Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kepastian


__ADS_3

"Ratu... Ish, kok malah kabur sih" kesal Meli yang kini terus mengikuti gadis itu pergi.


Meli dan Salwa langsung saja mengikuti gadis itu pergi dari area taman. Ternyata Ratu akan pulang kembali ke kostnya yang kemudian diikuti oleh Meli dan Salwa. Hari ini sudah selesai semua jam kuliahnya sehingga Ratu memilih untuk pulang.


Apalagi sudah tidak ada kegiatan apa-apa di kampusnya. Kemarin sudah ditawari untuk ikut UKM namun Ratu memilih tidak mengikutinya. Ia tidak mau jika nanti terlalu sibuk mengikuti salah satu UKM malah membuatnya tak fokus akan kuliahnya. Ia ingin fokus pada kuliahnya agar bisa cepat selesai karena tak ingin terus merepotkan Kakek Angga.


"Ratu buru-buru nih, mau ke kamar mandi" seru Ratu beralasan.


Bahkan kini terlihat sekali kalau Ratu berjalan dengan begitu terburu-buru membuat Salwa dan Meli memilih membiarkannya dulu. Pasalnya jarak ketiganya kini sudah sedikit jauh sehingga Salwa dan Meli kemungkinan akan kelelahan jika terus mengejarnya. Mereka lebih memilih memelankan langkah kakinya daripada Ratu terus-terusan berlari.


"Mungkin dia mau menghindar dari pertanyaan kita. Tahu sendiri kan kalau Ratu itu paling tidak mau menceritakan tentang masalah pribadinya" ucap Salwa menduga tentang alasan yang diberikan oleh Ratu.


"Benar juga. Dia kan memang tidak suka untuk membicarakan hal seperti itu. Tapi aku penasaran lho, kok bisa ya sudah panggil calon mertua atau menantu begitu? Sedekat apa coba hubungan keduanya itu" ucap Meli sambil geleng-geleng kepala.


Salwa hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. Mereka memang sangat penasaran namun mencoba untuk tidak mau mencampuri urusan dari Ratu. Akhirnya mereka memilih diam sampai waktu yang nanti akan membuktikannya.


***


"Kamu kenapa sih, Ratu? Kok kaya habis dikejar maling kaya gitu" tanya Uli yang melihat teman kostnya itu melihat terus menerus area sekelilingnya.


Bahkan terlihat kalau wajahnya sudah kelelahan dengan dahi yang bercucuran keringat. Hal ini membuat Uli menduga kalau Ratu sehabis dikejar maling atau preman. Bahkan kini setelah meluhat dirinya, langsung saja ia masuk dan terduduk di ruang depan area kost.


Ratu menghirup udara berulangkali untuk menetralkan nafasnya yang sedikit sesak karena berjalan tergesa-gesa. Ia malas ditanyai macam-macam oleh Meli dan Salwa yang tentunya malah akan membuatnya pusing. Pusing memikirkan alasan apa yang akan ia gunakan agar mereka tak berpikir macam-macam.


"Ini minum dulu" ucap Uli sambil menyerahkan satu botol air mineral yang belum dibukanya.


Ratu segera mengambilnya kemudian membuka dan meminumnya dengan sedikit tergesa-gesa. Uli yang melihat hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pasalnya ini bukan seperti Ratu yang ia kenal sebagai gadis yang anggun dan mempunyai sopan santun tinggi dalam minum seperti ini.

__ADS_1


"Alhamdulillah" ucapnya sedikit lega.


"Kamu ada apa sih?" tanya Uli penasaran setelah melihat kalau Ratu menyelesaikan minumnya.


Ratu hanya mengedikkan bahunya acuh kemudian mengembalikan botol air mineral yang isinya telah habis itu. Setelah mengucapkan terimakasih, Ratu segera saja pergi berlalu tanpa menjawab pertanyaan Uli. Hal itu membuat Uli kesal dan ingin sekali menimpukkan botol kosong itu kearah kepala Ratu.


"Sabar... Cewek cantik harus elegant dan tidak boleh mudah marah" gumamnya yang kemudian merapikan hijab yang dipakainya.


***


"Kok ada ya pemuda tengil kaya Lio begitu?" kesal seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Hakim.


Pak Hakim saat ini masih kesal dengan Lio yang menghubunginya lewat video call. Ia tak menyangka kalau pemuda itu masih mengingat dirinya yang ada di desa ini. Padahal sudah cukup lama mereka tak berkomunikasi namun tepat saja pemuda itu masih bersikap tengil. Namun diam-diam, Pak Hakim rindu dengan Lio yang bisa meramaikan desanya.


Semenjak desa ini ditinggalkan orang-orang yang berasal dari kota, disini terlihat lumayan sepi. Walaupun masih ada pemuda desa ini yang sering berkumpul seperti saat masih ada Lio, namun rasanya berbeda. Ustadzah Siti yang selalu dijadikan penengah ketika Lio dan Ratu bertemu juga sering menanyakan kabar keduanya di kota. Mungkin ia sedikit merasa kehilangan dengan kebiasaannya jika Lio menggombali Ratu didepannya.


"Wa'alaikumsalam... Terimakasih lho ustadzah, malah hampir setiap hari kesini. Lebih baik kita segera halalkan hubungan kita saja daripada nanti malah ada fitnah" ucap Pak Hakim tiba-tiba.


Pak Hakim yang memang tadi sedang duduk di teras rumahnya itu langsung berdiri ketika melihat Ustadzah Siti datang ke rumahnya. Ia sudah tidak terkejut lagi dengan kedatangan wanita paruh baya yang usianya hampir sama dengannya itu.


Setelah Ratu pergi ke kota untuk berkuliah, gadis itu meminta tolong kepada Ustadzah Siti untuk memberikan lauk kepada ayahnya. Tentunya dengan imbalan uang yang memang dititipkan Ratu dari hasil tabungannya. Pasalnya ayahnya itu tidak bisa memasak sehingga membuatnya sedikit khawatir kalau tidak ada dirinya.


Karena seringnya Ustadzah Siti ke rumah Pak Hakim, akhirnya timbul benih-benih perasaan lain diantara keduanya. Usia keduanya yang memang tidak muda lagi membuat Pak Hakim kemarin hanya bisa menyampaikan sesuatu yang masih menggantung.


"Kita sholat istikharah dulu ya, ustadzah. Kalau memang ini yang terbaik dan jodohnya, saya pasti akan segera memberi kepastian kepada anda" ucap Pak Hakim waktu itu.


Keduanya sama-sama ditinggal meninggal oleh pasangannya dengan Ustadzah Siti yang tidak mempunyai anak. Seringnya bertemu membuat Pak Hakim begitu terpana dengan sorot mata tulus dari Ustadzah Siti bahkan senyumnya begitu menenangkan.

__ADS_1


Ustadzah Siti pun merasa demikian hingga langsung mengungkapkan perasaannya pada Pak Hakim. Walaupun sebenarnya ia juga merasakan malu pada Pak Hakim karena seorang wanita mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.


"Pak Hakim, saya ingin melakukan ta'aruf dengan anda. Saya ada sedikit perasaan aman dan nyaman ketika berada didekat anda. Semoga anda sudi menerima ajakan saya untuk melakukan ta'aruf" ucapnya waktu itu.


Tentunya hanya jawaban meminta wanita itu sholat istikharah dulu agar nantinya semua keputusan yang diambil itu memang atas ijin Allah. Saat ini, Pak Hakim sudah memantapkan hatinya untuk menerima ajakan dari Ustadzah Siti melakukan ta'aruf. Sebenarnya bukan melakukan ta'aruf pasalnya Pak Hakim menginginkan untuk segera menikah.


Tentunya ajakan menikah Pak Hakim yang tiba-tiba ini membuat Ustadzah Siti terkejut. Ia tak menyangka jika secepat ini Pak Hakim menentukan pilihannya. Tangan Ustadzah Siti yang gemetaran itu langsung saja meletakkan mangkok berisi soup itu keatas meja yang ada di teraa rumah.


Antara rasa bahagia dan terharu secara bersamaan karena akhirnya ia bisa mendapatkan kepastian dari seorang pria yang menarik hatinya. Tentunya hal ini sudah tak bisa diungkapkan oleh kata-kata lagi. Hanya mata yang berkaca-kaca dengan pandangan berbinar, itulah yang bisa menggambarkan kebahagiaannya kini.


"Terimakasih. Saya menerima ajakan Pak Hakim. Lagi pula kita sudah sama-sama dewasa dan tua seperti ini, tidak perlu seperti anak muda yang harus berpesta ria. Cukup sah dimata agama dan negara saja" ucap Ustadzah Siti.


Pak Hakim menganggukkan kepalanya setuju karena ia juga tak mau direpotkan dengan hal-hal seperti itu. Biarlah nanti pernikahan Ratu yang seperti itu jika memang gadis itu ingin menikah.


"Jangan lupa hubungi Ratu, pak. Kita harus meminta ijin kepadanya" ucap Ustadzah Siti memberitahu.


"Iya... Barusan saja dia hubungi saya tapi lagi di kampus. Malah tadi si tengil Lio itu menggoda akan mendekati Ratu kalau saya nggak kesana" ucap Pak Hakim sedikit kesal.


Ustadzah Siti hanya tertawa melihat calon suaminya ternyata tadi berwajah kesal karena sehabis mengobrol dengan Lio. Ia juga rindu dengan pemuda tengil yang selalu bisa menghidupkan suasana itu.


"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Tidak enak dengan tetangga kalau disini terlalu lama" ucap Ustadzah Siti berpamitan.


Pak Hakim hanya menganggukkan kepalanya setelah melihat Ustadzah Siti kini telah pergi dari hadapannya. Jujur saja, ia memang membutuhkan sosok pendamping untuk menemani masa tuanya. Saat seperti ini dengan Ratu kuliah di kota dan kelak akan ditinggalkan karena anaknya menikah, ia selalu merasa kesepian. Tentunya ia sudah memikirkan matang-matang keputusan yang ia ambil ini.


"Semoga saja Ratu mau merestui hubungan kami" gumamnya kemudian mengambil mangkok berisi soup yang tadi dibawa oleh Ustadzah Siti.


Pak Hakim segera saja masuk dalam rumahnya untuk meletakkan makanan itu untuk lauk makan siangnya. Ia sungguh beruntung karena Ratu begitu peka dengan dirinya yang tak bisa memasak ini. Bahkan tepat dalam memilih seseorang untuk membawakannya lauk seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2