
Beberapa oknum yang dulunya tak mau membantu sepasang suami istri itu tentunya langsung mengalihkan wajahnya. Mereka sama sekali tak mau melihat kearah orangtua korban itu karena khawatir kalau keduanya mengenali wajah-wajah dari orang yang tak mau membantunya. Namun Kakek Angga yang sudah tahu siapa saja yang terlibat disini tentunya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Menurut Kakek Angga, mereka sungguh kekanak-kanakan. Padahal semua sudah dewasa namun menyelesaikan masalah seperti ini saja semuanya seakan pada lari. Bahkan para donatur yang sepertinya mengetahui kejadian ini juga hanya diam.
"Kok saya jadi seperti orang bodoh ya disini? Nggak tahu apa-apa mengenai kasus ini" ucap Pak Alim sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Baru sadar, pak?" tanya Yuda dengan polosnya.
Ketiga sahabat Yuda hanya bisa menahan tawanya mendengar ucapan polos dari pemuda itu. Padahal banyak orang penting disana, namun bisa-bisanya pemuda itu malah seperti mengejek Pak Alim yang jabatannya lebih tinggi. Kakek Angga juga terkekeh pelan karena sepertinya suasana didalam ruangan ini bisa sedikit mencair.
Pak Alim hanya tersenyum saja melihat mahasiswa baru didepannya ini ternyata punya sifat pemberani. Bahkan mereka tak segan untuk bercanda walaupun kondisinya saat ini sedang tegang. Kedua orangtua korban langsung saja duduk di kursi dekat dengan Kakek Angga.
"Pak Alim yang terhormat, ini adalah orangtua korban pembullyan salah satu mahasiswa yang sampai saat ini masih aktif di kampus ini. Sekarang tolong kepada bapak dan ibu untuk menunjuk siapa saja yang dulu mempersulit laporan anda" ucap Kakek Angga sambil memperkenalkan keduanya pada rektor yang kebingungan itu.
Orangtua korban pembullyan itu segera saja menunjuk beberapa orang yang ada disana. Padahal orang-orang penting itu sudah memberi kode pada keduanya untuk tak menunjuk mereka namun tak dipedulikan. Mereka kini punya Kakek Angga yang jabatannya lebih tinggi dan akan melindungi mereka berdua.
"Itu.... 4 orang yang berdampingan, sama yang paling ujung" ucap ibu korban.
"Tolong Pak Alim, diperhatikan kemudian lakukan pemecatan karena mereka tak pantas bekerja disini. Kampus ini namanya hanya akan jelek di mata masyarakat kalau didalamnya ada orang-orang seperti ini" putus Kakek Angga.
Sontak saja keputusan Kakek Angga yang sepihak ini membuat semua yang ditunjuk langsung saja berdiri. Mata mereka menatap tajam kearah Kakek Angga membuat Lio dan ketiga sahabatnya langsung saja ikut berdiri. Mereka dengan sigap berdiri didekat Kakek Angga.
__ADS_1
Tujuan mereka hadir disini memang untuk menjaga Kakek Angga dari banyaknya orang yang ingin menjatuhkannya. Terlebih kini tenaganya tak sekuat dulu akibat kejadian beberapa hari yang lalu. Tentu sebagai seorang cucu, Lio akan berusaha melindungi kakeknya itu.
"Baik, pak. Surat pemecatan tidak hormat akan kami segera buat. Dan untuk pihak yang berwajib, saya mohon untuk menangkap oknum-oknum ini karena telah mencoreng salah satu institusi pendidikan juga menghalang-halangi pemeriksaan. Bahkan mereka juga ikut menutupi kasus ini dan membiarkan pembullynya masih berekeliaran" ucap Pak Alim dengan tegas.
Tak butuh waktu lama, pihak kepolisian pun akhirnya langsung menangkap 5 orang terduga pelaku. Mereka semua memberontak, namun semua bukti kini sudah berada ditangan pihak kepolisian. Hal ini sudah jelas kalau mereka bersalah atas kejadian ini. Apalagi CCTV dan penyadap suara sudah bisa menjadi bukti yang kuat.
"Awas saja kalian. Aku akan balas dendam lebih parah".
"Aku akan buat image kampus ini jadi jelek biar tidak ada yang mau berkuliah disini".
"Dasar pak tua tidak beradab".
Mereka semua memberontak untuk dilepaskan namun sama sekali tak digubris. Bahkan ada yang sampai menghina dan mengancam orang-orang yang ada disana namun tak dipedulikan sama sekali. Menurut Kakek Angga, mereka hanya berani pada orang tak punya sedangkan menghadapi orang berduit tentu akan susah.
Tentunya saat 5 orang itu dibawa keluar gedung, sontak saja semua mahasiswa yang sedari tadi menunggu menjadi heboh. Donatur kampus dibawa pihak kepolisian keluar membuat mereka bertanya-tanya dengan kejadian sebenarnya. Kelima orang itu sungguh malu karena dilihat oleh semua penghuni kampus.
"Woy... Itu ada bapaknya si Selly yang katanya kaya raya itu. Yah... Kalau bapaknya ditangkap polisi, nanti dia udah nggak bisa bully lagi dong" seru salah satu mahasiswa.
"Kita bebas woyy. Nggak akan ada yang bully lagi, kita harus berani membalas apa yang dilakukannya. Sekarang udah nggak ada yang perlu ditakutin lagi, dia tak punya kekuasaan apa-apa di kampus ini" teriaknya.
Semuanya tampak begitu lega dan bahagia karena kampus ini akan semakin nyaman tanpa pembullyan. Bahkan mereka yang dulunya tak berani kepada Selly, malah kini sudah menunjukkan taringnya. Sedangkan Selly sendiri kini tengah bersembunyi karena mendengar ayahnya ditangkap polisi.
__ADS_1
Kemungkinan juga, Selly akan diuber oleh semua mahasiswa yang dulu pernah dibullynya. Sepertinya ia harus secepatnya pergi dari kampus ini agar tak jadi sasaran amukan mahasiswa. Setelah melihat sekitar sepi, segera saja ia langsung berlari kearah parkiran mobilnya.
Namun semua tampak sia-sia bagi Selly karena didekat mobilnya ada beberapa anggota polisi. Tentunya mereka sebelumnya sudah mencari informasi mengenai siapa pelaku pembullyan itu. Bahkan sudah ada beberapa anggota polisi tengah mencari keberadaannya.
"Kenapa ada polisi didekat mobilku? Bukannya mereka hanya menangkap ayah. Jangan-jangan mereka mau menangkap aku juga lagi" gumam Selly sedikit panik.
Saking paniknya, Selly langsung saja bergegas berbalik arah menuju ke parkiran sepeda motor. Didekat sana ada sebuah pintu yang biasanya digunakan untuk menembus area jalan raya. Ia segera berlari sambil menutup kepalanya dengan hoodie.
"Itu pelakunya" teriak salah satu anggota polisi.
Tentunya semuanya langsung bergerak mengejar Selly. Selly panik dan buru-buru berlari secepat kilat. Teriakan itu membuat semua yang ada disekitar area itu langsung berbondong-bondong melihat. Apalagi mendengar kata pelaku yang membuat mereka penasaran.
"Itu Selly... Mau ditangkap polisi" teriak salah satu mahasiswa.
Benar saja, semuanya langsung antusias melihat pelaku pembullyan di kampus mereka. Mereka sangat ingin melihat wajah sombong Selly setelah ditangkap pihak yang berwajib. Bahkan Ratu, Meli, dan Salwa juga langsung saja ikut-ikutan yang lainnya.
"Ngeri ya, masa di kampus itu kita banyak pelaku kaya gini sampai disamperin polisi" ucap Meli yang berjalan bersama kedua temannya.
"Makanya jangan suka sombong dan berbuat jahat. Kena karma kan sekarang" ucap Ratu sambil terkekeh.
Tentunya ia masih sebal mengingat bagaimana sombongnya Selly tadi pagi saat melabrak dirinya. Dia yang salah namun malah mau balas dendam dengan membullynya. Hal itu tentu membuat Ratu tak terima.
__ADS_1