
"Arrrghhhhh..." teriak Lio didepan kontrakannya.
Ia tak menyangka karena kejadian tadi malam yang dirinya menegur Pak Hakim yang notabene adalah ayah Ratu itu malah membuat dirinya dipojokkan dan disalahkan. Padahal niatnya baik namun yang namanya sudah lebih mengutamakan tetua sehingga orang baru yang benar pun disalahkan.
Hampir semua warga disini membicarakannya bahkan tak segan menegurnya. Seakan-akan mereka semua mendewakan Pak Hakim yang merupakan tetua disini. Namun Lio yang memang pikirannya lebih maju takkan menuruti apapun karena baginya yang terpenting adalah itu perbuatan baik. Kalau memang apa yang dilakukannya tak baik menurut orang, ia akan acuh saja. Tak penting juga penilaian orang terhadapnya, lagi pula di kota ia sudah sering mendapatkan stigma seperti itu.
"Bagaimana? Enak dipojokkan sama warga? Makanya jadi orang baru diam aja udah didalam rumah" ucap seseorang tiba-tiba.
Lio yang memang sedang memejamkan matanya untuk meredam emosinya pun seketika membuka mata. Mata tajamnya menatap kearah seseorang yang mengucapkan kalimat seperti sindiran itu. Setelah melihat siapa yang ada didepannya pun, Lio begitu terkejut. Bagaimana tidak? Orang yang selama ini menjadi panutan warga sekitar ternyata mempunyai watak yang julid.
"Cieee... Yang katanya panutan nyatanya bermuka dua. Suka memojokkan orang yang tak bersalah demi sebuah pembenaran" ucap Lio dengan meledek.
Seseorang yang tadi menyindir Lio itu adalah Pak Hakim atau ayah dari Ratu. Entah apa tujuan pria paruh baya itu mengucapkan kalimat yang menurut Lio seperti seseorang yang tak pernah belajar. Pria paruh baya itu di mata Lio malah lebih mirip seseorang yang suka memprovokasi dan adu domba oranglain.
Pak Hakim yang mendengar ucapan Lio yang terlalu berani kepadanya pun kesal bukan main. Bahkan sepertinya pemuda itu tak punya rasa takut sama sekali kepadanya padahal semua orang disini begitu menghormatinya. Ucapannya bagi mereka adalah keramat karena kemungkinan besar akan terjadi. Hal itu lah yang membuat mereka sedikit takut untuk melawan.
"Ayah, sarapannya sudah siap" ucap Ratu yang tiba-tiba datang.
Sontak saja Pak Hakim yang sedang menatap tajam kearah Lio itu langsung memalingkan wajahnya kearah anaknya yang datang. Tadi Ratu sudah mencari keberadaan ayahnya di rumah namun sama sekali tak menemukannya. Alhasil ia mencarinya keluar rumah dan terlihatlah ayahnya berdiri didepan kontrakan Lio.
__ADS_1
Walaupun masih ada rasa kesal akan apa yang dilakukan oleh ayahnya semalam, namun sebagai anak ia akan menyiapkan semua kewajibannya untuk mengurus beliau. Melihat ayahnya yang ada didepan rumah Lio, sontak raut wajah Ratu ketakutan. Ia berpikir bahwa akan ada pertengkaran lagi seperti tadi malam.
Namun saat Ratu mendekat kearah mereka, ia sedikit bernafas lega karena ternyata keduanya hanya adu tatapan tajam saja. Untuk melerai tatapan tajam itu akhirnya Ratu langsung memanggil ayahnya.
Pak Hakim langsung saja pergi berlalu dari depan rumah kontrakan Lio tanpa mengucapkan apapun. Sedangkan Ratu masih disana kebingungan dengan sikap ayahnya yang aneh.
"Sudah sana pulang, nanti macannya ngamuk kalau kamu ada disini" usir Lio.
Ratu yang merasa diusir pun menyipitkan matanya seakan menyelidiki sosok Lio yang mengusirnya. Lio acuh tak acuh kemudian berlalu masuk kedalam kontrakannya. Ratu yang ditinggalkan begitu saja menghentak-hentakkan kakinya kesal kemudian kembali pulang ke rumah.
"Ish... Padahal Ratu ingin minta maaf tentang kejadian semalam lho. Tapi kok ini mulut nggak berani ngomong sih sama dia" gerutu Ratu sambil menepuk pelan bibirnya.
"Ini ayah" ucap Ratu mempersilahkan.
Ratu langsung mengambilkan nasi dan lauk diatas piring sang ayah. Sedangkan ayahnya memilih mengambil piring yang sudah terisi itu kemudian memakannya dengan tenang. Ratu terlihat sedih dengan perubahan ayahnya yang menjadi pendiam setelah kejadian semalam.
"Harusnya Ratu yang kecewa dan marah sama ayah karena sudah membentak juga menampar Ratu" ucap Ratu pelan.
Setelah selesai makan, Ratu lebih memilih untuk menyelesaikan masalah semalam dengan segera. Ia tak mau jika permasalahan ini akan semakin terlarut terlebih nanti akan mengganggu hubungan antara ayah dan anak itu. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Ratu segera berbicara kepada sang ayah dengan pelan. Berharap ayahnya itu takkan marah jika dirinya berbicara pelan-pelan.
__ADS_1
"Lalu mau mu apa, Ratu? Kau bersalah, pantas jika ayah membentak dan menamparmu. Terlebih ini menyangkut harkat dan martabatmu sebagai seorang perempuan" ucap Ayah Hakim menatap intens anaknya.
Ratu yang mendengar ucapan ayahnya sedikit tak percaya. Semuanya selalu disangkutpautkan dengan harkat martabat padahal dia masih menjaga semuanya. Aurat bahkan pergaulannya juga masih terjaga, hanya menegur pemuda saja sudah menjatuhkan harkat dan martabat. Astaga... Ratu benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran ayahnya itu.
"Ayah, aku masih menjaga aurat dan harga diriku sebagai seorang perempuan. Bahkan waktu itu Ratu berbicara dengannya juga jaraknya lebih dari satu meter. Bahkan disana tak hanya ada Ratu, ada banyak pembeli perempuan dan laki-laki. Dimana Ratu menjatuhkan harkat dan martabatku sebagai seorang perempuan, yah?" tanya Ratu setelah menyampaikan semua penjelasannya.
Ayah Hakim terdiam setelah mendengar ucapan dari anaknya. Ia sedikit percaya tidak percaya, pasalnya orang yang mengadukan kejadian semalam pernyataannya sangat berbeda. Ia jadi bingung harus percaya dengan siapa, namun melihat tatapan mata anaknya yang tak terlihat ada kebohongan membuat emosinya sedikit mereda.
"Semalam Mpok Yati lihat kamu ada di warung nasi goreng. Katanya kamu lagi makan berdua dengan pemuda itu bahkan sampai suap-suapan" ucap Ayah Hakim.
Ayah Hakim mencoba menjelaskan pokok permasalah sebenarnya mengapa ia bisa sampai berbuat kasar pada anaknya. Walaupun selama ini dirinya tegas dan sering membentak anaknya, namu baru kali ini dia menampar gadis itu. Ada perasaan bersalah di relung hatinya saat menampar anaknya semalam, namun karena emosi yang tak terbendung membuatnya menyingkirkan pemikirannya.
Lagi pula jika memang itu kebenaran tentunya akan merusak citranya sebagai seorang ayah yang tak bisa mendidik anaknya. Padahal ia seorang ustadz dan tetua di desa ini namun ternyata tak bisa mendidik anak tunggalnya. Hal ini lah yang membuat dia tak bisa berpikir jernih.
"Astaghfirullah... Mpok Yati? Ish... Kaya ayah nggak tahu aja kalau dia suka gosip padahal yang dikatakannya belum tentu benar" ucap Ratu sedikit kesal.
Bibir Ratu mengerucut karena bisa-bisanya dia difitnah oleh Mpok Yati. Memang sih wanita paruh baya itu kalau bertemu dengannya selalu menatap iri kearahnya namun ia tak menyangka kalau sampai berani memfitnahnya.
Ratu hanya bisa mengelus dadanya sabar karena difitnah oleh tetangganya. Sekarang yang terpenting ayahnya sudah percaya dengannya bahkan masalahnya sudah selesai. Ia berharap kalau ke depannya sang ayah takkan terpengaruh oleh ucapan oranglain.
__ADS_1