
Tadi saat Nathan sedang membeli makanan dengan Agung, ia merasakan perasaan tak enak. Ia menduga akan ada pertengkaran hebat antara Lio dan kedua orangtuanya. Terpaksa juga ia meninggalkan Agung di kantin untuk sarapan terlebih dahulu. Ia tak mungkin mengajak Agung dalam situasi yang membuatnya juga panik itu.
Benar saja saat pintu ia buka dengan kasar karena terlalu terburu-buru, terlihat Lio tengah mencekik leher papanya. Sedangkan Mama Lio melihat pertengkaran itu dengan raut wajah paniknya dan takut kalau terjadi sesuatu dengan mantan suaminya itu. Kakek Angga menatapnya dengan sedikit menghela nafas lega karena ada seseorang yang peka dengan situasi. Terlebih Kakek Angga tak ingin jika nanti cucunya berurusan dengan pihak berwajib akibat ulahnya ini.
"Lio, jangan kotori tanganmu untuk menghajarnya" seru seseorang yang baru saja membuka pintu dengan kasar yang tak lain adalah Nathan.
Lio tak menggubris peringatan dari Nathan karena sudah terlanjur emosi dengan apa yang diucapkan oleh papanya itu. Bahkan kini nafas Papa Lio sepertinya sudah melemah karena cekikan terlalu kuat dari anaknya. Nathan yang melihat hal itu segera saja merangkul Lio pada bahunya kemudian membisikkan sesuatu untuk menenangkannya.
"Jangan gegabah. Balas mereka dengan elegant. Kesuksesan dan kemandirianmu bisa jadi tamparan untuk mereka di masa depan, bukan dengan cara kekerasan seperti ini" bisik Nathan sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
Mendengar ucapan Nathan itu sontak saja cekikan tangan Lio pada leher papanya melemah. Sepertinya Lio terpengaruh oleh ucapan Nathan sehingga emosinya jauh lebih stabil. Kakek Angga dan Nathan yang melihat hal itu menghela nafasnya lega.
Brughhh....
Tubuh Papa Lio meluruh ke lantai saat tangan anaknya yang mencekik lehernya itu sudah melepaskan cekikannya. Papa Lio langsung saja merebahkan badannya ke lantai kemudian menghirup udara dengan rakus. Nafasnya terlihat begitu sesak sehingga harus menggunakan mulutnya untuk bernafas. Mama Lio juga langsung mendekat kearah mantan suaminya itu kemudian menghapus keringat yang mengalir pada keningnya dengan tisue.
"Lio, kau benar-benar keterlaluan" seru Mama Lio.
__ADS_1
Belum reda emosi dari Lio namun ia sudah mendapatkan seruan dari mamanya sendiri. Padahal jelas-jelas disini yang berbuat ulah adalah papanya namun justru mamanya itu membela mantan suaminya. Sungguh luar biasa tingkah kedua orangtua Lio ini. Nathan segera pergi dari mereka sebentar untuk memanggil anak buah Kakek Angga.
Demi menjaga agar tak terjadi keributan lagi, lebih baik jika kedua orangtua Lio diusir oleh anak buah Kakek Angga. Tak berapa lama, kedua anak buah Kakek Angga masuk dalam ruang rawat inap kemudian menarik tangan orangtua Lio agar segera pergi dari sana.
"Eiiii... Kita belum selesai. Pokoknya kita nggak mau tahu, kasih uang dulu baru kita pergi" seru Mama Lio tak terima jika ditarik paksa seperti ini.
Kakek Angga dan Lio tak bergeming, sedangkan Nathan langsung memberi kode kepada mereka untuk segera menarik pergi dua orang itu. Keduanya terus memberontak namun anak buah Kakek Angga tak membiarkannya bahkan langsung saja ditariknya. Nathan juga ikut keluar karena akan menjemput Agung yang masih berada di kantin.
***
"Lio, tolong jangan buat kakek takut dan khawatir. Kalau kamu sampai menghabisi mereka, bisa saja kamu masuk penjara. Kakek nggak mau cucu satu-satunya yang aku punya ini harus mendekam dalam penjara. Kontrol emosimu, nak" ucap Kakek Angga dengan pandangan sendunya.
"Maafkan Lio, kek" ucap Lio lirih.
Emosinya tadi sudah tak bisa ia kontrol. Rasanya ingin sekali ia melampiaskan semua rasa kecewa dan kesal yang ada dalam dada akibat ucapan kedua orangtuanya. Namun lagi-lagi ia harus menahannya karena tak mau jika Kakek Angga pada akhirnya terluka dan kecewa akibat ulahnya. Ia merasa bersalah pada kakeknya itu hingga tak mampu lagi untuk menatap kearahnya. Hanya pandangan lurus kearah pintu yang membuat ia bisa sedikit menyembunyikan emosinya.
"Mandilah" titah Kakek Angga.
__ADS_1
Lio menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju ke kamar mandi yang ada dalam ruang rawat inap kakeknya dengan kedua tangan yang mengepal erat. Tak lupa ia membawa bajunya yang ada di tas ransel milik Agung untuk dibawa ke kamar mandi. Sedangkan tak berapa lama dari Lio masuk dalam kamar mandi, Nathan kembali bersama dengan Agung.
"Lio kemana, kek?" tanya Nathan dengan raut sedikit khawatir.
"Di kamar mandi" jawab Kakek Angga.
Nathan menghela nafas lega karena ternyata sahabatnya itu berada di kamar mandi. Ia kira kalau Lio tengah mengejar kedua orangtuanya. Segera saja Nathan duduk disamping brankar Kakek Angga setelah laki-laki paruh baya itu memberi kode padanya. Sedangkan Agung duduk kembali di sofa sambil menunggu Lio mandi.
"Terimakasih atas bantuan kamu sudah menenangkan Lio. Kakek tak bisa membayangkan tadi jika kamu tak datang tepat waktu" ucap Kakek Angga.
"Kakek tak perlu mengucapkan terimakasih. Lagi pula Lio itu saudara sekaligus adik aku, jadi sebisa mungkin Nathan selalu ada disaat dia seperti tadi" ucap Nathan sambil tersenyum tipis.
Kakek Angga menganggukkan kepalanya kemudian Nathan menyuapi beliau dengan bubur yang sudah diantar oleh pihak rumah sakit. Sedangkan Agung langsung masuk kamar mandi setelah melihat Lio telah selesai dengan kegiatan membersihkan dirinya.
"Itu Agung bawakan sarapan untuk abang dan kak Nathan" ucap Agung sambil menunjuk satu kantong plastik yang ada diatas meja sebelum masuk kamar mandi.
Lio hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Dia melihat Kakek Angga tengah disuapi oleh Nathan hanya bisa mengucapkan terimakasih pada sahabatnya itu. Ia segera makan sarapan yang dibelikan oleh Agung kemudian bergantian menjaga Kakek Angga dengan Nathan. Tak berapa lama, dokter yang memeriksa Kakek Angga datang kemudian memberitahukan bahwa laki-laki paruh baya itu sudah diperbolehkan untuk pulang.
__ADS_1
"Hanya ada luka luar saja. Bagian dalam semuanya aman. Mungkin masih akan terasa nyeri untuk beberapa hari ke depan karena ada lebam sedikit" ucap dokter itu melaporkan hasil pemeriksaannya.
Lio dan Kakek Angga menghela nafasnya lega karena ternyata semuanya baik-baik saja. Akhirnya setelah Nathan dan Agung selesai mandi, mereka membereskan semua barang bawaan yang ada di rumah sakit. Setelahnya mereka langsung saja keluar dari rumah sakit itu dibantu dengan anak buah Kakek Angga.