
"Sebenarnya apa pekerjaanmu dan keluarga hingga bisa membantu Adin bersekolah? Bahkan membawanya ke puskesmas" tanya Pak Hakim penasaran.
Setelah selesai belajar mengaji, Lio memilih untuk duduk di gubuk belakang rumah Pak Hakim. Disana ia begitu menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya di sore hari. Pemandangan sawah yang juga membuat matanya sejuk membuatnya suatu saat nanti ingin kembali kesini jika sudah pulang ke kota.
Namun ada yang aneh saat Pak Hakim menanyakan tentang bantuannya membawa Ibu Adin ke puskesmas. Menurut Lio, biaya di puskesmas itu sangat murah apalagi jika mempunyai kartu asuransi kesehatan. Dibandingkan dengan rumah sakit, tentunya masyarakat akan memeriksakan diri ke puskesmas terlebih dahulu jika kondisinya tidak darurat.
"Jualan makanan" jawab Lio.
Pak Hakim yang mendengar jawaban dari Lio itu mengernyitkan dahinya heran. Disini juga banyak orang yang jualan makanan namun mereka tak sampai bisa mempunyai sepeda motor besar dan membantu oranglain. Mereka pasti akan menggunakan hasil dari jualannya untuk modal usaha lagi atau kehidupan sehari-hari.
Lio juga tak salah dan tidak berbohong mengenai pekerjaan keluarganya. Memang benar jika kakeknya menghidupinya dari berjualan makanan dan minuman melalui usaha restorant. Kecuali pekerjaan kedua orangtuanya yang tak ia ketahui atau mungkin tak dia pedulikan.
"Lagi pula biaya berobat ke puskesmas itu murah lho, pak. Apalagi ada asuransi kesehatan dari pemerintah bagi warga kurang mampu. Yang saya herankan kemarin adalah warga kurang mampu seperti Adin dan ibunya kok sampai nggak punya asuransi kesehatan. Apa disini sangat tertinggal sekali tentang seperti itu? Atau memang mereka bukan asli warga sini?" ucap Lio dengan wajah heran.
Pak Hakim menyetujui dengan ucapan Lio, memang sekarang diwajibkan untuk mempunyai asuransi kesehatan. Ini bukan hanya berlaku bagi warga tak mampu saja namun juga yang punya ekonomi dari menengah ke atas. Namun ia juga tak paham mengenai kebijakan itu karena ia sendiri juga tak mempunyai asuransi kesehatan.
Bahkan ketika mau periksa ke puskesmas saja harus orang yeng benar-benar punya nama baru lah dilayani. Namun jika penampilannya tidak meyakinkan tentunya hanya akan dibiarkan seperti yang terjadi pada Adin dan ibunya kemarin. Mau mencari tahu ke pemerintah desa juga percuma karena mereka selalu bilang tak paham karena dari pusat tidak ada pengumuman apa-apa.
Daripada kesal sendiri dengan hal yang tak pasti, mereka lebih memilih bekerja daripada mengemis bantuan atau mendapatkan sokongan dari program pemerintah. Mereka juga berusaha untuk tak sakit keras agar hanya dengan minum obat warung saja bisa sembuh.
__ADS_1
"Bapak juga nggak tahu. Walaupun sebagai tetua di desa ini, kalau sudah menyangkut masalah program seperti itu saya tidak tahu. Yang ku tahu hanya lah aturan adat istiadat turun temurun di desa ini" ucap Pak Hakim memilih acuh.
"Seharusnya sebagai tetua disini lebih memperhatikan warganya, pak. Jangan nanti waktu ada masalah saja, bapak turun tangan" ucap Lio dengan sinis.
Baru pertama kali ini ada warga yang berani dengannya terlebih ini adalah orang baru. Dia adalah Lio yang berani menegur tetua disini membuat Pak Hakim kadang geram. Namun ucapan Lio yang pedas atau berupa sindiran itu kadang membuat Pak Hakim berpikir keras. Kebanyakan ucapan Lio itu adalah kebenaran.
***
"Neng Ratu darimana nih?" tanya Lio yang tak sengaja berpapasan dengan anak Pak Hakim itu.
Saat Lio keluar dari rumah Ratu kemudian berjalan beberapa langkah, ternyata ia bertemu dengan Ratu. Ratu yang menunduk tak menyadari dengan adanya Lio yang berjalan berlawanan arah dengannya itu. Hal ini tentunya langsung membuat Lio ingin menggoda dan mendekati Ratu tanpa sepengetahuan Pak Hakim.
"Dari belanja sayuran, mas" jawab Ratu dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Wah... Aku baru sadar kalau aku dipanggil dengan sebutan mas. Semoga kelak bisa berubah panggilannya jadi sayang atau abah ya" ucap Lio menggombal.
Astaga...Wajah Ratu memanas bahkan pipinya memerah hanya karena gombalan dari Lio. Baru pertama kali ini dirinya mendapatkan gombalan dari seorang pemuda. Namun secepat mungkin ia langsung beristighfar dalam hati karena hal ini merupakan sesuatu yang dilarang agama. Dengan kecepatan kilat, Ratu segera saja pergi berlalu dari hadapan Lio tanpa mengucapkan satu kalimat pun.
"Astaga... Malu-malu gitu tambah imut dah tu Ratu, tapi sayang gombalan gue di desa ini kayanya nggak mempan" gumam Lio sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Baiklah... Dekati Allah dan bapaknya dulu baru anaknya" lanjutnya sambil senyum-senyum sendiri.
Lio pun akhirnya berjalan menuju ke rumah kontrakannya dengan langkah cerianya. Satu bulan waktu yang diberikan untuknya bisa mempelajari ilmu agama dan merubah sikapnya. Walaupun nanti ia kembali ke kota, namun ia berharap agar perubahannya itu membuat suatu hal yang positif di lingkungannya.
***
"Ini ada sedikit makanan untuk kalian" ucap Ratu mengantarkan serantang makanan ke rumah kontrakan Lio.
Tadi Ratu memasak makanan lumayan banyak karena memang akan dibagikan kepada warga yang sedang tadarus Al-Qur'an di masjid. Namun ternyata masih sisa banyak membuatnya memberikan kepada orang-orang yang tadi tak berangkat ke masjid. Dan ini kebetulan sekali kalau Lio yang keluar dari rumah kontrakannya secara langsung.
"Wah... Udah kaya mau nganterin makanan buat suami kerja aja nih" goda Lio.
Astaga... Setiap bertemu dengan Lio pasti laki-laki itu selalu menggombali Ratu. Hal ini lah yang membuat Ratu terkadang risih. Terkadang Ratu berpikir kalau pergaulan orang kota itu begitu bebas sehingga membuat Lio menganggap enteng perempuan di desa ini.
Padahal perempuan terutama gadis seperti Ratu sangat menjunjung tinggi harga diri seorang wanita. Apabila Lio melakukan gombalan seperti itu kesannya seperti mereka gampang luluh hanya dengan modal kata-kata itu. Harusnya kalau memang dari awal niatnya mau berubah jadi lebih baik ya tak usah menggoda gadis di desa ini.
"Bisa tidak kalau kamu jangan suka menggombali saya? Itu dilarang oleh agama. Kalau kau menggombali perempuan di desa ini, berarti di kota juga kelakuanmu tak beda jauh. Saya permisi" ucap Ratu dengan tegas.
Lio yang mendengar hal itu menganga tak percaya. Sepertinya ia salah memperlakukan atau mendekati Ratu dengan cara seperti ia melakukannya pada gadis-gadis di kota. Ratu berbeda sehingga membuatnya harus berpikir keras untuk meluluhkan hatinya. Ia juga harus menyelesaikan masalah dengan pacar-pacarnya yang ada di kota sebelum mendekati Ratu.
__ADS_1