Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kisah Nathan


__ADS_3

"Ngapain kalian kesini? Masih ingat kalau punya anak?" Ketus Nathan saat melihat kehadiran kedua orangtuanya kini ada di ruang rawat inap.


Yang datang itu adalah kedua orangtua dari Nathan. Awalnya ia terkejut melihat kedatangan mereka namun ia segera menetralkan raut wajahnya menjadi datar kembali. Raut wajahnya terlihat datar namun dalam hatinya ia sedikit bahagia karena tahu kalau orangtuanya datang menjenguknya. Ia berpikir kalau orangtuanya itu sedikit peduli terhadapnya walaupun kini wajah mereka terlihat masam.


"Kami takkan datang kesini kalau saja orang-orang ini tak menjemput kami" ketus Mama Nathan seakan tak peduli dengan perasaan anaknya itu.


Deg...


Hati Nathan bagaikan diiris sebuah pisau tak kasat mata. Ia tak menyangka jika ibunya sendiri bisa mengucapkan hal seperti itu kepadanya. Padahal ia adalah anak kandungnya namun seperti seorang anak angkat. Ia pikir kehadiran mereka kesini karena murni ingin menjenguknya namun ternyata dugaannya salah.


Selama ini kedua orangtuanya memang tak pernah peduli terhadapnya. Selalu saja yang mereka pikirkan adalah karir bahkan sejak kecil hanya ART di rumahnya lah yang peduli. Namun sayang ART itu telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Setelah ART nya meninggal, ia menjadi sering mengadu tentang kehidupannya pada Kakek Angga.


Bahkan mereka sama sekali tak mau mengeluarkan uang sepeser pun untuk Nathan. Dari dulu biaya hidupnya malah dibiayai oleh ART yang bernama Mbok Nia dan Kakek Angga yang notabene adalah tetangganya sendiri.


"Sorry Nath, gue yang bawa mereka kesini. Biar otaknya agak benar sedikit kalau lihat anaknya lagi dalam masa sakit seperti ini harusnya dijenguk. Tapi kalau sampai mereka tak sadar juga, berarti keduanya nggak punya otak seperti orangtuaku" ucap Lio menyindir dengan sarkasnya.


"Buat apa, Lio? Buat menghina dan mengucapkan kalimat pedas yang menyakitkan. Lagi pula mereka kesini juga nggak akan kasih gue duit buat bayar perawatanku kok. Jangankan biaya rumah sakit, biaya makan dan sekolah saja gue dari belas kasihan oranglain" ketus Nathan sambil tertawa miris.


Jika dipikir, kehidupan Nathan sangat lah miris makanya ia tak pernah mah terlalu memikirkan masa depan ataupun masa lalunya. Namun tentunya Kakek Angga lah yang akan terus membentuk dirinya agar bisa meraih masa depannya kelak.

__ADS_1


"Jangan kurang ajar kamu ya sama orangtua. Kalian berdua itu sama, tidak berguna makanya kami sebagai yang membuat nggak mau mengurus. Lalu sekarang mau apa? Toh nyatanya Nathan masih tinggal di rumah kami secara gratis walaupun biaya makan dan sekolah harus berpikir sendiri" ucap Papa Nathan menantang.


Lio hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dan ucapan keduanya yang tak jauh beda dengan kedua orangtuanya. Bahkan yang ini lebih miris, mengungkit anaknya yang tinggal di rumah mereka. Rasanya ingin sekali Lio menyumpal mulut mereka dengan sabun pembersih toilet agar keracunan sekalian.


"Saya hanya ingin surat pernyataan dari kalian. Kalian menyerahkan Nathan kepada kakekku sebagai wali asuh, bahkan dia juga akan angkat kaki dari rumah anda" ucap Lio dengan tegasnya.


Kakek Angga sudah memberitahu dirinya kalau ia membutuhkan surat-surat itu untuk mengurus agar Nathan bisa menjadi anak asuhnya. Dengan adanya surat ketentuan hukum wali asuh, tentunya nanti Nathan akan masuk dalam kartu keluarga mereka sehingga saat pendaftaran sekolah akan lebih mudah.


Nathan terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Lio. Tentunya ada rasa bahagia saat orang yang sejak dulu terus membantunya itu ternyata malah mengajukan dirinya sebagai walinya. Ia merasa diinginkan di keluarga Lio dibandingkan orangtuanya sendiri.


"Lio... Kakek dan loe nggak perlu ngelakuin kaya gini. Kalian udah banyak bantu gue" tolak Nathan tak enak hati.


"Nggak, ini udah keputusan gue sama kakek. Loe masuk dalam kartu keluarga kakek" ucap Lio dengan tegasnya.


Mendengar hal itu tentunya malah membuat Nathan tak enak hati. Akhirnya Nathan menganggukkan kepalanya setuju. Ia yakin dirinya tak kuat lagi jika mendengar segala cacian yang dilontarkan kedua orangtuanya itu padanya. Terlebih mereka mengungkit dirinya yang tinggal dirumahnya yang itu artinya dia sudah tak dianggap keluarga.


"Baiklah. Saya akan menyerahkan hak wali asuh pada kakekmu itu. Lagi pula kami berdua tak butuh Nathan karena sudah mempunyai anak lain yang jauh lebih lucu dan penurut. Oh yang jelas nggak pecicilan kaya kalian" ucap Mama Nathan dengan pedasnya.


Mendengar hal itu Nathan memalingkan wajahnya dan mengepalkan kedua tangannya. Emosi dirinya mendengar ucapan tak punya hati yang terlontar dari bibir keduanya. Namun dia sangat penasaran dengan siapa anak yang dimaksud oleh mereka itu, pasalnya setiap ketemu sepertinya mamanya itu tak sedang hamil jika memang ia punya seorang adik.

__ADS_1


Lio keluar ruangan itu sebentar kemudian tak berapa lama langsung kembali. Lio datang dengan membawa sebuah surat yang telah disiapkan kakeknya dengan sebuah materai didalamnya.


"Silahkan tulis nama, nomor KTP, alamat, dan tanda tangan diatas materai ini" ucap Lio dengan tegasnya.


Mereka dengan cepat langsung mengambil kertas yang disodorkan kemudian melengkapi apa yang diminta. Bahkan mereka melakukan itu tanpa pikir panjang membuat Lio hanya bisa mengelus dadanya sabar.


"Sebegitu tak ingin kah kalian melihatku dan menerimaku sebagai anak? Bahkan kalian sama sekali tak menanyakan kabarku dulu di saat melihat aku terbaring diatas brankar rumah sakit. Secepat itu kalian menyerahkanku pada oranglain seakan tak ada beban sama sekali" batin Nathan tersenyum miris.


Lio melirik Nathan sekilas, ada raut kekecewaan dan kesedihan di matanya namun pemuda itu berusaha menutupinya. Lio harus tegas melakukan ini agar di masa depan nanti orangtua sahabatnya itu tak merongrong kehidupan Nathan yang sudah membaik. Walaupun sebenarnya memutus hubungan silaturahmi antara anak dan orangtua itu tak diperbolehkan.


"Sudah" ucap Mama Nathan sambil menyerahkan kertas itu.


Lio mengambilnya kemudian meminta Nathan ikut bertandatangan disana. Dengan tangan gemetaran, Nathan langsung membubuhkan tandatangannya disana. Setelah selesai, Nathan segera menyerahkannya kembali pada Lio.


"Jika suatu saat nanti Nathan sukses, kalian tak boleh mengganggu kehidupannya. Anggap saja orang asing yang baru saja bertemu" ucap Lio yang melihat kedua orangtua sahabatnya itu sudah berdiri didepan pintu.


"Baik. Kalau ketemu kami, anggap saja kita sebagai orang asing juga. Nggak usah nyapa dan sok akrab" ketus Mama Nathan tak punya hati.


Keduanya segera keluar dari ruang rawat itu dengan tanpa beban. Sedangkan Lio mendekat kearah Nathan kemudian memeluknya dengan begitu erat. Nathan menangis tersedu-sedu seakan apa yang diucapkan oleh kedua orangtuanya itu begitu menyakiti hatinya.

__ADS_1


__ADS_2