuti berusaha untuk bicara ketika dia melihat wajah Askara telah berdiri di hadapannya.


“Kenapa, kau sudah tak bisa bicara Tuti?” tanya Askara seraya menghampiri Tuti yang terlihat ketakutan.


“Kau tak akan bisa bicara, jika kau selalu punya niat menyakiti keluarga ku.”


“Ss..si..ss..ss!” ujar Tuti seraya berusaha dengan kuat untuk berbicara.


Mesti dia berusaha untuk terus bicara, namun dia tetap tak bisa. Di saat itu Askara memegang kepala Tuti dan dari matanya keluar cahaya merah menyala.


“Mulai hari ini, aku akan hapus semua ingatan mu tentang keluarga ku.”


Setelah Askara menghapus mememori yang ada di kepala Tuti tentang keluarganya dan jati dirinya sendiri, Askara pun kemudian menghilang di hadapan Tuti, sementara itu Tuti langsung tergeletak tak sadarkan diri.


Semenjak hari itu, Tuti tak lagi bisa bicara, Askara sengaja melakukan semua itu padanya, karena Tuti dapat membahayakan posisinya di hadapan masyarakat banyak di desa itu.


Tak terasa sudah waktu terus berlalu, meninggalkan kenangan yang terkadang terasa begitu menyakitkan hati, mesti demikian hal itu akan tetap di jalani, walau kita sendiri tak menginginkannya.


Di lingkungan masyarakat luas, semua orang sudah tau kalau suami Pandan bukan manusia biasa. Mesti Tuti sudah tak bisa bicara, tapi Tesa yang mengetahui kejadian itu, dia telah membeberkan pada semua orang di Desa tersebut, tentang siapa Askara yang sebenarnya.


‘Jadi, benar dong, kalau Pandan itu menikah dengan makhluk ghaib?”


“Iya, aku dan Tuti melihat dengan jelas, Pandan bicara dengan seseorang, tapi kami tak melihat dengan siapa dia bicara saat itu.”


“Kalau begitu mari kita laporkan hal ini pada Pak kades, karena lama kelamaan hal ini dapat meresahkan semua warga di lingkungan kita ini.”


“Baik, nanti siang kita semua berkumpul di pondok ronda, beritahu suami kita agar mereka ikut serta ke rumah Pak kades,” jelas Ningsih.


“Baik, mari kita pulang kerumah untuk melaporkan hal ini pada suami kita!” ajak Dewi.


Setelah kesepakatan di buat, sore itu semua warga datang beramai-ramai kerumah Pak kades, untuk memberitahukan perihal suami Pandan, yang di curigai bukan manusia.


“Pak kades! Pak kades! Pak kades!” teriak semua warga di depan rumah kepala desa tersebut.


Mendengar suara ribut-ribut di luar, Pak kades beserta istrinya langsung bergegas keluar rumah dan menghampiri semua warga yang telah berkumpul di halaman rumahnya.


“Ada apa ini?”

__ADS_1


“Ada masalah di desa kita Pak, tapi Bapak diam saja!” ujar Soleh dengan suara lantang.


“Masalah apa! selama ini Desa kita aman-aman saja kok.”


“Nggak Pak! Desa kita saat ini dalam masalah besar.” Lanjut Deri kemudian.


“Masalah besar gimana?” tanya Pak kades heran.


“Agar Bapak ketahui, kalau selama ini warga Bapak yang bernama Yeni dan putrinya mereka telah melakukan pesugihan, mereka berdua telah bersekutu dengan iblis Pak!”


“Dari mana kalian tahu, kalau mereka itu bersekutu dengan iblis?”


“Tesa yang telah melihatnya Pak!” ujar Rido.


“Mana Tesa?” tanya Pak kades yang mencari keberadaan Tesa.


“Saya Pak kades,” jawab Tesa pelan.


“Benar kamu telah melihat, kalau Pandan dan Ibunya telah bersekutu dengan iblis?”


Mendengar pertanyaan Pak kades, Tesa hanya tertunduk diam, karena Tesa tak melihat sama sekali kalau keluarga itu melakukan pemujaan.


“Jawab Tesa, jangan diam saja!” ujar Rido dengan suara lantang.


“Kemaren kau bilang sama kami, kalau kau dan Tuti melihat dengan jelas pada hari itu, Pandan bicara dengan seseorang tapi kau nggak melihat dengan siapa dia bicara.”


“Iya, aku memang melihat dengan jelas, Pandan bicara dengan seseorang, tapi kami berdua nggak melihat dengan siapa Pandan bicara.”


“Hanya itu saja, nggak ada yang lain!”


“Iya, hanya itu saja Pak.”


“Kalau hanya itu saja, nggak bisa di jadikan barang bukti, saudara-saudara!”


“Apakah Pak kades nggak melihat perubahan keluarga mereka, yang tiba-tiba saja menjadi orang kaya?”


“Kalau pun mereka kaya, itu bukan urusan kita, kenapa kita yang sibuk!”


“Nggak Pak kades, kita harus usut sampai tuntas sore hari ini juga.”


“Apa yang akan kita usut, sementara mereka sekeluarga tak pernah mengganggu kita semua.”


Walau kepala Desa itu berusaha untuk mencegah mereka semua, namun masyarakat Desa itu tetap bersikeras untuk mendatangi rumah Yeni.

__ADS_1


“Baik, kita akan kesana sore ini juga, tapi ingat, tak ada yang boleh berbuat anarkis, semua harus bersikap sopan pada mereka.”


“Baik Pak kades,” jawab semua warga serentak.


Lalu semua warga berbondong-bondong mendatangi rumah Pandan, mereka berdiri di depan rumah Pandan dengan sikap tenang. Pak kades langsung mengetuk pintu rumah Pandan dari luar.


Tak berapa lama kemudian, pintu pun di buka dari dalam, aroma wangi mulai tercium oleh semua warga, Pandan yang memiliki wajah cantik keluar dengan menggendong bayinya.


Di saat itu tampak semua warga terpana, mereka begitu menikmati aroma yang sangat wangi dari tubuh Pandan dan putrinya.


Setelah Pandan dan putri kecilnya keluar, tak sepatah katapun yang terucap dari mulut semua warga, suasana tampak hening mencekam.


“Ada apa Pak Kades?” tanya Pandan dengan suara lembut.


“Eh, nak Pandan, kamu udah melahirkan?” tanya Pak kades pelan.


“Udah Pak kades,” jawab Pandan singkat.


“Begini nak Pandan, semua warga merasa curiga dengan keluarga mu.”


“Maksud Pak kades?”


“Mereka menduga, kalau keluarga kalian telah bersekutu dengan iblis.”


“Bersekutu dengan iblis? siapa yang bilang Pak kades?”


“Kata Tesa, dia melihat kamu bicara dengan seseorang tapi dia tak melihat dengan siapa kamu bicara.”


“Kapan ya? saya nggak pernah bicara sendirian, mungkin saja saat itu kak Tesa melihat saya sedang bicara dengan suami saya, sementara dia sedang berada di dalam kamar, jadi saat Kak Tesa melihat, suami saya belum keluar kamar.”


“Bohong! Saya melihat dia bicara sendiri saat itu.”


“Sepertinya Kak Tesa sedang ngawur deh!”


Karena tak percaya, lalu Pandan memanggil suaminya dari luar, tak berapa lama kemudian Askara pun muncul bersama Yeni Ibu mertuanya.


“Ada apa ya?” tanya Yeni dengan suara lantang.


“Nah Pak kades, dia ini suami saya yang di katakan oleh kak Tesa makhluk halus itu, apa kalian melihat dia seperti makhluk halus?”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2