
Lio begitu geram karena ternyata mantan sahabatnya itu sudah melangkah sejauh ini. Tak ada simpatinya pada sahabat yang dulu menolongnya. Padahal dulunya dia bisa bergabung dalam anggota geng motor LEXON itu sudah berjanji kalau akan terus setia pada organisasi.
Bahkan dia merupakan orang yang paling banyak dibantu oleh anggota yang lainnya. Keuangan organisasi juga banyak digunakan untuk membantunya membiayai sekolah karena memang dia berasal dari keluarga sederhana. Namun sayangnya kebaikan yang dilakukan anggota geng motornya ternyata dibalas dengan pengkhianatan.
"Gue bakalan balas pengkhianatan ini. Bahkan kau akan membayarnya" gumam Lio dengan menahan emosinya yang ada didalam dadanya.
Kedua tangannya mengepal erat saat mendengar dan melihat orang yang disebutnya sahabat dulu ternyata sudah ada disini. Beruntung ia melihatnya sehingga langsung menghubungi anak buah kakeknya untuk tak mengijinkan siapapun masuk ruangan Nathan sebelum dia datang.
"Jangan ijinkan siapapun masuk dalam ruangan Nathan. Entah itu sahabatku atau dokter dan yang lainnya" ucap Lio yang langsung menutup panggilan pada ponselnya.
Lio segera saja pergi dari sana dengan kemarahan yang begitu besar. Ia pergi ke kantin kemudian membeli beberapa makanan dan minuman untuk dibawa ke dalam ruang rawat inap Nathan. Setelah selesai, Lio segera pergi dari kantin untuk kembali ke ruanh rawat Nathan.
***
Saat dirinya kembali ke ruang rawat Nathan, ternyata disana sudah ada beberapa sahabatnya dan juga anggota geng motornya menunggu didepan ruangan. Bahkan disana juga ada anak buah kakeknya yang berjaga didepan pintu ruangan. Lio datang dengan raut wajah datarnya terlebih ada seseorang yang paling ia benci saat ini.
"Ayo masuk" ajak Lio saat melihat Yuda seakan ingin protes karena menunggu begitu lama.
Semuanya segera masuk dalam ruang rawat inap Nathan walaupun ada bisik-bisik yang tak mengenakkan hati Lio. Rasanya ia ingin menonjok orang-orang yang dengan seenaknya menilai dirinya seperti itu padahal ini memang ia lakukan untuk keselamatan Nathan.
"Kenapa kita nggak boleh langsung masuk aja sih bos? Kita kan juga udah biasa kaya gitu. Mana kita nunggunya lama" protes Yuda membuat hampir semuanya mengangguk.
"Aku hanya mengantisipasi agar tak ada penyusup masuk sini dan melukai Nathan. Terlebih kau lihat sendiri kan, Nathan masih dalam keadaan tak sadarkan diri" ucap Lio dengan nada datarnya.
Akhirnya semua memilih menganggukkan kepalanya daripada diusir oleh Lio. Pasalnya sedari tadi mereka merasa kalau aura Lio berbeda dari biasanya. Sepertinya Lio tengah menahan emosinya karena tahu siapa yang membuat Nathan seperti ini.
__ADS_1
"Siapa yang membuat Nathan seperti ini bos?" tanya Kala dengan tatapan penasarannya.
"Masih ku cari" jawab Lio yang kemudian mengeluarkan semua makanan dan minuman yang tadi dibelinya itu.
Semua akhirnya memilih duduk berbincang di sofa sambil menunggu Nathan sadar kembali. Sedangkan Lio fokus dengan ponselnya bahkan hanya menjawab seperlunya pertanyaan dari teman-temannya itu. Akibat dari adanya pengkhianatan itu membuatnya malas untuk berkumpul seperti ini.
"Nanti kalau sudah ketemu dengan yang buat Nathan kaya gini langsung bilang ya bos. Gue bakalan langsung berdiri paling depan demi membela sahabat gue ini" ucap Kala dengan percaya dirinya sambil menepuk bahunya dengan sombong.
"Heleh... Nathan yang kuat disini saja harus dijahit lengannya apalagi loe, bisa langsung masuk liang kubur kayanya" ucap Delan membuat semuanya tertawa.
Kemampuan Nathan memang tak bisa diragukan. Entah mengapa dia juga bisa kalah seperti ini yang kemungkinan karena lawannya banyak dan ada yang membawa senjata tajam juga. Setiap manusia juga mempunyai titik lengah yang tentunya bisa membuat kalah di kala genting seperti ini.
"Sabar... Sabar... Diriku terlalu kau nistakan, mas" ucap Kala berdrama.
Semuanya tertawa seakan tak ada masalah apapun disana. Tentunya Lio juga akan tertawa tanpa beban seperti mereka jika saja ia tak tahu ada pengkhianat di geng motornya. Kepalanya pusing memikirkan semuanya bahkan tanggungjawabnya.
Bahkan sebentar lagi akan ada ujian nasional membuat fokusnya terbagi. Ia sudah berjanji pada kakeknya dan Ratu disana untuk lulus dengan nilai yang baik. Syukur-syukur bisa masuk perguruan tinggi ternama dan sukses dalam karirnya.
Ia harus membuktikan pada kakek dan Ratu kalau dirinya bisa sukses dengan caranya sendiri. Ia juga harus membuktikan pada orangtuanya kalau ia bisa sukses tanpa adanya mereka. Ia akan membungkam mereka kalau orang nakal sepertinya bisa jauh lebih sukses.
***
Semua sahabat dan anggota geng motornya sudah pergi dari ruang rawat inap Nathan. Tadi pihak rumah sakit meminta yang berjaga maksimal dua orang saja karena khawatir akan mengganggu pasien. Terlebih sampai kini Nathan belum juga sadar hingga akhirnya Lio memilih menunggu disini saja sendirian.
Eughhh....
__ADS_1
Suara lenguhan dari atas brankar langsung mengalihkan pandangan Lio dari ponselnya. Lio segera saja mendekat kearah Nathan kemudian menyediakan minuman untuknya. Tadi dokter sudah berpesan untuk memberi minum dulu kepada pasien saat sudah sadar.
"Minum dulu, Nath" ucap Lio dengan dibantu oleh sedotan pemuda itu membantu sahabatnya untuk meminum air putih.
"Thanks" ucap Nathan dengan suara lirih.
Sepertinya Nathan masih terpengaruh obat biusnya sehingga kini masih lemah. Bahkan kini matanya mulai memejam lagi dengan hembusan nafas yang teratur kembali. Lio mengelap wajah Nathan yang berkeringat dengan tisue sambil menatap wajah sahabatnya dengan tatapan kasihan.
Sama seperti dirinya yang tak pernah merasakan kasih sayang kedua orangtua. Namun ia masih beruntung mempunyai seorang kakek yang mau mengasuh dan mendidiknya. Sedangkan Nathan, semua keluarganya seakan tak menganggap dirinya ada. Beruntung Kakek Angga juga mau mengasuhnya karena dulunya pria tua itu memang tetangga rumahnya Nathan.
"Udah istirahat saja, Nath" ucap Lio saat melihat Nathan akan membuka matanya yang terasa berat itu.
"Mereka nggak datang?" tanya Nathan pelan.
"Enggak. Udah jangan dipikirkan, toh ada gue dan kakek yang bakalan jagain loe" ucap Lio agar sahabatnya itu tak kepikiran.
Lio tahu siapa yang dimaksud mereka oleh sahabatnya itu. Mereka itu adalah orangtua Nathan yang bahkan sampai sekarang tak bertanya apapun mengenai keadaan anaknya. Bahkan tentang bagaimana membayar biaya administrasinya saja tidak, Lio hanya bisa geleng-geleng kepala.
Nathan pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kemudian tidur lagi. Sedangkan Lio yang melihat Nathan tertidur pulas langsung saja keluar dari kamar rawat inap. Ia menemui anak buah kakeknya yang duduk didepan pintu.
"Paman, tolong cari keberadaan orangtua Nathan. Seret dia kemari kalau tak mau diajak baik-baik kesini" titah Lio sambil mengepalkan kedua tangannya.
Lio hanya ingin melihat bagaimana reaksi kedua orang itu saat melihat anaknya terbaring lemah disini. Kalau masih tak peduli, ia akan meminta kakeknya untuk mengambil hak asuh Nathan dari mereka. Nathan juga masih berumur 17 tahun yang tentunya harus ada walinya yang bisa mendidiknya dengan baik. Apalagi nanti saat kuliah, harus ada wali yang siap menanggung semua biaya pendidikannya.
Selama ini mereka lepas tangan karena Kakek Angga yang membiayai semua tentang Nathan. Bukannya Lio tak ikhlas membantu namun ia hanya ingin orangtuanya bertanggungjawab. Kalau memang tak bisa menjadi orangtua yang bertanggungjawab pada anaknya lebih baik serahkan pada kakeknya secara hukum biar pasti. Agar ke depannya tak ada lagi yang namanya masalah karena status Nathan jelas.
__ADS_1