Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Pelayanan Tak Baik


__ADS_3

Lio benar-benar kesal dengan pelayanan puskesmas yang didatanginya ini. Bahkan sudah hampir satu jam mereka menunggu didepan pintu ruang UGD, namun tak ada satu pun dokter atau perawat yang masuk kesana. Bahkan petugas yang tadi berjanji akan memanggilkan dokter sudah duduk kembali di tempatnya tadi.


Adin yang memang tak tahu apa-apa mengenai masalah pendaftaran di puskesmas ini pun hanya bisa diam dan menunggu. Sebelumnya ia belum pernah kesini, bahkan niatan kesini pun karena diusulkan oleh tetangganya dan diberitahu mengenai biayanya yang lumayan mahal.


"Kamu tunggu sini bentar" pamit Lio dan diangguki oleh Adin.


Dengan wajah memerah penuh amarah, Lio kembali mendatangi petugas yang sedang ngobrol dengan temannya disana. Melihat kehadirannya, sontak saja mereka langsung berdiri kemudian menyapanya dengan ramah. Namun Lio bukanlah orang yang suka basa-basi bahkan kesabarannya pun sangat tipis.


"Mana dokter yang kau panggil untuk periksa? Sudah hampir satu jam kami menunggu, tapi tak ahdir juga. Kau pikir dengan diberikan infus dan selang oksigen saja bisa membuat ibu itu sembuh" sentak Lio.


"Kalau dalam waktu 5 menit belum ada juga dokter yang memeriksa, saya obrak-abrik tempat ini" lanjutnya dengan sebelah tangannya ingin meninju.


"Sebentar mas, dokternya sedang ada pelayanan di luar" jawab petugas itu memberi alasan.


"Apa tak ada dokter lain? Masa iya puskesmas sebesar ini cuma ada satu dokter. Disini saya bayar, bukan pakai asuransi kesehatan atau mengemis kasihan" sentak Lio.


Lio dan beberapa petugas medis disana saling pandang setelah mendengar ucapan dari Lio. Mengingat pasien yang ada didalam sepertinya merupakan orang yang tinggal di daerah kumuh, rasanya tak mungkin jika mampu membayar biaya pemeriksaan. Walaupun di puskesmas ini biayanya masih berada didalam kisaran harga menengah ke bawah.


Tak berapa lama, ada seorang gadis yang melihat kegaduhan yang terjadi didekat ruang pendaftaran. Gadis yang tak lain adalah Ratu itu berjalan mendekat kearah kegaduhan itu. Terlebih sampai ia melihat ada seorang pemuda yang ingin memukul perempuan disana. Ia memang belum melihat bagaimana rupa dari pemuda itu karena posisinya yang membelakangi.


"Mas, jangan kasar sama perempuan" tegur Ratu.


Mendengar suara teguran yang berasal dari belakang tubuhnya, Lio membalikkan badannya. Lio membelalakkan matanya terkejut melihat kedatangan Ratu begitu pun sebaliknya.

__ADS_1


"Ngapain kamu disini?" tanya Lio terkejut.


"Ratu mau minta surat keterangan sehat dari dokter" jawab Ratu dengan sedikit menunduk.


Bahkan Ratu juga berbicara denga Lio itu dengan jarak yang lumayan jauh. Ia tak ingin sampai ada kejadian yang membuatnya dan Lio difitnah kembali. Mengetahui ada anak tetua desa, para petugas segera saja menyiapkan keperluan Ratu.


Bahkan Ratu langsung disuruh masuk kedalam ruangan dokter itu tanpa mengantri. Hal ini membuat Lio sangat geram bahkan langsung menendang meja yang digunakan petugas pendaftaran disana.


Brakkkk.... Brakkk...


Emosi Lio meluap-luap, dengan Ratu yang merupakan anak dari tetua desa saja langsung bisa dipanggilkan atau masuk ruangan dokter. Sedangkan dia yang mungkin hanya orang asing, dibiarkan menunggu satu jam. Bahkan sampai kini tak ada kepastian.


"Brengsek..." sentak Lio.


Bahkan Ratu juga langsung tak jadi berjalan menuju ruang dokter, ia memilih untuk menanyakan apa yang terjadi. Disana juga ada beberapa orang yang penasaran.


"Sebenarnya ada apa, Mas Lio?" tanya Ratu dengan lembut.


"Saya kesini membawa pasien darurat, bahkan sudah masuk ruang UGD. Katanya mereka akan memanggilkan dokter untuk memeriksa, namun sudah satu jam saya menunggu tak ada satu pun dokter yang datang. Kalau nyawa ibu itu melayang, apa kalian mau tanggungjawab?" sentak Lio menjelaskan dengan berapi-api.


Ratu dan beberapa orang disana begitu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Lio. Pasalnya sedari tadi mereka lancar-lancar saja saat bertemu dokter bahkan diperiksa. Hal ini membuat mereka menatap beberapa petugas disana dengan intens.


"Saya disini bayar, periksa juga pakai umum tanpa asuransi atau meminta keringanan. Kalau memang tak mampu untuk melakukan pelayan, bilang sedari tadi" lanjutnya.

__ADS_1


"Tolong panggilkan dokter untuk memeriksa pasien yang ada di ruang UGD, mbak. Kalau kalian takut mas ini kabur karena tak mau bayar, saya jaminannya" timpal Ratu.


Ia juga tak menyangka jika pelayanan disana tak baik karena selama ia memeriksa kesehatan tak pernah mendapatkan masalah. Beberapa petugas yang disuruh oleh Ratu itu pun langsung berlari menuju ruang dokter. Bahkan dalam hitungan menit saja, dokter itu sudah keluar dari ruangannya.


Lio benar-benar tak habis pikir dengan sikap mereka. Apa perlu harus mengenal orang dalam agar bisa memeriksakan kondisi kesehatannya. Astaga... Sifat temperamentalnya kini sudah diketahui oleh banyak orang terutama Ratu.


Setelah melihat dokter keluar dan berlari tergesa-gesa kearah ruang UGD, dengan segera Lio dan Ratu mengikutinya. Setelah masalah ini selesai, ia akan membuat perhitungan pada orang-orang yang tadi meremehkannya.


"Dokternya sudah datang, kak" seru Adin saat melihat Lio mendekat kearahnya.


Lio hanya menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum tipis. Rasanya tak perlu lah Lio memberitahu bagaimana susahnya ia memanggil dokter itu. Sedangkan Ratu memilih duduk di kursi tunggu tak jauh dari dua orang laki-laki itu.


Diam-diam Ratu mengamati sikap Lio yang begitu perhatian pada bocah laki-laki disampingnya. Bahkan ia tak segan mengelus kepala bocah laki-laki itu walaupun Adin sepertinya bukanlah dari kalangan atas. Ia memuji sikap Lio dalam hatinya yang begitu baik menolong antar sesama.


Ceklek...


Tak berapa lama menunggu, dokter wanita itu keluar dari ruang UGD. Melihat wajah dokter itu yang tampak menatap dengan tegang membuat semuanya ikut penasaran.


"Pasien didalam menderita darah tinggi dan gizi buruk. Jadi saya harap untuk yang tinggal bersama dengan pasien untuk lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Jangan lupa rutin untuk memeriksakan tekanan darah kesini atau ke tempat layanan kesehatan lainnya" ucap dokter itu.


"Gimana mau cek rutin, sekali periksa aja susahnya minta ampun" gumam Lio kesal.


Dokter itu sama sekali tak mendengar gumaman Lio yang pelan walaupun melihat bibirnya bergerak. Setelah dokter itu pergi dengan memberikan resep obat, Lio segera menebusnya di apotek sekalian mengurus administrasinya.

__ADS_1


Sedangkan Adin sendiri bersyukur karena setidaknya ibunya sudah diperiksa oleh dokter. Mengenai kelanjutannya ke depan, akan ia pikirkan nanti sambil mencari uang. Ia bersyukur karena bertemu Lio yang mau membantu orang miskin sepertinya.


__ADS_2