Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kedekatan


__ADS_3

Lio membawa ibu dari Adin segera pulang ke rumahnya. Bukan rumah Adin melainkan kontrakan Lio. Ia tak yakin jika Adin bisa merawat ibunya terlebih anak itu berada di lingkungan yang begitu kumuh. Akhirnya Lio memutuskan membantu mereka untuk tinggal di rumah kontrakannya. Lagi pula mereka akan tinggal bersamanya sampai kondisi ibu Adin sehat.


Sebandel-bandelnya ia sebagai seorang ketua geng motor, ia masihlah mempunyai hati jika ada orang sekitarnya yang membutuhkan bantuan maka ia harus membantunya. Walaupun hampir semua orang yang mengenalnya memberikan stempel bahwa dia adalah anak berandalan, namun Lio tak pernah menggubrisnya. Toh semua kebaikan tak harus dibagikan atau dipamerkan pada semua orang.


Kini Adin dan Ratu mengikuti Lio dari belakang bahkan sesekali mereka menyapa tetangga yang ketiganya kenal. Namun kali ini Adin begitu bingung karena jalan yang mereka lalui bukanlah yang menuju ke rumahnya. Begitu pun dengan Ratu yang tadi tak jadi melakukan cek kesehatan karena lebih memilih membanti ibu dari Adin.


"Bang, kok kita lewat jalan ini? Ini kalau ke rumah Adin udah lewat lho" tanya Adin dengan bingung.


"Mulai sekarang kalian tinggal bersama abang di kontrakanku sampai ibu sembuh" ucap Lio.


Adin hanya bisa menganga tak percaya mendengar ucapan Lio. Orang yang bahkan tak mengenalnya malah dengan sigap membantunya dimulai dari pengobatan hingga tempat tinggal. Adin juga merasa kalau tinggal di rumahnya pasti ibunya takkan terurus. Terlebih beberapa sumber mata air disana juga tak baik untuk kesehatan ibunya.


Sedangkan diam-diam, Ratu memuji bahkan kagum dengan apa yang dilakukan oleh Lio. Bahkan baru kali ini ada pemuda yang mau menolong orang-orang berpakaian lusuh. Mungkin tetangganya yang lain saja takkan mau menolong orang-orang seperti Adin itu.


"Tapi bang, nanti kita malah ngrepotin lho" ucap Adin tak enak hati.


Sedangkan ibu Adin yang berada di gendongan Lio itu merasa terharu bahkan matanya berkaca-kaca. Ia masih tak menyangka jika ada orang yang mau berdekatan dengan orang sepertinya. Bahkan ia yakin jika bau badannya saja sudah membuat orang enggan untuk mendekat.

__ADS_1


Ibu Adin masih menatap wajah Lio yang begitu tampan, bahkan ia berpikir jika orang yang menolongnya ini bukanlah orang asli desa ini. Ia juga belum pernah melihat Lio berkeliaran di sekitar sini. Darimana pun ia berasal, semoga memang niatnya datang untuk membantu orang-orang disekitarnya.


Setelah berjalan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka berempat sampai didepan rumah kontrakan Lio. Beberapa tetangga disana langsung saja berkerumun bahkan menatap heran Lio yang menggendong seorang wanita yang terlihat lusuh. Bahkan saat akan mendekat, mereka lebih memilih sedikit jauh karena bau yang lumayan mengganggu penciuman.


"Nggak usah sok tutup hidung. Lebih baik bau badan daripada bau hati yang busuk. Emang nggak terasa sih di hidung, tapi efeknya itu lho ntar bisa nambah dosa dan masuk neraka" ucap Lio menyindir orang-orang yang sedang menutup hidungnya dengan tangan.


Walaupun Lio juga merasa kalau bau badan Adin dan ibunya mengganggu penciuman hidungnya, namun ia berusaha untuk menahannya. Ia tak mau jika keduanya tersinggung karena ia menutup hidungnya. Jika ia berada di posisi Adin malah mungkin akan langsung menghajar orang-orang yang ingin tahu tetapi terlihat jijik kepadanya.


Mendengar sindiran itu, orang-orang yang tadi berkerumun langsung saja tak menutup hidungnya lagi. Namun mereka malah lebih memilih menjauh dari Adin dan ibunya. Hal ini membuat Lio dan Ratu hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Adin dan ibunya hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya.


"Tenang saja, habis ini saya akan melapor ke RT atau tetua setempat kalau mereka berdua akan tinggal bersama saya sebagai keluarga. Biar nggak ada yang berani fitnah-fitnah lagi" ketusnya.


"Mau-maunya tuh pemuda kota bantuin orang yang bau badan kaya gitu. Kalau aku sih bukannya nggak mau bantu, cuma nggak tahan aku sama baunya. Bisa-bisa belum membantu malah muntah-muntah duluan" ucap Mpok Yati menggunjing setelah melihat semuanya telah masuk kedalam kontrakan.


"Jangan gitu, mpok. Kalau mau membantu orang itu nggak boleh pilih-pilih dengan kriteria seperti itu. Kalau mau bantu ya pilihlah yang benar-benar membutuhkan bantuan" ucap temannya menasihati.


Mpok Yati melengoskan mukanya mendengar nasihat dari temannya itu. Dengan wajah ditekuk, Mpok Yati memilih pergi dari kerumunan tetangganya kemudian pulang ke rumahnya. Sedangkan temannya yang measihati Mpok Yati hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui sikap tetangganya itu.

__ADS_1


"Bukannya orang desa itu rasa simpatinya lebih besar ke sesama ya, lha ini kok malah kelihatan anak kota yang begitu ya" gumamnya pelan membandingkan.


***


"Ustadzah, disini kalau ada warga baru yang tinggal bersama tanpa ikatan darah harus melapor kepada siapa? Saya hanya ingin membantu sampai ibu ini sembuh karena lingkungan rumahnya tak mendukung untuk pemulihan kesehatannya" tanya Lio.


"Lapor saja pada bapaknya si Ratu, nak Lio" jawab Ustadzah Siti dengan tersenyum.


Lio menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari rumah kontrakannya setelah menitipkan Adin dan ibunya kepada Ustadzah Siti juga Ratu. Saat keluar rumah, terlihat kalau warga desa itu masih banyak yang berkerumun didepan kontrakannya. Tanpa menghiraukan mereka, Lio pun bergegas pergi ke rumah Ratu untuk menemui ayahnya.


"Mas Lio, bapak ada di sawah" seru Ratu yang tiba-tiba keluar.


Lio yang memang belum jauh berjalan pun mengalihkan pandangannya kearah suara Ratu. Lio menjawab ucapan dari Ratu itu dengan menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan perjalanannya kembali. Ratu tadi hampir saja lupa kalau ayahnya memang sedang tak ada di rumah.


***


"Lebih baik ibu nanti Ratu yang bantu untuk membersihkan diri di kamar mandi ya. Nanti untuk pakaiannya pakai punya saya saja yang sudah kebesaran" ucap Ustadzah Siti dengan ramah.

__ADS_1


Ustadzah Siti pun pergi dari rumah kontrakan Lio bersama dengan Adin yang akan mandi di rumahnya. Sekalian nanti ia minta tolong Adin untuk membawa beberapa pakaian bekas layak pakai untuk dikenakan bocah laki-laki itu dan ibunya. Ratu  pun segera memapah Ibu Adin untuk dibawanya ke kamar mandi setelah meletakkan sebuah kursi untuk wanita paruh baya itu duduk.


Dengan telaten, Ratu membersihkan seluruh badan Ibu Adin itu dengan sabun walaupun wanita paruh baya itu malu. Namun ia juga belum kuat jika tangannya harus digunakan untuk membersihkan tubuhnya sendiri. Ratu melakukan hal itu dengan ikhlas bahkan selalu mengajak Ibu Adin itu ngobrol agar tak canggung lagi.


__ADS_2