Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Ngeyel


__ADS_3

"Satu ulat bulu sudah hilang. Nanti tinggal hilangin ulat bulu lainnya" gumam Lio dengan berjalan santai di lorong sekolahnya.


Tak ada raut ketakutan dari wajah Lio saat berjalan melewati lorong sekolah itu karena semua guru sedang mengajar. Kalau pun ada guru piket atau BK pastinya mereka sedang mengurusi orang-orang yang terlambat masuk sekolah. Tak berapa lama berjalan, Lio sampai didepan ruang kelasnya yang sudah hampir satu bulan ini tak ia masuki.


"Selamat pagi Ibu Bekti yang manis" seru Lio saat memasuki kelasnya.


Bahkan Lio menampilkan senyuman manisnya membuat Ibu Bekti yang sedang serius mengajar dan teman-temannya yang lain rasanya ingin muntah. Ibu Bekti ini merupakan salah satu musuh bebuyutan Lio saat di sekolah selain Pak Bandi. Lio yang memang bandelnya tidak ketulungan saat itu selalu mejadi incaran keduanya.


"Astaga... Ibu sudah merasa aman, nyaman, tenteram, dan damai selama satu bulan ini karena kamu nggak ada kini pasti saya akan dibuat darah tinggi lagi" ucap Ibu Bekti sambil mengelus dadanya pelan.


Lio hanya bisa cengengesan mendengar gerutuan dari Ibu Bekti. Bahkan kini semua teman-temannya seakan sedang menunggu kehadirannya kembali. Dengan kehadiran Lio, mereka yakin bahwa kelas ini akan semakin ramai. Selama ini walaupun ada anggota gengnya yang berada di kelas ini, mereka cenderung diam. Tidak seperti Lio yang dengan ulahnya sudah membuat kelas ini menjadi ramai.


Lio dengan santainya berjalan masuk dalam kelas kemudian duduk disamping Nathan. Bahkan tatapan tajam dari Ibu Bekti tak ia hiraukan. Dada Ibu Bekti naik turun karena amarah yang siap meledak karena sikap tak sopan dari Lio.


"Lio, ngapain kamu duduk?" seru Ibu Bekti kesal.


"Lio mau belajar, bu" jawab Lio dengan polosnya.


Ibu Bekti menghela nafasnya kasar karena harus menghadapi bocah tengil itu. Akhirnya Ibu Bekti hanya bisa pasrah saja dengan muridnya itu. Ia tak mempedulikan kehadiran sama sekali kemudian melanjutkan mengajarnya. Beruntung kelas ini tak hanya berisi siswa bandel seperti Lio dan teman-temannya.


***


"Darimana bos kok telat?" tanya Kala dengan tatapan penasarannya.


Setelah pelajaran Ibu Bekti usai, Lio dan teman-temannya yang lain langsung saja pergi ke kantin untuk istirahat. Seperti biasanya, mereka akan duduk di pojok kantin agar tak terlalu menjadi pusat perhatian. Walaupun sampai saat ini mereka masih lah menjadi pusat perhatian walaupun sudah duduk di pojokan terutama Lio.

__ADS_1


"Habis dari halaman belakang. Mutusin Uci" ucap Lio sambil menyeruput es tehnya.


Sontak saja semua sahabat-sahabatnya memelototkan matanya. Pasalnya selama ini Lio itu paling sering jalan dengan Uci bahkan mereka pikir bahwa sahabatnya itu juga menyukai cewek itu. Nathan terlihat biasa saja karena sudah yakin bahwa sahabat ini pasti akan memutuskan hubungannya dengam Uci untuk pertama kali.


"Loe yakin bos? Uci kan cinta mati sama loe, mana mungkin dia diputusin" ucap Delan dengan mata melotot.


"Dia itu nggak cinta sama gue. Cinta sama pamornya yang lagi melejit karena pacaran sama ketua geng motor. Dia udah punya pacar di tempat sebelah" ucap Lio dengan santai.


Mereka hanya bisa menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Lio. Terlebih tentang Uci yang tak memiliki perasaan apa-apa pada seorang Lio yang sempurna. Namun mereka juga kurang suka dengan Uci itu karena terlalu berisik. Bahkan saat Lio menghilang, Uci selalu mendatangi markas untuk mencari keberadaan laki-laki itu.


"Lio... Loe nggak bisa putusin gue kaya gini. Pokoknya gue nggak mau putus" teriak seorang gadis yang baru saja masuk dari pintu kantin.


Semua orang yang ada di kantin langsung saja mengalihkan pandangannya kearah gadis yang berteriak itu. Dengan bibir bergincu merah tebal mengerucut, gadis itu berjalan menghentak-hentakkan kakinya mengarah ke meja yang ditempati oleh Lio.


"Tuh kan... Baru juga dibicarain, dah nongol aja tuh orang" ketus Kala.


Mereka pun memilih untuk menyibukkan dirinya dengan ponselnya masing-masing. Bahkan saat Uci sudah sampai di meja mereka, tak ada satu pun yang mengalihkan pandangannya kearah gadis itu. Lio yang diincar oleh Uci pun hanya diam dengan fokus pada makanannya.


"Lio... Jangan diamin aku dong. Masa kamu tega sih menelantarkan aku kaya gini padahal aku sudah setia menunggumu selama sebulan ini" ucap Uci yang kemudian menggelayutkan tangannya di lengan Lio.


Lio yang merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Lio pun segera saja memberontak dan menepis tangan Uci. Bahkan saking kuatnya tepisan itu, Uci sampai kehilangan keseimbangan kemudian terjatuh di lantai kantin. Semua yang melihat kejadian itu tertawa bahkan melihat wajah Uci yang ditekuk.


Sahabat-sahabat Lio tentu baru pertama kalinya ini melihat laki-laki itu bersikap keras pada seorang perempuan. Bahkan selama ini Lio hanya berani bermain fisik dengan laki-laki. Sungguh perubahan ini membuat Lio tak bisa ditebak sama sekali.


"Lio... Kasar banget sih kamu" seru Uci tak terima.

__ADS_1


"Makanya jangan ngeyel. Urus saja pacarmu itu, kita sudah putus. Aku selama ini juga nggak pernah cinta sama kamu, sadar diri" sentak Lio dengan tatapan tajamnya.


Lio bahkan kini langsung berlalu pergi dari hadapan Uci yang masih terduduk di lantai. Bahkan ia sama sekali tak berniat untuk membantu gadis itu pergi. Segera saja sahabat-sahabat Lio berdiri kemudian menyusul laki-laki itu meninggalkan kantin.


"Lio... Gue pastikan loe nyesal karena putusin cewek kaya gue" teriak Uci sambil tangannya memukul-mukul lantai dengan keras.


Huuuuuu....


Sorakan sontak saja mewarnai area kantin itu setelah mendengar teriakan penuh percaya diri dari Uci. Bahkan Lio hanya menanggapi teriakan itu dengan mengacungkan jari tengahnya. Sahabat-sahabat Lio sungguh bangga pada laki-laki itu yang kini begitu tegas dengan pacar toxicnya itu.


"Sialan..." gumam Uci yang kemudian berdiri sambil menatap tajam kearah seluruh area kantin.


Tak ada yang takut lagi pada tatapan dari Uci. Pasalnya mereka sudah tahu kalau Uci bukan lagi pacara Lio. Selama ini mereka takut pada Uci karena melihat sifat Lio yang akan ngamuk kalau ada seseorang yang mengganggu orang yang ada didekatnya.


Uci begitu kesal karena kini tak ada yang takut pada dirinya. Karena malas melihat tatapan merendahkan dari semua pengunjung kantin, akhirnya Uci memilih untuk keluar dari sana. Dengan berlari, Uci mengepalkan kedua tangannya dan berjanji dalam hati untuk membalas hal memalukan ini.


"Awas aja kau Lio, takkan ku biarkan kau bisa hidup bahagia setelah meninggalkanku" gumam Uci saat berlari.


***


"Bos, anak mana tuh pacar Uci?" tanya Yuda begitu penasaran.


Setelah dari kantin tadi, mereka semua berkumpul di rooftop untuk membahas kejadian yang baru saja terjadi. Terlebih perubahan sikap Lio yang membuat semua sahabat-sahabatnya penasaran.


"Itu si Farel, anak sekolah sebelah sekaligus anggota geng AREX" jawab Lio dengan santai.

__ADS_1


Bahkan kini Lio duduk di pinggir pembatas rooftop membuat semua sahabatnya tak berani mendekat. Bisa saja nanti Lio kaget jika tiba-tiba ada yang mendekatinya sehingga terjatuh ke lantai 1. Lagi pula Lio memang paling suka duduk disana untuk menenangkan emosinya.


__ADS_2