Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Perselisihan


__ADS_3

Nathan begitu terharu mendengar ucapan dari Kakek Angga, walaupun ia diibaratkan dengan sampah namun ia seperti dianggap sebuah berlian yang berharga. Tentunya ia dipungut oleh orang yang tepat sehingga menjadikannya begitu berharga dan disekolahkan dengan fasilitas yang tak main-main. Nathan bahkan langsung menggenggam tangan Kakek Angga erat seakan mengucapkan terimakasih lewat tatapan matanya.


Lemparan batu itu sudah dengan sigap mereka membalikkan badannya sehingga hanya punggungnya yang kena. Tak sakit, pasalnya batu yang digunakan itu kecil-kecil. Namun hati kedua pemuda itu sakit karena dihina oleh orang yang dikenalnya.


"Lebih baik kalian pergi dan jangan ganggu kehidupan kami. Soal harta, semua akan jatuh pada cucu-cucu saya karena anakku sudah mati" ucap Kakek Angga dengan tegas.


Papa Lio yang mendengar beberapa kali Kakek Angga mengucapkan kalimat pedas pun hanya bisa mengelus dadanya sabar. Ia tak menyangka kalau papanya sendiri menganggap ia sudah mati padahal dirinya ada didepan matanya. Ada rasa sakit hati dan kesal dalam hatinya karena ucapan papanya itu.


Sedangkan Mama Lio yang mendengar hal itu tidak terima. Seharusnya harta milik orangtua mantan suaminya itu wajib dibagi rata agar semuanya bisa mendapatkan haknya walaupun Lio adalah satu-satunya cucu kandung beliau. Kalau semua jatuh ditangan Lio, sudah pasti mereka kini akan kebingungan untuk melanjutkan hidup darimana.


Usaha sedang dalam masa-masa kritis membuat mereka harus merendahkan dirinya agar bisa mendapatkan sokongan dana dari Kakek Angga. Apalagi melihat kesuksesan Kakek Angga dengan adanya restorant dan rumah mewah ini. Tadinya mereka meminta seseorang untuk mencari tahu mengenai alamat dan kepemilikan restorant itu sehingga mengetahui semuanya.


"Tidak bisa gitu dong" seru Mama Lio tak terima.


"Bisa saja. Saya masih hidup tapi kalian sudah meminta bagi warisan. Kalian waras? Lagi pula kalian itu orang asing, terutama anda. Bagaimana bisa mantan menantu menuntut bagiannya? Dulu aja waktu kaya nggak pernah kasih saya uang walaupun hanya sekedar untuk jajan" ucap Kakek Angga.


Sontak saja Mama Lio langsung terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Kakek Angga. Ia baru sadar kalau statusnya itu hanya mantan menantu. Mungkin jika dulu saat masih bersama dengan papanya Lio itu akan berbeda cerita. Bodohnya dia dulu yang tak menuntut apapun ketika bercerai.


Ia sebenarnya juga dari dulu tak tahu kalau orangtua suaminya itu orang kaya sehingga memilih acuh. Saat ini ia hanya bisa menyesal karena ternyata ia telah menyiakan kesempatan yang ada untuk menjadi orang kaya.


"Walaupun Lio adalah anak kandung kalian berdua, namun dia dalam pengasuhanku sejak kecil. Kalian tidak menafkahinya sedari kecil, kalau aku bawa kasus ini ke polisi sudah pasti semuanya akan masuk penjara. Kalian akan kalah dengan bukti-bukti yang aku punya, apalagi Lio sudah besar. Ia bisa bertindak sebagai saksi" lanjutnya sambil tersenyum miring.


Keempat orang itu langsung saja berjalan mundur karena ucapan Kakek Angga. Sepertinya kali ini ancaman dari Kakek Angga tidak main-main karena banyaknya bukti yang ia punya. Bahkan kini Kakek Angga sudah mengangkat ponselnya untuk menghubungi seseorang agar bisa membantunya mengusir orang-orang ini.


Uwiw... Uwiw... Uwiw...


Tanpa mereka semua sadari, Nathan mengambil ponselnya disaku belakangnya kemudian menyalakan bunyi sirine mobil polisi. Langsung saja keempat orang itu panik dan melarikan diri pergi dari rumah Kakek Angga. Sedangkan Kakek Angga langsung memberi kode pada anak buahnya untuk membiarkan saja saat melihat mereka hendak mengejar empat orang itu.

__ADS_1


Lio masih kebingungan dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Pasalnya ia baru saja melihat kakeknya menghubungi polisi namun hanya selang beberapa menit saja sudah datang itu mobilnya. Namun ia langsung melihat area sekitar yang sama sekali tak kelihatan ada mobil polisi.


"Kok ini nggak ada mobil polisi ya? Terus dimana itu polisinya sekarang" tanya Lio dengan wajah kebingungan.


Hahaha...


Bukannya menjawab pertanyaan Lio, Nathan dan Kakek Angga malah tertawa diikuti oleh anak buahnya. Hal ini tentu karena wajah Lio yang kebingungan dan polos akibat tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Astaga... Kenapa kau begitu bodoh sekali seperti mereka yang tadi pada kabur. Kakek hanya pura-pura menghubungi polisi dan suara sirine itu dari ponsel Nathan. Lagian itu bukan sirine mobil polisi tapi ambulance" ucap Kakek Angga sambil tertawa.


Walaupun sebenarnya Kakek Angga sedikit kesal dengan tingkah cucunya yang ternyata bisa tak nyambung disaat seperti ini. Padahal Lio itu biasanya kalau soal mengerjai dan usil dengan orang pasti yang pertama langsung nyambung namun ini tidak. Sedangkan Nathan dan anak buah Kakek Angga hanya bisa menahan tawanya melihat wajah kesal pria tua itu.


Kakek Angga segera menarik tangan Nathan untuk masuk kedalam rumah meninggalkan Lio yang masih shock dan bingung. Anak buah Kakek Angga pun segera pergi kembali ke posnya.


"Jadi tadi itu hanya sandiwara. Astaga... Kenapa gue bisa tulalit seperti ini" gumam Lio sambil menepuk keningnya dengan keras.


Ia masih tak menyangka kalau mereka masih berani datang kesini untuk menuntut uang warisan. Padahal selama ini mereka sama sekali tidak pernah menafkahinya dengan sang kakek. Lalu soal warisan, Kakek Angga masih hidup namun dituntut untuk membaginya. Sungguh, entah darimana pikiran licik mereka itu.


"Kalian ini sebenarnya orangtua seperti apa? Kenapa tega sekali melakukan hal ini pada anak dan orangtua seperti Kakek Angga? Iblis apa yang merasuki hati dan pikiran kalian? Kalau hanya demi harta, seharusnya berusaha bukan malam minta warisan" gumamnya sambil menghela nafasnya kasar.


Setiap kali orangtuanya itu datang menemuinya, selalu saja otaknya buntu. Selalu saja masalah uang dan harta yang dibahas, padahal kesuksesan Lio dan Kakek Angga saat ini tidak pernah ada sangkut pautnya dengan mereka. Lio menghela nafasnya kasar kemudian berlalu pergi memasuki rumahnya.


***


"Si Selly ulat bulu sudah ditangkap polisi" seru Uli yang tiba-tiba langsung duduk didepan kamar kost Ratu.


Tentunya Ratu yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya begitu terkejut dengan kehadiran tiba-tiba dari Uli. Pintu kamarnya yang tak tertutup membuat Uli tahu kalau Ratu sedang ada disana. Saat melihat adanya Ratu, segera saja ia memberitahu informasi yang tengah viral itu. Pasalnya Uli tahu kalau teman satu kostnya ini tidak memiliki akun media sosial.

__ADS_1


Ratu hanya menatap malas kepada seniornya di kampus itu. Bukannya tak tertarik dengan berita yang disampaikan, namun setiap mendengar nama gadis senior kampusnya itu selalu saja membuatnya kesal. Ia seperti menyimpan kekesalan yang berlebih padanya. Namun seketika ia ingat pesan ayahnya untuk tak terlalu membenci seseorang.


"Sudah tahu. Lagian polisi banyak di kampus tadi buat apa kalau nggak bisa nangkap satu orang cewek" ucap Ratu cuek.


"Dih... Polisi kan juga manusia. Mana tahu si Selly itu kaya jin, bisa ngilang gitu aja terus nggak bisa ditangkap sama manusia" ucap Uli dengan percaya dirinya.


"Dibacain Al-Qur'an aja kalau gitu biar jin dan setannya bisa pergi" ucap Ratu.


Uli pun memilih diam karena berdebat dengan Ratu itu hanya membuatnya pusing. Pasalnya Ratu ini sangat pintar dalam membalas perdebatan sehingga lawannya hanya akan terdiam. Apalagi kalau sudah mengeluarkan jurus agamanya, auto kicep orang yang menjadi lawannya.


"Jangan kebanyakan julid, Mbak Uli. Lebih baik kita do'akan saja biar Mbak Selly itu bisa berubah menjadi lebih baik setelah masa hukuman ini. Lagian manusia tak ada yang sempurna, kita pun juga pernah melakukan kesalahan. Apapun yang dilakukan oleh dia, kini sedang menemui hukumannya" ucap Ratu menceramahi Uli.


Akhirnya Uli semakin terdiam karena temannya ini memang tak suka bergosip. Berbeda dengan temannya di kampus yang hampir semua orang dibicarakan. Setidaknya di kost ini masih ada yang lurus otaknya agar bisa membatasi dirinya untuk tak berbuat jahat.


"Oh iya... Ini ada mahasiswa namanya Lio, dia cucu pemilik kampus Kamu sudah tahu belum?" tanya Uli mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, mbak. Kan tadi datang juga waktu ada polisi" ucap Ratu sambil tersenyum.


"Aku masih penasaran dengan siapa perempuan yang katanya lagi dekat sama cucu pemilik sekolah itu. Katanya sewaktu ospek, cewek itu sudah dekat dengan Lio dan pemilik kampus. Beruntungnya... Mau kenalan dan jadikan temanlah dia kalau benar berita itu. Biar ikut famous" ucap Uli sambil terkekeh pelan.


Mendengar ucapan Uli itu membuatnya menghentikan tangannya yang sedang menulis. Ia tak menyangka jika akan ada berita seperti itu. Padahal Kakek Angga sudah bilang padanya kalau identitas atau cerita sewaktu ospek yang dia mengikutinya itu takkan pernah bocor.


Namun ia yakin ini bukan ulah Kakek Angga, Lio, dan sahabat-sahabatnya. Sepertinya itu ulah panitia ospek atau mahasiswa baru yang tak suka padanya. Ia tak ingin menjadi terkenal karena kedekatannya dengan Lio dan Kakek Angga. Ia ingin dikenal sebagai sosok mahasiswa yang berprestasi.


"Nggak usah dipikirkan tentang itu. Orang penting seperti mereka akan sangat susah dikorek informasinya. Mending Mbak Uli bantuin aku ngerjain tugas ini daripada gosipin hal yang tak penting" ucap Ratu mengalihkan pembicaraan.


"Ogah..." seru Uli yang langsung pergi kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Ratu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Uli yang sangat malas belajar. Setiap kali membahas mata kuliah, pasti gadis itu akan langsung kabur. Kejadian barusan memang sengaja karena Ratu ingin mengusir Uli secara halus agar tak membicarakan Lio dan Kakek Angga lagi.


__ADS_2