
Ratu melihat jalan yang sangat ramai akan kendaraan membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Terlebih banyak pengendara yang tak sabaran hingga membunyikan klaksonnya berulangkali. Setelah melalui beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di kota.
"Ternyata di kota macet ya, ini aja udah setengah jam nggak gerak-gerak mobilnya" ucap Adin sambil menatap gedung-gedung tinggi yang menjulang.
Mereka sampai kota saat jam sudah menunjukkan waktu sore hari. Tadi mereka beberapa kali berhenti untuk istirahat makan dan sholat. Kini tentunya pada sore hari ini kebanyakan baru pada akan pulang bekerja membuat dimana-mana terjadi kemacetan.
"Sabar... Namanya juga di kota. Mereka lagi pada balik dari kerja. Sebentar lagi juga sampai di rumah den Lio" ucap Diko.
Setelah mendapatkan giliran, akhirnya mobil melaju dengan kecepatan sedang. Akhirnya setelah satu jam terjebak macet, mobil melaju hingga sampai ke depan rumah Kakek Angga. Rumah tampak sepi karena hanya ada dua anak buah Kakek Angga saja yang berada disini untuk menjaga keamanan. Sedangkan semua ART juga pulang ke rumah masing-masing.
"Untuk malam ini, mbak Ratu tidur disini dulu saja baru besoknya ke kost. Tenang saja, den Lio dan yang lainnya sedang berada di rumah sakit. Tadi kami sudah meminta ijin kepada mereka" ucap Yohan.
Ratu menganggukkan kepalanya setuju. Lagi pula akan kasihan kalau sampai mereka harus pergi sekarang untuk mengantar dirinya. Pasti mereka juga lelah karena harus menyetir terus-terusan dari pagi hingga hampir malam seperti ini. Mereka pun turun dengan disambut oleh anak buah Kakek Angga yang berjaga didepan rumah.
"Silahkan masuk. Tadi Mbok Lala sudah menyiapkan kamar untuk kalian bertiga sesuai dengan arahan dari Mas Lio" ucap salah satu anak buah Kakek Angga.
"Terimakasih" ucap Ibu Adin.
Mereka pun masuk rumah Kakek Angga dengan tatapan penuh kekaguman. Tentunya mereka baru melihat rumah mewah yang design dan perabotan didalamnya begitu unik. Bahkan TV saja sudah sebesar itu, mereka bertiga hanya bisa mengagumi semua yang terlihat didepan mata.
__ADS_1
"MasyaAllah... Ini rumah atau apa" gumam Ratu yang begitu takjub dengan rumah ini.
Anak buah Kakek Angga langsung menggiring mereka kearah kamar yang sudah disediakan. Dua kamar di lantai bawah sudah disiapkan untuk Ibu Adin dan Ratu. Sedangkan Adin sendiri nanti akan tidur di lantai atas bersama dengan Agung. Untuk malam ini, Adin akan tidur di kamar bersama dengan ibunya untuk menyesuaikan diri.
Ratu memasuki kamar yang disediakan untuknya sambil terus memuji kemewahan yang disuguhkan. Bahkan untuk kamar tamu saja sudah seluas dan semwah ini dengan fasilitas lengkap. TV, AC, dan kamar mandi yang besar membuatnya benar-benar merasa seperti akan tidur di sebuah hotel.
"MasyaAllah... Ini Kakek Angga belinya gimana ya? Kok bisa TV besar dan kasur segede gini. Mana cuma buat tidur satu orang lagi" gumamnya berdecak kagum.
Ratu pun memilih untuk masuk dalam kamar mandi agar bisa membersihkan diri dan melaksanakan sholat. Walaupun sedikit bingung untuk menggunakan shower karena baru kali ini dirinya melihat dan tahu, namun ia langsung saja memakai ponselnya. Ia mencari informasi tentang penggunaan shower dan yang lainnya agar tak perlu keluar kamar. Apalagi semua yang ada di rumah ini mayoritasnya laki-laki.
***
Setelah selesai membersihkan diri dan melaksanakan ibadah, Ratu segera saja kelar dari kamar setelah memakai hijab instantnya. Ia akan memasak untuk makan malamnya juga Adin dan ibunya. Tadi ia sudah diberitahu kalau mau makan bisa langsung memasak di dapur dengan memakai semua bahan makanan di kulkas. Ratu membuka kulkas besar didepannya membuat matanya membulat.
Segera saja ia mengambil beberapa sayur dan daging untuk dimasak. Ia juga akan memasak makanan untuk anak buah Kakek Angga. Ratu merasa bersyukur karena semenjak bertemu dengan Lio dan Kakek Angga, hampir setiap hari bisa makan daging. Walaupun porsinya sedikit, namun setidaknya ada protein hewani yang ia makan.
"Lho tak kirain belum ada yang masak, sini biar ibu lanjutin saja" ucap Ibu Adin yang baru saja memasuki area dapur.
Ratu juga terkejut dengan kehadiran Ibu Adin yang tiba-tiba itu. Ratu segera mengalihkan pandangannya kearah Ibu Adin sambil tersenyum. Ratu tentu menolak untuk tak membantu, akhirnya mereka berdua memasak bersama. Hal ini membuat acara memasak itu hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 jam saja.
__ADS_1
Ibu Adin segera memanggil anaknya dan anak buah Kakek Angga. Segera saja mereka duduk di ruang makan setelah semuanya lengkap. Mereka makan malam dengan masakan yang dimasak oleh Ratu dan Ibu Adin tanpa ada suara apapun.
"Alhamdulillah... Oh ya, gimana kabar dari kakek? Apa ada perkembangan?" tanya Ratu setelah menyelesaikan kegiatan makannya.
"Belum sadar, sepertinya baru besok. Kalau kalian mau jenguk, besok saja bersamaan dengan kita sekalian kalau Mbak Ratu ke kost" ucap Diko memberi ide.
"Iya, besok sekalian saya ke kost kita bisa jenguk bersama. Lebih baik kita sekarang istirahat, terkhusus buat tadi yang menyetir sedari pagi" ucap Ratu.
Semuanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ratu dan Ibu Adin langsung membereskan sisa makanan yang ada diatas meja makan kemudian membawanya ke dapur. Keduanya segera mencuci piring dan gelas yang digunakan, setelah selesai langsung masuk dalam kamar masing-masing.
"Nyamannya..." gumam Ratu yang kini sudah berbaring diatas kasur empuknya.
Ratu akhirnya menutup matanya kemudian tertidur dengan pulasnya diatas kasur empuk itu. Mungkin saja kenyamanan ini takkan ia rasakan kembali esok karena kasur yang ada di kost pasti takkan seempuk ini. Dirinya sungguh bersyukur karena bisa merasakan kemewahan dunia ini walaupun hanya beberapa jam saja.
***
"Calon istri sudah ada di rumah, tapi nggak bisa nyambut kedatangannya" gumam Lio kesal.
Kini ketiga sahabatnya dan Agung sudah terlelap dalam tidurnya sedangkan ia tak bisa tidur sehingga lebih memilih duduk disamping brankar kakeknya. Ia menatap kakeknya yang belum sadar juga sedari siang karena efek obat bius yang digunakan saat operasi besar tadi. Dokter pun sudah memprediksi kalau baru besok Kakek Angga akan terbangun. Bahkan kini kakeknya saja tertidur dalam posisi tengkurap membuat Lio hanya bisa mengusap area sekitarnya.
__ADS_1
"Kek, Ratu sudah datang lho. Bangun napa, marahi Lio lagi yuk biar nggak dekati cucu perempuanmu itu" ucap Lio sambil terkekeh pelan.
Dirinya sungguh rindu dengan kakeknya yang bawel dan cerewet kalau sudah bersangkutan bersama Ratu. Tentunya ia ingin kembali merasakan moment-moment itu walaupun sebenarnya kadang ia jengkel juga.