
"Kalau bukan orangtua, udah gue hajar itu orang yang dengan beraninya main fisik sama perempuan" kesal Lio mendumal sambil berjalan menuju rumah kontrakannya.
Lio yang pergi dari rumah Ratu itu begitu kesal dengan kelakuan ayah gadis itu yang dengan seenaknya menggunakan kekerasan untuk mendidik anaknya. Ia jadi ingat dengan kedua orangtuanya yang memperlakukan dirinya seperti Ayah Hakim ke Ratu. Bahkan kini Lio sudah mengepalkan kedua tangannya saat mengingat tentang kedua orangtuanya.
"Lio, bisa nggak kalau kamu itu jangan buat masalah terus. Baru masuk TK aja sudah pukul temannya" bentak Mama Lio.
Bahkan Lio waktu itu baru saja membuka pintu rumahnya dengan hati yang bahagia setelah pulang dari sekolahnya. Pasalnya ia melihat ada mobil sang mama terparkir di halaman rumahnya. Biasanya sang mama akan sangat jarang pulang sesiang ini sehingga ia dengan semangat langsung masuk rumah. Namun bukannya, sambutan hangat yang ia terima.
Sang mama malah membentaknya membuat ia ketakutan. Bahkan wajah mamanya begitu marah karena mendapatkan laporan dari sekolah bahwa Lio memukuli temannya sampai masuk rumah sakit. Tentunya itu adalah sang mama untuk segera pulang ke rumah demi melampiaskan kemarahannya.
"Dengarin penjelasan Lio dulu, ma" ucap Lio sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Masalah ini tak seperti apa yang mamanya pikir. Bahkan pihak sekolah saja salah paham padanya. Mereka berpikir bahwa Lio lah yang memulai semua pertengkaran ini. Padahal disini posisinya Lio hanya membela diri. Lio yang memang mendapatkan medali dari sebuah ajang lomba di luar sekolah ternyata membawanya ke sekolah. Temannya itu mengetahui tentang medali yang dibawa oleh Lio dan mengambilnya.
Lio yang tak terima itu pun tentunya meminta dengan baik-baik agar medali itu dikembalikan. Namun temannya itu malah melemparnya hingga nyangkut diatas pohon. Hal ini lah yang memicu Lio kalap hingga memukuli temannya itu. Pihak sekolah yang baru saja datang, mereka menyalahkan Lio tanpa mau mendengarkan penjelasannya lebih dahulu.
"Nggak ada yang perlu dijelaskan. Dasar anak nakal" sentak Mama Lio.
Mama Lio segera saja menarik tangan bocah kecil itu ke kamar mandi bawah. Mereka berdua masuk kesana dengan langsung mengguyur bahkan memukul tubuh Lio dengan gayung. Lio hanya bisa memberontak dan minta tolong, namun semuanya seakan tuli. Bahkan maid di rumah itu tak bisa berbuat banyak karena takut dipecat Mama Lio.
__ADS_1
***
"Hah...".
Lio menghela nafasnya kasar saat mengingat kejadian yang membuatnya sedikit trauma dengan cara mendidik orangtua. Setiap kali ia melihat ada anak yang dimarahi bahkan disakiti fisiknya oleh orangtuanya, pasti memori itu bagaikan kaset rusak yang terus berputar dalam otaknya.
"Sialan... Sialan..." umpat Lio yang kini duduk di teras depan rumah kontrakannya.
Matanya menatap keatas langit malam untuk menghalangi air matanya yang hendak berjatuhan. Ia begitu benci dengan dirinya yang rapuh karena mendapatkan siksaan fisik dari orangtuanya. Semenjak saat itu, ia menjadi anak nakal seperti kata-kata yang diucapkan oleh kedua orangtuanya.
Bahkan ia tak menuruti aturan sekolah yang menurutnya hanya membela orang yang mempunyai pengaruh dalam nilai akademik saja. Hal ini juga yang membuatnya menjadi laki-laki urakan demi menghilangkan rasa kecewa dalam hatinya kepada orang-orang di masa lalunya.
"Cengeng amat gue" ucap Lio sambil terkekeh pelan.
***
Keesokan harinya...
Lio terbangun saat shubuh berkumandang. Entah mengapa setelah mendengar sedikit ceramah dan menjalankan sholat maghrib juga isya' semalam, Lio merasakan kenyamanan dalam hatinya. Perasaannya sedikit tenang kala meminta mohon ampun saat selesai sholatnya walaupun bacaannya belum sempurna. Namun baginya tak ada kata terlambat untuk mempelajarinya. Ya, Lio berniat untuk belajar bacaan sholat agar ibadahnya itu lebih sempurna lagi.
__ADS_1
Lio menjalankan sholatnya di rumah untuk menghindari adanya gosip miring mengenai kejadian semalam. Setelah sholat, Lio mencuci baju koko dan sarung yang dipinjamnya kemarin serta membersihkan semua ruangan yang ada di kontrakan ini.
"Hah... Capek banget baru ngerjain ginian aja" keluh Lio saat selesai membersihkan kontrakannya.
Bahkan kini Lio duduk di lantai sambil mengibaskan tangannya agar terasa lebih dingin karena begitu gerah. Sepertinya hari ini pekerjaanya sangat banyak. Ia harus berbelanja makanan instant, sayuran, dan juga kipas angin. Lio seketika berdiri kemudian bergegas membersihkan diri.
***
"Eh Nak Lio... Kok semalam ribut sama Pak Hakim itu kenapa? Orang baru mah jangan banyak ulah apalagi beliau tetua di desa ini lho. Nggak takut dikutuk apa?" ucap salah satu bapak-bapak saat Lio lewat.
Setelah membersihkan badannya, Lio segera keluar dari kontrakannya. Ia berjalan kaki menuju area pasar untuk membeli barang-barang yang dibutuhkannya. Namun benar dugaannya jika kejadian semalam kini menjadi viral dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh orang yang berpapasan dengannya.
Lio hanya menanggapi semua pertanyaan yang diajukan oleh bapak-bapak itu dengan senyuman. Ia begitu malas menanggapi orang yang bahkan hanya membela pihak yang dianggap tetua disini. Padahal jelas-jelas dia kesana juga untuk membantu Ratu dan menegur cara mendidik orangtua itu. Terlebih nanti jika ia emosi, bisa saja malah membuat semuanya menjadi kacau.
"Iya, jangan diulangi lagi ya nak. Biarkan saja itu urusan Pak Hakim, kita sebagai warga disini udah biasa mendengar suara-suara kaya gitu" ucap salah satu bapak yang lainnya.
Biasa? Lio begitu geram dengan apa yang diucapkan oleh mereka. Harusnya sebagai tetangga mereka saling mengingatkan. Jangan cuma karena status mereka lebih tinggi atau dianggap tetua, membuatnya bisa bersikap seenaknya dan tak menerima kritikan sama sekali.
Daripada Lio emosi, ia segera saja pergi berlalu setelah sedikit menyapa bapak-bapak yang memang sedang berkumpul itu. Ia mempercepat langkahnya menuju pasar untuk membeli sesuatu yang sedari tadi sudah ia hafal. Sesampainya di pasar, ternyata ada ibu-ibu julid juga yang langsung mengomeli Lio panjang lebar.
__ADS_1
"Hei anak muda, jangan kau beraninya menegur Pak Hakim. Dia tetua di desa ini, harus dihormati dan dihargai" ucap ibu-ibu yang berpapasan dengannya itu.
Sepertinya penilaian Lio tentang desa ini berubah saat ini juga. Ia kira orang disini akan ramah-ramah dan saling membantu, namun ini ternyata pintar memojokkan tanpa mau mendengarkan nasihat oranglain.