
Pembangunan tower jaringan internet mulai digarap oleh warga sekitar dengan sebagai penanggungjawabnya adalah Pak Hakim. Sedangkan dua anak buah Kakek Angga yang masih disana mengawasi jalannya pembangunannya agar tak terjadi korupsi atau masalah lainnya. Ibu Adin bertugas untuk menyediakan cemilan dan makan siang untuk para warga yang mengerjakan pembangunan itu.
Adin yang harus sekolah dari pagi hingga siang hari tentu saja akan membantu setelah pulang. Semua surat-surat untuk kepindahannya sedang diurus namun sambil menunggu tentunya Adin tetap masuk sekolah seperti biasanya. Hal ini juga agar bisa membuat dirinya tak ketinggalan materi pelajaran karena ia masih lah di desa ini hingga satu bulan mendatang.
Semua bahan bangunan dan peralatannya sudah sampai di desa ini kemarin siang sehingga hari ini bisa langsung digunakan. Bahkan ada peralatan yang dibawa oleh warga yang punya sehingga semakin cepat mereka bisa bekerja. Lahan sudah dibersihkan secara gotong royong sejak kemarin agar pekerjaan tak terlalu banyak.
"Kurang apa kira-kira pak?" tanya salah satu anak buah Kakek Angga.
"Semuanya masih aman, pak. Ini bahkan lebih dari cukup, semuanya begitu lengkap" ucap Pak Hakim sambil terkekeh.
Pak Hakim memuji anak buah Kakek Angga yang begitu sigap dan cerdas dalam perhitungannya. Bahkan kini Pak Hakim langsung ikut turun membantu beberapa warga laki-laki menyelesaikan semuanya. Anak buah Kakek Angga yang masih berdiri mengawasi di pinggir tempat itu pun terkejut saat ada seorang gadis yang mendekati dirinya. Ia mengenal siapa gadis disampingnya itu yang tak lain adalah seseorang yang dekat dengan tuan mudanya.
"Ada apa nona? Apa anda kesini karena ingin tahu apakah tuan muda Lio datang kemari?" tanya anak buah Kakek Angga yang seakan tahu kalau gadis ini sedang rindu pada majikannya.
Anak buah Kakek Angga itu memang terlihat menyindir Ratu namun wajahnya sama sekali tak cocok dengan ucapannya. Tentunya Ratu begitu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh anak buah Kakek Angga itu. Bahkan kini ia melotot tajam kearah laki-laki itu yang hanya dijawab kekehan canggung olehnya. Ratu kesana memang sengaja ingin mengetahui apa yang bisa ia bantu bukan mencari keberadaan Lio. Toh ia juga tahu kalau Lio takkan berada disini.
"Saya kesini bukan karena ingin bertemu Lio, tapi ingin tahu apakah ada yang bisa saya bantu" kesal Ratu sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Tentunya ia menyangkal dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki dewasa di sampingnya ini. Walaupun pada faktanya ia memang rindu pada Lio tentunya ia takkan mengaku pada oranglain. Sebisa mungkin ia hanya akan mengungkapkan rasa rindu itu kepada Allah saja.
"Lebih baik nona membantu Ibu Adin saja untuk menyiapkan makanan di rumah" ucapnya.
Ratu menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sepertinya juga tak mungkin membantu disini karena semuanya laki-laki. Ratu berlalu meninggalkan area pembangunan kemudian berjalan menuju rumah kontrakan Adin. Disana sudah ada beberapa ibu-ibu yang memang membantu untuk membuatkan makanan bagi warga.
"Assalamu'alaikum..." ucap Ratu sambil tersenyum.
"Wa'alaikumsalam..." salam balik ibu-ibu yang ada disana.
"Ada yang bisa saya bantu, bu? Mumpung saya pulang cepat dari sekolah" tanya Ratu.
Ratu menganggukkan kepalanya kemudian duduk di sebelah Mpok Yati yang sedari tadi diam saja. Mpok Yati juga ada disana ikut membantu karena memang diajak oleh yang lainnya. Sejak pertemuan terakhir dengan Lio waktu itu, Mpok Yati sekarang jadi jarang berkumpul dengan ibu-ibu yang lainnya. Entah karena kena mental atas ucapan Lio atau mungkin tak punya bahan ghibahan.
"Gimana kabarnya den Lio di kota ya, nak Ratu?" tanya salah satu ibu-ibu ingin tahu.
"Wah... Saya juga kurang tahu, bu. Lagi pula setelah Lio pergi dari sini kan kami tak berkomunikasi. Coba tanya sama karyawannya Kakek Angga saja, pasti mereka tahu" jawab Ratu sambil tersenyum.
__ADS_1
Niatnya ibu-ibu itu ingin tahu tentang bagaimana hubungan Ratu dan Lio namun ternyata gadis itu lebih cerdas dalam menjawab. Tentu saja Ratu tak mau masalah pribadi dan perasaannya menjadi konsumsi warga desa ini. Terlebih mulut ibu-ibu yang ada di desanya ini begitu cepat dalam mentransfer informasi ke oranglain dalam hal seperti ini.
Ibu-ibu itu akhirnya diam karena tak ada yang mau dibahas lagi. Terlebih mereka yang ingin tahu kedekatan antara Ratu dan Lio itu ternyata tak mendapatkan informasi apapun. Diam-diam Ustadzah Siti mengacungkan jempolnya kearah Ratu membuat gadis itu tersenyum pernuh arti.
Dua jam mereka berkutat dengan bahan-bahan masakan, makanan telah siap tersedia diatas baskom. Beberapa warga langsung mengambilnya kemudian mereka merentangkan tikar untuk makan bersama-sama. Bahkan ibu-ibu yang tadi ikut memasak juga langsung mengikuti bapak-bapak untuk makan bersama.
"Luar biasa ini mah makanannya. Jarang-jarang kita di rumah makan seperti ini" ucap salah satu bapak-bapak setelah menyelesaikan kegiatan makannya.
Yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil terkekeh pelan. Makanan yang disediakan disana begitu lengkap dimulai dari nasi, sayur soup ayam, ayam goreng, tahu, tempe, dan buah-buahan. Sangat jarang warga disana bisa makan selengkap ini bahkan biasanya hanya sayur soup berisi kol, kobis, dan wortel saja. Harga ayam dan buah juga sangat mahal sehingga amat jarang setiap rumah bisa membelinya.
"Satu bulan nanti masa pertumbuhan ya pak, makanannya akan terus bervariasi seperti ini" ucap salah satu anak buah Kakek Angga.
Semua yang ada disana tertawa membenarkan ucapan dari anak buah Kakek Angga yang tinggal di desa ini. Mereka yakin jika makanannya seperti ini tentunya badan semuanya akan semakin subur. Setelah istirahat makan dan sholat, mereka segera melanjutkan kegiatannya di lokasi pembangunan tower. Sedangkan untuk yang wanita langsung membereskan semua piring dan gelas yang digunakan.
Kerukunan antar warga desa ini sungguh membuat siapapun begitu senang melihatnya. Bahkan hampir keseluruhan warga di desa ikut membantu pembangunan tower ini. Selain mendapatkan gaji yang lumayan namun mereka juga nanti bisa merasakan manfaat dari tower jaringan internet ini. Ternyata tersesatnya Lio masuk ke desa ini membawa berkah bagi semuanya.
"Saya mewakili warga disini ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada Kakek Angga dan nak Lio karena sudah membantu desa ini. Suatu saat nanti kami akan membuktikan jika desa ini bisa lebih maju perekonomiannya. Sampaikan salam dan ucapan terimakasih saya kepada mereka" ucap Pak Hakim kepada anak buah Kakek Angga.
__ADS_1
Kedua anak buah Kakek Angga hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga yakin jika majikannya itu ingin desa yang pernah menjadi tempat tinggal cucunya maju dalam segala hal. Setidaknya apa yang ia lakukan ada manfaatnya untuk orang banyak.