Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kabar


__ADS_3

"Kalian tadi kebut-kebutan di jalan, boy?" tanya Kakek Angga saat Nathan dan Lio memasuki ruang makan.


Agung sudah duduk disana sedari tadi bersama dengan Kakek Angga. Setelah membersihkan diri tadi, Agung langsung turun ke ruang makan sedangkan Lio dan Nathan malah asyik bermain dengan game ponselnya di kamar dulu. Saat mereka berdua sampai di ruang makan bahkan belum duduk sudah dicecar oleh Kakek Angga dengan pertanyaan mengenai kejadian tadi.


"Bisa, itu si sebelah ngajak war mulu" jawab Lio dengan santai.


"Lain kali ladenin" ucap Kakek Angga.


Bukannya melarang cucunya untuk berantem namun Kakek Angga malah menyuruh keduanya untuk menghadapi musuh bebuyutannya itu. Kakek Lio sangat yakin jika Lio dan Nathan pasti bisa menghadapi mereka walaupun lawannya terhitung banyak. Namun karena ada Agung membuat mereka harus menghindar walaupun sebenarnya jika nanti keduanya melawan akan ada anak buahnya yang membantu.


Kakek Angga memang selalu menempatkan banyak anak buahnya untuk mengawasi Lio setelah kejadian cucunya itu tersesat. Ia tak mau sampai cucunya kembali tersesat membuatnya nanti bisa kalang kabut. Sedangkan Lio mungkin tak menyadari kehadiran anak buah kakeknya itu.


"Bawa bocil, nanti kalau nangis karena tendangan kan berabe" ucap Lio sedikit menyindir.


Agung hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal karena seperti disindir oleh Lio. Dirinya takut jika memang nantinya membuat mereka digeruduk oleh banyak anggota geng motor itu. Terlebih Lio dan Nathan hanya berdua saja, bisa-bisa mereka bonyok.


Mereka pun akhirnya makan malam bersama dalam keadaan hening. Agung dan Nathan begitu bahagia bisa bergabung dengan keluarga Lio. Walaupun disini hanya ada Kakek Angga saja yang tua namun rasa hangat dari sebuah keluarga begitu terasa.


Padahal dulunya Lio jarang sekali duduk di meja makan bersama dengan kakeknya itu. Terlebih dirinya begitu sibuk dengan geng motornya, namun entah mengapa setelah kejadian tersesat itu membuatnya ingin sedikit mundur dari dunia malam itu.


***

__ADS_1


"Apa kabarmu disana, Ratu? Aku rindu" gumam Lio dengan mata menatap lurus keatas langit-langit kamarnya.


Sedangkan Nathan yang sedang bermain ponsel disamping Lio pun langsung mengalihkan pandangannya kearah sahabatnya itu. Terlebih ia sudah mendengar nama Ratu disebutkan dua kali hari ini.


"Lio, sebenarnya siapa Ratu? Apa yang kau maksud seseorang yang mengubahmu itu adalah Ratu?" tanya Nathan begitu penasaran.


Lio hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Nathan. Mengingat nama Ratu membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang tak waras saja. Senyum dan tutur katanya yang lembut bahkan rona wajahnya yang malu-malu itu sangat terngiang dalam pikirannya.


"Iya, dia yang ngubah gue. Walaupun baru beberapa hari bertemu, tapi tutur lembutnya itu lho bikin hati adem. Dekat dengannya itu justru mendekatkanku sama Tuhan, apalagi loe tahu sendiri gimana gue selama ini" cerita Lio pada sahabatnya itu.


Nathan begitu tercengang dengan apa yang diceritakan oleh Lio. Bahkan kini ia langsung duduk sambil bersandar di ranjang Lio sambil menatap sahabatnya itu. Ia tak menyangka ada seseorang yang mampu mengubah jalan pikiran sahabatnya itu terlebih seorang gadis.


"Loe pacaran sama dia?" tanya Nathan.


"Gue aja tiap ketemu sama bapaknya dipikir akan buat macam-macam ke anaknya terus. Tiap hari dapat omelan gue dari bapaknya" lanjutnya bercerita.


Nathan menganggukkan kepalanya mengerti. Beruntung gadis lurus dan baik itu tak berpacaran dengan Lio yang pacarnya dimana-mana. Lio yang begitu susah untuk lepas dari pacar-pacarnya disini itu harusnya menjadi PR bagi laki-laki itu agar segera berubah.


"Tapi gue janji sama dia waktu pamit kemarin. Suatu saat gue bakal bali kalau udah sukses dan pantas menjadi imamnya" ucap Lio.


Nathan melihat tatapan serius dan berbinar dari mata Lio. Saat ini Nathan begitu yakin jika sahabatnya itu telah menaruh rasa pada gadis desa yang ditemuinya saat tersesat waktu itu. Namun Nathan sebagai seorang sahabat tentunya akan menegur Lio jika nanti laki-laki itu menyakiti gadis itu.

__ADS_1


"Putusin tuh pacar-pacarmu disini. Gimana mau pantas jadi imam kalau pacarnya aja banyak" sindir Nathan.


Lio hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia memang berniat untuk memutuskan semua pacar-pacarnya terutama yang begitu berisik dan menyusahkannya. Untuk Adelia, ia masih mempertimbangkannya karena keduanya sudah punya komitmen saling menguntungkan. Namun ia rasa kesetiaannya hanya akan pada satu wanita yaitu Ratu seorang.


***


Ratu begitu sibuk belajar untuk persiapan ujian kelulusan yang akan berlangsung beberapa bulan yang lalu. Seharusnya Lio juga belajar dengan tekun karena sebentar lagi ujian namun laki-laki itu begitu santai dalam menghadapinya. Di keheningan desa itu, hampir tak ada suara orang yang lewat karena ronda akan dilaksanakan nanti hampir tengah malam.


"Kok tiba-tiba aku jadi ingat Mas Lio ya" gumam Ratu.


Hanya mengingat nama laki-laki itu saja sudah membuat wajahnya terasa panas dan memerah. Bahkan kini ia memandang sebuah kertas berisi nomor ponsel Lio yang laki-laki itu selipkan dalam oleh-oleh yang diberikannya. Lio juga sempat membisikkan tentang memintanya segera menghubunginya jika sudah punya ponsel nanti.


"Astaghfirullah..." ucap Ratu tiba-tiba karena merasa bersalah.


Ratu merasa bersalah karena malah mengingat seseorang yang bukan mahramnya. Harusnya kini ia harus belajar rajin agar nanti bisa melanjutkan kuliahnya di kota. Sang ayah juga sudah mengijinkan keinginan dari Ratu namun dengan syarat berbeda kota dengan Lio.


Apalagi di desa ini sangat jarang remaja yang melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi seperti kuliah. Ratu ingin mengubah pandangan mereka tentang seorang perempuan tidak boleh berpendidikan tinggi karena nanti pada akhirnya hanya berakhir di rumah saja.


Ratu juga ingin sekali memajukan desanya agar tak tertinggal dengan daerah lainnya. Terlebih dalam bidang teknologi baik dari pertaniannya maupun internetnya.


"Ayo belajar. Jangan ingat dia lagi. Lagi pula suatu saat nanti pasti akan bertemu entah sebagai seorang calon suami atau sahabat saja" gumam Ratu menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Ratu segera melanjutkan membaca buku pelajaran sambil mengerjakan soal latihan matematika. Ada beberapa soal yang membuatnya pusing hingga harus beberapa kali merebahkan kepalanya. Keterbatasan akses internet yang membuatnya tak bisa mencari referensi lain tentang cara menyelesaikan soal yang ada di bukunya.


Satu jam berlalu, Ratu memilih menyudahi kegiatan belajarnya. Ia segera merapikan bukunya kemudian memasukkannya dalam tas. Sedangkan selembar kertas berisi nomor ponsel Lio itu ia simpan dalam sebuah kotak yang ada di meja belajar.


__ADS_2