Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Preman


__ADS_3

"Permisi, apakah disini ada yang tahu rumah dari Agung atau ayahnya yang bekerja jadi preman pasar?" tanya Adin pada orang-orang di sekitar pasar.


Dirinya memang tak tahu dimana alamat rumah Agung yang notabene dulu adalah teman sekolahnya saat SD. Namun saat dia sudah berhenti sekolah, dirinya sudah tak lagi bertemu dengan temannya itu. Bahkan saat dulu sekolah, ia juga tak pernah tahu dimana rumah temannya itu.


"Bapaknya Agung? Pak Alam yang jadi preman pasar itu?" tanya salah seorang penjual.


"Iya, benar pak. Tahu alamat rumahnya tidak?" tanya Adin dengan penuh harap.


"Mau ngapain kesana, nak? Pak Alam itu mengerikan lho mana galak banget" ucap penjual itu begitu khawatir.


Seorang penjual itu memang tahu bagaimana perangai Pak Alam yang notabene adalah bapak dari Agung. Pak Agung mempunyai sifat yang temperamental bahkan selalu emosian jika sudah berkaitan dengan uang. Bahkan saat di pasar pun sering memalak uang milik warga atau penjual. Kalau tak diberi, siap-siap saja wajah bonyok penuh lebam.


"Ini sepeda dan sepatu saya diambil paksa sama beliau. Abang dan kakek saya ingin menemuinya" ucap Adin.


Penjual itu melihat kearah Lio dan Kakek Angga yang sedari tadi diam. Bukannya tak mau memberitahu, hanya saja penjual itu takut jika terjadi sesuatu dengan orang-orang yang berurusan dengannya. Lagi pula selama ini belum ada yang berani dengan preman-preman pasar yang berkeliaran. Bahkan mereka cenderung pasrah jika barangnya diambil.


Apalagi saat ini Adin pasti berencana mengambil barang-barangnya yang diambil oleh Pak Alam. Bahkan penjual itu yakin kalau nantinya Adin dan kedua keluarganya itu kembali bukan dengan membawa barang yang diambil tetapi oleh-oleh wajah bonyok.


"Mending ikhlasin aja, pak. Daripada nanti kalian kenapa-napa" ucap penjual itu menatap kearah Kakek Angga.


"Bapak tenang saja. Kami bisa mengatasinya kok" ucap Lio menenangkan.

__ADS_1


Akhirnya penjual yang ada di pasar itu menunjukkan alamat rumah dari Pak Alam. Bahkan ia juga menunjukkan arah kemana harus mereka berjalan demi bisa sampai di alamat tujuan. Setelah mengucapkan terimakasih, mereka pun pamit kemudian pergi berlalu dari pasar.


"Semoga mereka kembali dengan keadaan selamat" gumam penjual itu menatap tiga orang yang perlahan menjauh.


***


Setelah berjalan beberapa menit sesuai arahan yang diberikan oleh penjual yang ada di pasar tadi, mereka akhirnya sampai didepan sebuah rumah sederhana bercat putih. Ketiganya segera saja masuk ke halaman rumah itu kemudian mengetuk pintunya.


Tok... Tok... Tok...


Ceklek...


Tak berapa lama menunggu, akhirnya seorang anak laki-laki seumuran dengan Adin keluar dari rumahnya. Ia terlihat bingung dan terkejut atas kehadiran Adin. Pasalnya selama ini mereka sudah lama tak bertemu bahkan berkomunikasi pun tidak. Lio sedikit melirik kearah dalam rumah Agung yang memang ada siluet sepeda yang ia berikan pada Adin.


"Kami mau ketemu sama bapak kamu. Dia ada di rumah?" tanya Adin dengan hati-hati.


Sebenarnya Agung bingung dengan temannya ini yang datang ke rumahnya namun mencari bapaknya. Namun akhirnya ia langsung mempersilahkan masuk saja untuk duduk di ruang tamu. Setelahnya ia masuk kembali ke dalam untuk memanggil bapaknya.


"Ngapain lagi kau kesini? Bukannya sudah saya bilang kalau semua barang-barang itu sudah menjadi milikku" seru seorang laki-laki dewasa yang baru saja datang dari dalam kamarnya.


Tampaknya dia baru saja mandi karena terlihat dari rambutnya yang masih basah bahkan dilehernya ada sebuah handuk. Saat melihat adanya Adin di ruang tamu, sontak saja ia terkejut bahkan langsung memelototkan matanya. Tadi saat ia mengambil sepeda dan sepatu milik bocah itu, ia sudah mengancamnya agar tak memberitahukan kejadian ini. Namun faktanya Adin dengan beraninya malah datang ke rumanya sambil membawa dua orang yang tak ia kenali.

__ADS_1


"Maksudnya apa, pak? Bapak ngambil barang milik siapa lagi kali ini?" tanya Agung yang tak sengaja mendengar perbincangan bapaknya itu.


"Kamu nggak usah ikut campur. Ini semua demi kau bisa punya sepatu dan sepeda untuk sekolah. Kau tak ingat sepatumu yang sudah jebol itu" sentak Pak Alam.


Mendengar bentakan dari Pak Alam membuat Agung beringsut mundur. Sedari dulu ia memang takut jika bapaknya itu marah bahkan ia lebih memilih menjauh. Sedangkan Adin juga takut mendengar bentakan itu langsung saja mendekat kearah Lio dan Kakek Angga. Sekarang mereka tahu jika sepatu dan sepeda yang diambil itu untuk kebutuhan anaknya.


"Pak, jangan kasar sama anak kecil. Kasihan lho mentalnya nanti kena dan setiap lihat bapak malah ketakutan. Bapak mau kalau anaknya takut setiap melihat anda?" ucap Kakek Angga.


Pak Alam langsung saja menatap tajam kearah Kakek Angga. Kakek Angga santai saja menanggapinya terlebih disini dirinya dan Lio bisa saja menghajar dia hingga masuk rumah sakit. Bahkan saat Pak Alam mendekat kearah ketiganya, langsung saja mereka berdiri untuk bersiap-siap.


"Tahu apa kalian? Orang kaya seperti kalian tak tahu bagaimana susahnya mendidik anak kecil" sentak Pak Alam.


"Wah... Walaupun saya orang kaya, saya dulunya juga miskin. Bahkan saya merintis usaha sambil mendidik cucu saya yang bandel ini. Tapi bukan dengan cara merampas milik oranglain. Tobatlah pak, kalau kita cari rejeki dengan cara halal pasti dimudahkan sama Allah" ucap Kakek Angga menasihati.


Pak Alam terdiam bahkan kini terduduk di kursi ruang tamu. Kemiskinan yang selama ini membelenggunya membuat pikirannya hanya lah berpikir tentang bagaimana caranya mendapatkan uang. Terlebih istrinya memilih pergi meninggalkan Agung bersamanya karena tak kuat dengan kemiskinan yang dijalani. Selama ini ia jadi preman juga karena tekanan dari beberapa temannya agar mengikuti jejak mereka.


"Saya harus kerja jadi apa, pak? Saya bingung harus mencari uang untuk beli sepatu dan sepeda agar anak saya terus sekolah. Sepatunya sudah sobek dan tambal sana sini" cerita Pak Alam.


Lio merasa terenyuh mendengar bagaimana perjuangan seorang ayah yang ingin membahagiakan anaknya. Bahkan kini Lio sudah melihat kearah kakeknya yang sedang duduk disamping Pak Alam. Sedangkan Agung yang mendengar cerita dari bapaknya pun langsung berlari memeluknya.


"Maafkan Agung yang nggak hati-hati pakai sepatunya sampai jebol. Kalau sepeda, bapak nggak usah pikirin. Agung bisa kok jalan kaki ke sekolahnya" ucap Agung sambil menangis dipelukan bapaknya.

__ADS_1


Melihat pemandangan itu Lio jadi teringat bagaimana dulu perjuangan kakeknya untuk menafkahi dirinya. Bahkan disaat anak dan menantunya sudah berkecukupan nyatanya sang kakek bahkan masih dalam keadaan yang cukup sederhana. Saat dirinya berpindah tangan hak asuhnya pada sang kakek, segera saja ia mengubah pola pikirnya untuk membangun sebuah usaha dengan uang yang selama ini ia simpan.


__ADS_2