AraDea

AraDea
Part 70 Hukuman penjara bawah tanah.


__ADS_3

Bohong! aku gak percaya kepadamu, kau licik dan jahat. Aku sudah lama tahu, siapa kau sebenarnya. Kau nggak perlu menyembunyikan jati dirimu kepadaku Danu. Aku juga tahu, kau seorang raja di kayangan, kau bernama raja Dasamuka."


"Lalu, kalau memang aku seorang raja, apa urusannya aku dengan putrimu. Mana mungkin aku mencuri putriku sendiri Kemuning."


Mendengar jawaban Danu, yang selalu menolak telah melakukan penculikan pada putrinya Ara. Lama-kelamaan, Kemuning merasa sedikit yakin. Karena tak mungkin Danu menculik putrinya sendiri.


Dengan rasa sedih dan uraian air mata, Kemuning pun menangis dipelukan suaminya. Air matanya tak kuasa untuk dibendung, karena Putri satu-satunya menghilang entah ke mana.


"Bantu aku bang, cari keberadaan Putri kita. Aku nggak sanggup kehilangannya, aku telah berkorban banyak untuk melindunginya Bang," ujar Kemuning berharap.


"Sabarlah sayang, Ara itu gadis yang kuat, dia adalah keturunanku. Dia takkan mudah dikalahkan. Suatu saat nanti, dia pasti akan kembali kepadamu."


"Nggak bang, aku nggak mau suatu hari nanti dia kembali. Aku mau dia kembali padaku sekarang juga. Carilah Bang, cari ke mana saja yang kau ketahui.


Melihat Kemuning menangis, sebenarnya Danu merasa sedih sekali. Tapi Ara harus diberi pelajaran, agar dia tidak semena-mena, menghardik rajanya sendiri di hadapan para petinggi kerajaan.


"Baiklah sayang, aku akan mencari keberadaan Ara, di mana pun dia berada. Tapi ingat, setelah dia kembali padamu, tolong kau didik dan kau ajari dia, agar tidak keras kepala dan sulit untuk diatur."


"Caramu berbicara, kau seolah-olah mengetahui keberadaan putriku. Di mana dia! atau jangan-jangan, kau sengaja menyembunyikan putriku, karena kau sudah lama ingin menginginkan putrimu itu?"


"Nggak sayang, aku nggak pernah melakukannya. Aku nggak tahu di mana putrimu berada. Aku janji, akan mencari keberadaannya dan akan ku kerahkan seluruh prajurit kerajaan Kayangan, untuk mencari keberadaan Ara."


"Baiklah, aku percaya padamu. carilah keberadaan putriku, di manapun dia sekarang berada."


"Baiklah. kalau begitu, aku harus kembali ke Angkara, untuk mencari keberadaan putrimu Ara."


"Iya, pergilah Bang," ucap Kemuning sedih.


Setelah berpamitan, Danu langsung pergi ke Angkara. dia duduk di atas singgasananya dalam keadaan termenung. Sebenarnya, Dasamuka begitu sedih melihat istrinya Kemuning menangis. Tapi dia tak berdaya, Ara harus diberi pelajaran, agar dia sedikit bersikap sopan kepada Ayahnya.


Tak berapa lama kemudian, Dasamuka langsung bergerak menuju penjara bawah tanah. Dia diiringi dan dikawal oleh beberapa orang prajurit.

__ADS_1


"Buka kerangkengnya!" perintah Dasamuka pada salah seorang prajurit yang selalu memberi hukuman kepada Ara.


Lalu, prajurit tersebut langsung membuka pintu besi yang telah memenjarakan Ara di dalamnya.


Mesti gadis cantik itu mengetahui, kalau Dasamuka telah datang menemuinya. Tapi kekerasan hatinya, tetap saja menganggap Ayahnya, sebagai musuh yang harus ditumpas.


"Ara putriku, Mamamu Kemuning saat ini sedang bersedih, menunggu kedatanganmu di rumah. Kau tahu, aku baru saja kembali dari bumi. Mamamu menangis histeris saat dia tahu kau di dalam penjara ku."


"Kau seorang Ayah yang jahat Dasamuka! di bumi, tak seorang Ayah pun yang mau memperlakukan putrinya sendiri, seperti seekor binatang. Tapi kau, lebih dari itu."


"Itu hukuman bagi seorang anak durhaka Ara. Kau bukan saja melawan kepadaku, tapi kau telah mempermalukan aku di hadapan seluruh petinggi kerajaan."


"Kau pantas menerima itu Dasamuka. Aku bukan putrimu, yang bisa sesuka hatimu mengatur dan menyuruh aku berbuat sesuatu."


"Kau bener-bener keras hati Ara, kau lebih memilih dihukum ketimbang meminta maaf kepadaku, di hadapan para petinggi kerajaan."


"Puih...!" tanpa berpikir panjang Ara langsung meludahi wajah Ayahnya.


Tanpa segan dan merasa kasihan, Dasamuka langsung mencambuk tumbuh putrinya sendiri, hingga mengeluarkan darah.


Mesti merasa sakit, namun tak sekalipun Ara berteriak dan menjerit. Rasa sakit yang dialaminya, hanya dirasakannya sendiri, tanpa berbagi kepada yang lain.


Di bumi, Dea melakukan semedi. Dea mempergunakan ilmu penerawangan yang dimilikinya, untuk melihat langsung ke kerajaan Angkara.


Saat itu, Dea, tak bisa menembus kerajaan Angkara. Karena pandangannya, terhalang oleh kabut berwarna hitam. kabut itu menyelimuti seluruh kerajaan Angkara. Dea yakin, kalau kerajaan Angkara telah diberi raja gaib yang cukup sakti.


"Hm...! Aku harus bisa menembus kabut hitam itu, agar aku bisa melihat keberadaan Ara yang telah diculik oleh Ayahnya sendiri," gumam Dea pelan.


Setelah berulang kali Dea mencoba menerawang, keluar angkasa. Tetap saja Dea tak mampu untuk melihatnya. Lalu Dea pun meminta bantuan, kepada raja Askara, papanya sendiri.


"Yang mulia raja, yang mulia raja! hamba datang menghadap!"

__ADS_1


"Iya putriku, aku mendengarkannya, apa yang ingin kau katakan, katakanlah!"


"Dengarkan aku yang mulia raja, Aku minta bantuan kepadamu. Karena sahabatku putri dari raja Dasamuka telah diculik oleh Ayahnya sendiri."


"Lalu, apa maumu putriku, kalau memang dia diculik oleh Ayahnya sendiri, kenapa kamu harus ikut campur urusan mereka?"


"Yang mulia raja, mesti Ara adalah musuhku. Tapi dia sahabatku di dunia, ibunya selalu menangis memikirkan dirinya. aku berjanji akan membantunya dalam mencari Ara."


"Putriku Dea Chandra Maya, baiklah. Aku akan membantumu untuk mencari keberadaan Putri raja Dasamuka tersebut. Tapi ingat sayang, prajurit kerajaan Parahyangan hanya bisa memantau dari kejauhan. Mereka tidak sanggup, untuk membantu melepaskan Putri raja Dasamuka tersebut."


"Kenapa paduka tak sanggup melepaskan Putri raja Dasamuka itu? kalau memang dia sedang ditawan di kerajaan Angkara."


"Putriku, raja Dasamuka adalah musuh bebuyutan kerajaan Parahyangan. Jika ada salah seorang, dari prajurit kita yang tertangkap oleh prajurit Angkara, maka perang besar-besaran akan terjadi. Antara kerajaan Parahyangan dan kerajaan Angkara."


"Baiklah yang mulia raja, kalau memang itu merupakan salah satu penghalang untuk menemui Putri Ara, di kerajaan Angkara. Maka, setidaknya aku mendapatkan informasi di mana Putri Ara berada saat ini."


"Baiklah putriku, aku akan mengerahkan telik sandiku untuk pergi ke kerajaan Angkara."


"Terima kasih yang mulia raja. Semoga rencana ini, dapat dilaksanakan dengan baik."


"Iya putriku. Sekarang tenangkan dirimu, telik sandi kerajaan akan mengemban tugasnya sesuai dengan perintahku."


"Baik yang mulia, terimakasih."


Setelah Dea memutuskan hubungan percakapannya, dengan raja Askara. Dea merasa sedikit tenang, karena urusan Ara akan diurus oleh telik sandi kerajaan.


Seperti permintaan Dea, raja Askara langsung memerintahkan telik sandi kerajaan, untuk mendatangi kerajaan Angkara dengan cara menyamar sebagai prajurit biasa.


Saat itu, Telik sandi istana merubah wujudnya, berupa makhluk bertubuh besar dan memiliki bulu yang sangat tebal, persis seperti makhluk yang ada di daerah Kayangan.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2