
"Kalau di kota, tetua seperti itu sudah ditendang dan diusir kali dari wilayahnya. Nggak bijak dan dewasa sama sekali" gumam Lio kesal.
Lio masih kesal dengan kejadian malam ini. Terlebih dirinya dibilang anak ingusan yang bahkan pemikirannya jauh lebih luas dibandingkan pemimpin di desa itu. Pak Hakim hanya menang ilmu agama dan paling lama tinggal di desa ini saja sehingga dianggap tetua disini. Namun menurut Lio, pria paruh baya yang dianggap tetua harus lah bisa menjadi contoh orang banyak.
Dia salut dengan ilmu agamanya dan rajinnya beliau untuk ke masjid. Namun untuk memimpin sebuah desa, menurutnya beliau belum lah pantas. Terlebih saat tadi emosinya meledak-ledak dihadapan semua orang. Hal ini juga seakan membuat harga diri Ratu sebagai anaknya diinjak-injak.
"Ingin ku bawa kamu ke kota langsung ku nikahi saja biar bapakmu itu nggak ricuhin hidupmu" ucap Lio dengan sedikit antusias dengan ide yang ditemukannya.
"Tapi sayangnya, aku malas punya mertua macam bapakmu itu" lanjutnya dengan lesu.
Semenjak kejadian tadi Ratu yang membentaknya bahkan menatapnya kecewa dengan ulahnya, Lio sudah memikirkan tentang bagaimana perasaannya kepada gadis itu. Lio begitu tertarik, kagum, dan ada rasa sayang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kepada gadis-gadis lainnya. Bahkan dengan pacar-pacarnya pun Lio hanya menganggapnya sebagai penghibur di kala dirinya tak ada kerjaan.
Namun berbeda saat dia berada didekat Ratu seperti tadi. Bahkan jantungnya saja hendak melompat karena melihat Ratu berada diambang kematian. Saat kulitnya bersentuhan dengan Ratu, ada desiran hangat yang menerpa tubuhnya. Terlebih saat melihat wajahnya yang sayu dan menahan sakit membuatnya tak tega hingga ingin sekali merengkuhnya agar bisa menenangkannya. Namun lagi-lagi prinsip yang dipegang oleh Ratu membuat Lio harus menahan diri.
"Astaga... Kau benar-benar deh, Lio. Kamu tertarik sama gadis desa itu" ucap Lio sambil geleng-geleng kepala.
Lio memutuskan untuk segera istirahat karena memang jam sudah menunjukkan waktu dini hari. Di kota, sebenarnya Lio sudah terbiasa tidur larut bahkan tak tidur sama sekali. Namun semua kebiasaannya itu berubah saat berada di desa ini. Ia mencoba untuk tidur sebelum jam 12 agar bisa bangun saat shubuh tiba.
***
__ADS_1
Matahari telah menampakkan wajahnya, semua bergegas untuk melakukan aktifitasnya masing-masing. Tak terutama dengan Adin yang sudah bersiap akan pergi sekolah dengan membawa sebuah kotak berisi donat yang nanti akan dijualnya di sekolah. Donat itu dibuat oleh ibunya sendiri dengan Lio yang memodalinya.
"Wah... Dah semangat banget nih buat sekolahnya" ucap Lio.
Bahkan wajah Adin begitu berseri-seri karena untuk pertama kalinya ia mencoba untuk berjualan. Ia begitu semangat karena akan mendapatkan uang dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Bahkan ia dan ibunya juga takkan terlalu merepotkan Lio yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk mereka.
"Iya dong. Udah semangat banget nih buat terima uang di tangan" ucap Adin sambil tertawa.
Lio ikut terkekeh pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Adin. Ia begitu bangga dengan Adin dan ibunya yang tak mau terlalu menggantungkan diri kepadanya. Bahkan walaupun mereka tahu kalau Lio adalah orang kaya, keduanya sama sekali tak memanfaatkannya. Bahkan keduanya selalu sungkan jika meminta bantuan kepadanya hingga akhirnya Lio sendiri yang memberikannya.
Bahkan untuk berjualan donat ini saja, Ibu Adin meminta ijin dulu kepadanya untuk menyisakannya sedikit dari uang belanja yang diberikan oleh Lio. Namun dengan tegas Lio menolak, ia langsung memberikan sejumlah uang untuk modal. Ia juga memberikan kebebasan pada Ibu Adin untuk mengembalikan atau tidak uang itu. Lio begitu beruntung karena uang hasil balapannya ternyata sangat berguna untuk membantu orang.
Mereka bertiga pun akhirnya melaksanakan sarapan pagi bersama dengan diiringi canda tawa. Lio merasa bersyukur bisa merasakan kehangatan keluarga seperti ini yang mungkin sebentar lagi tak akan ia rasakan kembali saat sudah berada di kota. Setelah sarapan selesai, Adin dan Lio segera keluar dari rumah kontrakan.
"Eh... Jangan. Nanti motor abang jadi pusat perhatian teman-teman Adin" tolak Adin.
Adin yang memang dikenal sebagai seorang anak tak berpunya membuatnya tak mau jika diantar Lio memakai motor besar itu. Nanti malah teman-temannya berpikir kalau dia berbohong tentang kehidupannya atau bahkan lebih parahnya bakalan dikira hasil copet.
"Nggak papa lah, ayo sekali-kali. Masa ada yang mau nganterin nolak sih. Rejeki lho ini" ucap Lio membujuk.
__ADS_1
Adin terlihat terdiam sebentar kemudian menatap sang ibu yang berdiri didepan pintu dengan tersenyum. Ibu Adin menganggukkan kepalanya membuat anak laki-laki itu segera saja naik keatas motor besar Lio. Beruntung motor itu sudah mendapatkan bensin juga dipanasinya tadi setelah shubuh sehingga bisa langsung digunakan.
"Kita pergi ya, bu..." seru Adin dan Lio secara bersamaan.
"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut" seru Ibu Adin sambil tersenyum.
Brummm... Brummm...
Sepeda motor besar itu meninggalkan area halaman rumah kontrakan dengan kecepatan sedang. Adin begitu bahagia karena bisa merasakan menaiki motor besar seperti ini. Bermimpi untuk menaiki motor bebek saja ia tak pernah apalagi ini adalah sepeda motor mahal. Ia tak menyangka dan tak menyia-nyiakan kesempatan yang datang.
"Wah... Ternyata gini ya rasanya naik motor. Anginnya sepoi-sepoi bang mana wajahnya Adin merasa tertarik ke belakang lagi" ucap Adin dengan senyum bahagianya.
"Besok lain kali abang ajak naik mobil biar kamu ngerasain AC. Dingin di dalam tapi panas di luar" ucap Lio sambil terkekeh pelan.
Adin begitu takjub dan penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Lio. Pasalnya disini sangat jarang yang mempunyai mobil, adanya mungkin mobil ambulance di puskesmas. Sedangkan untuk sepeda motor, adanya motor bebek biasa yang ada. Adin jadi penasaran seberapa kaya orang yang telah membantunya selama ini.
"Wah... Abang punya mobil juga? Do'ain Adin biar sukses ya bang, terus bisa beli motor dan mobil kaya abang. Nanti abang yang akan Adin boncengin deh" ucap Adin.
"Amin... Ya Allah, jadikan kenyataan mimpi Adin" seru Lio berharap.
__ADS_1
Bahkan di tengah jalan yang lumayan ramai dengan pengguna jalanan yang menaiki sepeda itu, Lio berteriak dengan begitu kencangnya. Hingga beberapa pengguna jalan menatap keduanya aneh dengan Adin yang tertawa melihat kelakuan abangnya itu. Namun yang namanya Lio tentunya tak peduli dengan anggapan orang-orang. Tak berapa lama, sepeda motor yang dikendarai oleh Lio dan Adin itu berhenti didepan sebuah SMP Negeri.
Adin segera turun dibantu oleh Lio yang membawakan box berisi donat. Setelah Adin berhasil turun, box donat itu langsung dibawa Adin kembali. Adin mencium punggung tangan abangnya untuk berpamitan masuk kedalam sekolahnya. Lio begitu terharu dengan sikap sopan Adin itu, padahal dirinya saja tak pernah berpamitan seperti itu kepada kakeknya dulu.