Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kepanikan


__ADS_3

Lio segera saja keluar sebentar dari ruangan kakeknya tanpa peduli pada kedua orangtuanya yang hanya diam saja. Tak berapa lama, ada beberapa anak buah kakek Angga masuk dalam ruangan mengikuti Lio. Bahkan dengan segera mereka menyenggol bahu kedua orangtua Lio karena kesal pada mantan pasangan suami istri itu.


Mereka segera memapah Kakek Angga keluar dari ruangannya untuk dibawa ke rumah sakit. Sedangkan Lio sendiri masih disana untuk menyelesaikan urusannya dengan kedua orangtuanya. Ia tak mau jika sampai mereka mengganggu kehidupan tentramnya dengan sang kakek.


"Setelah ini, jangan ganggu kehidupan kami. Kami sudah bahagia tanpa kehadiran kalian. Anggap lah kami sudah mati seperti apa yang anda ucapkan dulu" ucap Lio dengan nada datarnya.


Lagi-lagi ucapan Lio itu begitu menusuk relung hati keduanya. Bahkan mereka saat itu juga ingat tentang bagaimana keduanya berharap bahwa anak yang ada didepannya ini mati.


"Sudah tak berguna, hidup lagi. Ku harap kau dan si tua itu mati secepatnya" seru Mama Lio tak punya hati.


Kini kalimat yang diucapkan Mama Lio itu bagaikan sebuah karma yang berbalik padanya. Anaknya menganggap bahwa kini mereka tak ada hubungan apa-apa lagi. Mama Lio menatap mata yang penuh kekecewaan pada mata anaknya namun pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya.


Segera saja Lio menggunakan penggaris kayu itu untuk mendorong keduanya secara bergantian agar segera keluar dari ruangan kakeknya. Lio tak boleh ceroboh mengenai mereka yang masih ada di ruangan ini tentu bisa saja ada hal-hal yang tak diinginkan kemungkinan terjadi. Keduanya yang masing linglung tentunya segera berjalan keluar dari ruangan itu.


Setelah keduanya telah keluar ruangan, Lio segera mengambil tas punggungnya kemudian mengunci pintunya. Ia memasukkan kunci itu dalam sakunya kemudian berlalu meninggalkan kedua orangtuanya didepan pintu. Bahkan keduanya seperti terhipnotis dengan tak bisa melakukan apapun.


"Mbak, tolong panggil seseorang untuk jaga ruangan kakek. Jangan sampai ada yang masuk atau mendekat kesana kalau bukan Lio atau kakek sendiri yang kesitu. Terus kalau ada orang yang minta uang mengatasnamakan keluarga Lio atau kakek, abaikan saja. Anggap orang gila" seru Lio memberi pesan pada bagian kasir.


Kasir itu hanya menganggukkan kepalanya seakan tahu mengenai kode dan perintah yang diucapkan oleh Lio. Bahkan mata Lio sudah melirik tajam kearah kedua orangtuanya yang tampak lesu. Segera Lio pergi dari restorant kakeknya itu kemudian pergi menyusul Kakek Angga.


***


"Bagaimana keadaan kakek saya?" tanya Lio dengan raut panik dan khawatirnya.

__ADS_1


Tadi Lio melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggal karena begitu khawatir dengan keadaan kakeknya. Hanya butuh waktu 10 menit menuju rumah sakit yang dituju anak buah kakeknya itu. Segera saja ia langsung menemui kakeknya dengan bantuan pesan yang dikirim anak buahnya.


Saat sampai di sebuah ruangan rawat inap, Lio yang melihat anak buah kakeknya sedang berjaga didepan pintu langsung saja mendekat kearahnya. Bahkan ia langsung menanyakan bagaimana kondisi kakeknya itu.


"Beliau baik-baik saja, tuan muda. Namun untuk lebih pastinya, dokter meminta untuk beliau rawat inap sampai hasil rontgen bagian punggungnya keluar" ucap anak buah kakeknya itu.


Lio sedikit menghela nafas lega karena kakeknya sudah mendapatkan perawatan. Walaupun harus menginap di rumah sakit namun setidaknya kakeknya itu akan mendapat pantauan tentang rasa sakitnya.


Lio segera masuk ke dalam ruang rawat inap kakeknya dan terlihat lah beliau yang kini tengah tertidur dengan sedikit posisi miring karena dibawahnya ada bantal sebagai penyangga. Lio segera duduk di sofa kemudian menghubungi Nathan, Yuda, dan orang rumah.


***


"Kenapa kakek bisa kaya gini sih?" tanya Nathan yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap Kakek Angga.


Lio bahkan menghubungi Yuda untuk tak menunggunya datang karena harus menjaga kakeknya. Yuda memaklumi itu bahkan esok hari berniat menjenguk Kakek Angga di rumahnya. Lio meminta jika ingin menjenguk lebih baik di rumah saja daripada di rumah sakit.


"Insiden. Nyelamatin gue" ucap Lio dengan pandangan bersalahnya.


"Sudah, pasti kakek ngelakuin ini karena sayang denganmu. Ia tak rela cucunya terluka makanya nyelamatin kamu" ucap Nathan yang kemudian menepuk bahu Lio.


Lio hanya menganggukkan kepalanya kemudian meminta mereka duduk didepannya. Lio juga tak mau menceritakan hal lebih mengenai masalah keluarganya, Nathan pun memaklumi itu. Agung segera memberikan satu bungkus nasi padang pada Lio untuk laki-laki itu bisa makan siang.


"Tahu aja kalau gue lapar" ucap Lio sambil terkekeh.

__ADS_1


Nathan dan Agung hanya tertawa mendengar ucapan dari Lio itu. Segera saja mereka bertiga fokus dengan makanannya masing-masing karena memang ketiganya belum makan siang sama sekali.


"Agung, mau nginap disini sama abang atau pulang aja?" tanya Lio setelah selesai makan.


"Disini aja, bang. Lagian besok Agung juga belum masuk sekolah jadi santai. Ini aku udah bawa baju ganti juga kok sama abang juga" ucap Agung sambil menunjuk pada tas ranselnya.


Lio menganggukkan kepalanya dengan mengucapkan terimakasih. Nathan juga memilih menginap bersama Lio dan Agung karena tak mau kesepian di rumah.


***


"Gimana sih kamu, mas? Malah buat ayahmu celaka. Kalau sampai nanti dituntut atau dilaporkan polisi, aku nggak ikut campur lho" ucap Mama Lio.


Setelah kepergian Lio itu, keduanya sempat mencoba membuka kasar pintu ruangan Kakek Angga namun tak berhasil. Bahkan keduanya langsung saja diseret paksa oleh anak buah Kakek Angga yang masih ada disana untuk segera pergi. Kini keduanya sedang duduk di taman dekat restorant Kakek Angga.


"Ya harus ikut campur lah. Yang punya ide mengenai kita minta uang sama si tua itu kan loe" ucap Papa Lio dengan ketus.


"Tapi enggak dengan memukul dia kan" sentaknya tak terima disalahkan oleh mantan suaminya itu.


Keduanya terus berdebat dan saling menyalahkan tentang insiden yang baru saja terjadi. Tentunya mereka kini semakin pusing karena keuangan sedang menipis dan tak ada yang bisa membantu keduanya. Apalagi keluarga pasangan masing-masing juga seakan tak peduli dengan kondisi keuangan yang sedang menurun itu.


"Jual rumah aja kali ya" ide Papa Lio.


"Ide yang bagus. Lalu beli rumah yang kecil, toh itu milikku sendiri" ucap Mama Lio menimpali.

__ADS_1


Keduanya seakan menemukan titik terang setelah terdiam sebentar. Daripada memalukan diri dengan pinjam uang, lebih baik mereka menjual rumah yang ditinggali kemudian beli yang kecil. Toh rumah yang mereka tempati masing-masing dengan keluarga barunya itu merupakan milik Papa Lio dan Mama Lio.


__ADS_2