
Ratu dan ibu-ibu warga sekitar membantu di rumah Pak Hakim satu hari sebelum acara pernikahan diselenggarakan. Rencananya acara syukuran akan diadakan di rumah Pak Hakim untuk warga sekitar saja. Tidak ada acara penting namun hanya makan-makan saja agar terlihat meriah dan kerukunan antar warga terjalin dengan baik. Bahkan semua kegiatan ini dibiayai oleh Kakek Angga karena memang Pak Hakim dari awal tidak berniat mengadakan ini sebab tak punya dana lebih.
"Pokoknya serahkan saja sama saya untuk biayanya. Saya melakukan ini agar warga desa ini bisa berkumpul lalu makan bersama. Ini bisa memperkuat silaturahmi lho apalagi nanti masaknya sama warga. Semoga dengan ini mereka tak lagi slaing menggunjing antar sesama" ucap Kakek Angga waktu itu.
Tentunya itu lebih seperti sebuah sindiran untuk beberapa warga disini yang suka sekali menyindir Lio dan kakeknya ketika berada di desa ini. Padahal sebagai tetua disini, Pak Hakim sudah berusaha untuk mengingatkan warganya agar tak saling mencemooh atau menghina. Ia hanya tak ingin jika nantinya warga di desa ini malah pada saling cekcok akibat tidak mau menghilangkan kebiasaan itu.
"Ini sudah siap semua. Besok sebelum shubuh harus sudah dimasak semua, jadi kita cukup disini dulu. Bisa pulang lalu istirahat dan nanti jam 2 atau 3 pagi kesini untuk memasak" ucap salah satu ibu-ibu mengomandoi.
Semuanya menganggukkan kepalanya setuju. Kalau dimasak mulai jam 8 malam ini, sudah pasti semua makanan akan basi. Untuk hari ini memang difokuskan untuk mengupas dan memotong beberapa sayuran juga bumbu agar esok hari tinggal memasaknya. Tentunya untuk daging ayam sudah direbus malam ini juga agar keesokan harinya tinggal menggoreng dan memberi bumbu.
Setelah melihat semua ibu-ibu pulang ke rumah, akhirnya Ratu dan Ibu Adin langsung masuk dalam rumah. Keduanya segera saja merebahkan badannya di kursi ruang tamu dalam keadaan mata tertutup. Ternyata baru seperti ini saja sudah melelahkan apalagi besok yang harus memasak saat pagi buta.
"Lelah sekali. Padahal hanya untuk makan satu desa saja ya" ucap Ratu sambil menghela nafasnya lelah.
"Ibu juga baru pertama kali ini lho memasak untuk banyak orang seperti ini dengan berbagai menu makanan. Mana makanannya nggak cuma soup dengan ayam dan tempe saja, masih ada bakmi, oseng tempe, sambal kentang juga ada es buah. Wah ini mah udah kaya pesta rakyat" ucap Ibu Adin sambil geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba saja Pak Hakim dan Lio datang ke ruang tamu karena melihat kalau ruangan itu lampunya masih menyala. Ternyata disana ada Ratu dan Ibu Adin yang sedang mengistirahatkan badannya sebentar. Mereka berdua segera duduk disana dengan menonton tayangan TV membuat Ratu dan Ibu Adin langsung membuka matanya.
"Kok ayah belum tidur? Besok kan ayah harus bangun pagi-pagi. Banyakin istirahat, jangan sampai besok pusing dan salah sebut nama" ucap Ratu sambil terkikik geli.
__ADS_1
"Iya, nanti kalau jadi sebut nama Lio kan jadi bahaya" ucap Lio menambahi.
Ratu dan Lio begitu kompak untuk menjahili Pak Hakim yang wajahnya sedang tegang. Sebenarnya Pak Hakim juga merasa gugup walaupun ini pernikahan keduanya namun berusaha menutupi. Namun ternyata malah diingatkan oleh anak dan musuh bebuyutannya ini.
"Ya kali saya salah sebut namamu. Masa batang nyebut batang" ketus Pak Hakim yang langsung saja berlalu pergi masuk dalam kamarnya.
Lio hanya bisa cekikikan karena merasa geli dengan balasan yang dilontarkan oleh Pak Hakim itu. Sedangkan Ratu merasa kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya. Ibu Adin yang paham langsung saja menarik tangan Ratu agar segera masuk dalam kamarnya. Tentu pembicaraan itu hanya untuk orang-orang dewasa bukan bagi Ratu yang polos seperti itu.
***
Pagi-pagi sekali, beberapa ibu-ibu sudah berada di rumah Pak Hakim. Bahkan Ratu dan Ibu Adin juga ikut membantu disana dengan semuanya berbagi tugas. Mereka fokus dengan tugasnya masing-masing agar nantinya segera selesai. Porsi yang mereka sediakan juga lumayan banyak dengan nantinya bisa langsung mengambil sendiri pada meja yang telah disediakan.
Kemarin sore bapak-bapak sudah mendirikan tenda, menyewa kursi, dan meja di balai desa. Semuanya sudah siap bahkan untuk piring-piring catering juga sudah sekalian dari balai desa. Tinggal nanti memberikan uang sewa seikhlasnya saja saat mengembalikan.
Seorang wanita paruh baya itu adalah Ibu Yati yang sudah siap dengan gaya nyentriknya. Terlebih warna yang dipakai begitu tak enak dipandang mata. Ibu Yati mengenakan jilbab warna kuning dengan gamis warna merah menyala. Bahkan pada lengan tangannya banyak sekali gelang yang dipakainya, entah itu asli atau palsu. Tas dan sepatu yang digunakan berwarna ungu membuat semua orang disana hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kalau memang sudah tahu terlambat, mending nggak usah kesini. Datangnya nanti saja saat syukuran berlangsung. Lagian ini sudah selesai dan kami mau pulang untuk mandi" ucap salah satu ibu-ibu kesal.
"Kalau begitu biar saya yang jaga semua makanan ini. Khawatirnya malah nanti ada yang dimaling kucing" ucap Ibu Yati dengan percaya dirinya.
__ADS_1
"Nggak perlu repot-repot, bu. Lagian ada Ibu Adin disini, dia lebih bisa dipercaya dibanding anda. Toh isi dalam tas itu kami yakini kalau dalamnya kantong plastik buat bungkus makanan kan?" ledek salah satu ibu-ibu.
Ibu-ibu pun segera saja pergi dari sana meninggalkan Ibu Yati yang kesal karena ucapan dari tetangganya itu. Ibu Adin memang akan gantian untuk membersihkan dirinya dengan Ratu karena akan menjaga makanan-makanan ini. Ibu Yati yang ditatap oleh Ibu Adin dengan tatapan menyelidik pun langsung memilih pergi dengan wajah yang ditekuk.
***
"SAH..."
Seruan dari beberapa saksi menyatakan kalau ijab kabul yang baru saja dilaksanakan itu telah sah dimata agama dan negara. Pernikahan itu berlangsung di KUA setempat dengan Ratu juga keluarga Kakek Angga yang menemani Pak Hakim. Sedangkan Ibu Adin berjaga di rumah saja untuk mengantisipasi adanya orang-orang iseng.
Kini ayahnya yang begitu gagah dengan jas berwarna hitam dengan Ustadzah Siti yang sangat anggun dengan gamis dan hijab putih menutupi dada. Keduanya tampak serasi dengan Ustadzah Siti menggunakan riasan tipis yang dibantu oleh kerabatnya. Ratu begitu bahagia hingga menitikkan air matanya karena melihat ayahnya telah menemukan pendamping hidupnya.
"Selamat ayah" ucap Ratu yang kemudian memeluk Pak Hakim.
Pak Hakim juga langsung memeluk anaknya diikuti oleh Ustadzah Siti. Ratu sangat bahagia karena kini orangtuanya lengkap memeluk dirinya dengan erat. Ia memang takkan pernah melupakan ibu kandungnya, namun tetap akan bersikap baik kepada ibu sambungnya. Apalagi Ustadzah Siti memang baik kepadanya.
"Cieee... Calon ayah mertua udah nikah aja. Habis ini anaknya saya nikahin ya, yah" ucap Lio dengan celetukan asalnya.
"Langkahi dulu aku kalau mau menikahi anakku" kesal Pak Hakim sambil menatap tajam kearah Lio.
__ADS_1
Lio hanya tertawa mendengar ucapan ketus itu. Apalagi wajah Pak Hakim sudah memberengut kesal membuat semua orang disana malah tertawa. Kakek Angga yang melihat tingkah cucunya itupun langsung saja menjewer telinganya dan menariknya keluar dari ruangan itu.
"Astaga... Sakit, kek" seru Lio sambil terus berjalan mengikuti kakeknya.