
"Bisa-bisanya itu Mpok Yati fitnah Ratu, padahal disana ada orang banyak. Apa perlu Ratu bawa mereka kesini buat jadi saksi untuk membantah fitnah yang dia layangkan?" gumam Ratu bertanya.
Ayahnya sudah berangkat ke sawah untuk memeriksa padi yang ditanamnya. Beberapa hari ini banyak sekali masalah di sawah terutama hama seperti keong yang memakan padi membuat tanamannya kering dan rusak.
Kini Ratu memutuskan untuk berjalan keluar rumahnya untuk menegur Mpok Yati yang memfitnahnya hingga ayahnya menampar dirinya. Tak berapa lama, Ratu sudah sampai didepan rumah Mpok Yati. Beruntung karena wanita paruh baya itu sedang ada didepan rumahnya dengan beberapa orang ibu-ibu disana.
"Pasti mereka sedang ghibahin orang nih" gumam Ratu.
"Siang ibu-ibu..." sapa Ratu dengan senyuman manisnya.
Sontak saja ibu-ibu termasuk Mpok Yati yang ada disana pun langsung mengalihkan pandangannya kearah Ratu. Bahkan karena saking fokusnya dengan apa yang mereka bicarakan, semuanya sampai tak sadar akan kehadiran Ratu. Mpok Yati sudah gugup karena Ratu pasti kesini karena ingin menemuinya.
"Lho neng Ratu ngapain kesini? Mau gabung ikut ghibah disini? Tapi kayanya nggak mungkin lah ya anak ustadz mau ikutan ghibah" ucap salah satu ibu-ibu yang ada disana.
Ucapan ibu-ibu itu seperti sebuah sindiran untuk Ratu yang memang jarang berkumpul bahkan ikut mengghibahi orang di desanya. Terlebih statusnya sebagai anak ustadz yang membuatnya harus memikirkan citra sang ayah.
"Oh... Ini mau ketemu Mpok Yati, bu. Kayanya saya mau nyumpal mulut seseorang yang sudah fitnah saya. Mpok Yati kan tahu siapa orang yang memfitnah saya makanya saya kesini mau tanya" ucap Ratu dengan senyumannya.
__ADS_1
Sontak ibu-ibu yang ada disana dengan semangatnya malah langsung menatap kearah Mpok Yati. Seakan mereka meminta penjelasan dari Mpok Yati agar orang yang mefitnah Ratu itu segera diumbar dalam pembicaraan. Sedangkan Mpok Yati sendiri raut wajahnya sudah panik karena mendapatkan tatapan-tatapan penasaran dari teman-temannya.
"Iya mpok, ayo dong bilang siapa yang ngefitnah saya tentang kejadian malam itu? Mpok nggak kasihan sama saya karena sudah difitnah sampai disalahkan ayah" ucap Ratu dengan wajah disedih-sedihkan.
Tanpa semua orang sadari, ada seseorang yang melihat kejadian itu dengan sedikit senyum yang tersungging dari bibirnya. Seseorang itu adalah Lio yang memang begitu penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Ratu. Saat tadi ia hendak ke rumah Pak Hakim untuk bertanya beberapa hal mengenai siapa yang bisa ditanyai tentang cara pulangnya, ternyata ia mendengar pembicaraan Ratu dan ayahnya mengenai gadis itu yang di fitnah.
Tentu saja Lio langsung saja pergi dari rumah Ratu, walaupun belum bertemu dengan Pak Hakim. Walaupun masih kesal dengan Pak Hakim tentang kejadian semalam dan tadi pagi, namun Lio membutuhkan informasi itu secepatnya agar saat akan pulang nanti ribet.
Lio mengikuti Ratu yang sama sekali tak sadar akan kehadirannya itu. Dengan sedikit bersembunyi di samping rumah Mpok Yati, ia mendengar semua yang diucapkan oleh Ratu. Bahkan wajahnya yang seperti bersandiwara itu membuat Lio menahan tawanya.
"Ayo Mpok Yati, kasih tau kami" seru salah satu ibu-ibu yang ada disana.
"Sialan Ratu ini, polos-polos mematikan" batin Mpok Yati kesal.
Dalam hati Ratu sudah terkikik geli bahkan ingin tertawa melihat wajah memerah dari Mpok Yati. Walaupun dirinya dianggap lemah lembut oleh orang-orang sekitar, namun ia juga harus bisa membela diri demi harkat dan martabatnya. Terlebih fitnah itu membuat hubungannya dengan sang ayah kemarin sempat memanas.
"Lho Ratu... Bukannya yang kemarin fitnah dan ngomong tentang kita yang dekatan sambil makan suap-suapan di warung nasi goreng itu sekarang ada disini ya" ucap Lio yang sudah tak tahan ingin keluar.
__ADS_1
Lio keluar dari persembunyiaannya bahkan langsung meneruskan apa yang menjadi sandiwara Ratu. Kedatangan Lio ini membuat ibu-ibu yang ada disana heboh kecuali Mpok Yati yang nyalinya semakin menciut. Terlebih penampilan Lio yang tampak seperti preman dengan celana jeans sobek-sobek. Entah dapat darimana ia mendapatkan celana seperti itu yang pasti ternyata di desa ini ada yang menjualnya walaupun hanya satu pedagang saja.
Ratu juga langsung menatap kearah Lio yang tengah menyunggingkan senyum sinisnya kearah Mpok Yati. Mata Ratu tampak berbinar cerah saat ada seseorang yang mau membantunya untuk menyelesaikan masalahnya. Walaupun sebenarnya hal ini juga menjadi masalah Lio karena nama baiknya tercemar.
"Siapa den yang kamu maksud?" tanya salah satu ibu disana mewakili semua teman-teamannya.
"Sudah ibu-ibu. Jangan percaya sama ucapan orang baru, mungkin mereka itu hanya salah paham saja" ucap Mpok Yati mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mpok Yati posisinya memang sudah tersudut membuatnya harus segera mengalihkan pembicaraan ini agar tak melebar kemana-mana. Terlebih ia melihat jika saat ini Ratu dan Lio ini sepertinya bekerjasama untuk mencecarnya agar menjadi bahan omongan orang.
"Lho nggak bisa gitu, mpok. Ini terkait masalah pencemaran nama baik lho" ucap salah satu ibu-ibu itu.
"Jadi gimana den yang mana orangnya?" lanjutnya.
Tanpa menjawab pertanyaan salah satu ibu-ibu yang ada disana, Lio menunjuk kearah Mpok Yati yang sudah memejamkan matanya. Benar saja semua orang langsung melihat kearah yang ditunjuk oleh Lio dan melebarkan matanya karena terkejut. Mereka sepertinya tak percaya dengan apa yang ditunjuk oleh Lio.
"Memang benar jika Mpok Yati yang sudah memfitnah saya dan Lio. Bahkan ayah saya yang memberitahu kalau Mpok Yati memberikan informasi tentang kejadian malam itu. Padahal hampir semua orang disana tahu kalau kami bahkan berbincang saja jaraknya satu meter mana bisa sambil suap-suapan" ucap Ratu dengan sedikit menjabarkan kejadian sebenarnya.
__ADS_1
"Ya Allah... Mpok, nggak nyangka saya teh. Tega nian Mpok Yati sama neng Ratu, padahal dia ini baik banget lho orangnya. Nggak pernah neko-neko anaknya" ucap salah satu ibu-ibu itu sambil geleng-geleng kepala.
Sebenarnya niat Ratu ini menegur agar tak sembarangan memfitnah orang hingga nama baiknya jadi jelek. Namun ternyata malah disana ada teman-teman Mpok Ratu ada disana, jadi otak Ratu langsung berpikir agar teman-temannya juga menasihati wanita paruh baya itu. Kerjasama yang bagus antara Ratu dan Lio ini juga yang membuat semua permasalahan akhirnya selesai karena Mpok Yati yang langsung malu pada teman-temannya.