Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Sidang


__ADS_3

"Maksud kamu apa bisa sampai uang yang digunakan untuk keperluan dapur malah nggak ada wujudnya?" tanya Lio setelah sampai di ruang kerja kakeknya.


Lio menatap tajam kearah Pak Broto yang terlihat terdiam dengan menundukkan kepalanya. Lio yang tadinya berdiri langsung saja duduk di kursi kebesaran kakeknya. Ia membuka laptop yang ada diatas meja kemudian menatap layarnya sambil menunggu Pak Broto membuka suara.


"Anda mau buka suara atau saya robek mulut anda?" lanjutnya bertanya.


Lio sudah kesal dengan sikap yang ditunjukkan Pak Broto itu. Padahal sudah jelas kalau Lio meminta penjelasan karena Pak Broto sendiri yang bertanggungjawab di restorant ini. Namun penanggungjawabnya malah diam bagaikan patung selamat datang. Pak Broto bahkan sedari tadi hanya diam dan terus menghela nafasnya seakan tengah gugup dan ketakutan.


"Mas Lio, semua uang yang diberikan untuk membeli sayur itu memang sudah digunakan sebagaimana mestinya. Namun kemarin ada masalah dengan supplier sehingga kami ganti dengan pemasok lainnya. Eh pemasok ini malah menipu kami sehingga uang yang sudah diberikan malah hilang disana" ucap Pak Broto mengelak.


Lio hanya tersenyum sinis mendengar alasan tak masuk akal dari Pak Broto. Kalau memang ditipu berarti pengeluaran untuk pembelian sayuran itu tak ada karena pasti mereka seharusnya melaporkan masalah ini pada Kakek Angga. Bahkan restorant ini hanya ditinggal oleh Kakek Angga satu minggu, bisa-bisanya masalah supplier baru beberapa hari ini.


Kalau memang ada masalah dengan supplier, pasti Kakek Angga sudah bergerak cepat. Apalagi suppliernya itu merupakan salah satu anggota geng motor LEXON. Bahkan kemarin saja saat bertemu di reuni, mereka berbincang bersama. Sepertinya memang ini hanya akal-akalan saja kalau ditipu segala.


Lio menatap layar laptopnya yang berisi rekaman CCTV sekaligus penyadap suara. Lio sengaja menaikkan volume suara itu agar Pak Broto juga mendengarnya. Sepertinya Pak Broto sudah sangat gugup kini karena sebentar lagi mungkin aksinya akan ketahuan.


Rekaman isi CCTV dan penyadap suara...

__ADS_1


"Kita cari pemasok sayur, bahan masakan, dan buah yang kualitasnya dibawah. Kalau di tempat biasa itu, harganya lumayan karena memang kualitasnya bagus. Paling tidak kita menghemat setengah dari pengeluaran sayur. Lumayan kan sisanya buat kita nongkrong" ucap Pak Broto kepada salah satu karyawan bagian dapur.


"Tapi nanti kalau Pak Angga datang dan memeriksa laporan keuangan gimana? Lagian bapak juga masa minta uang buat beli sayuran itu tiap hari. Kan kalau cek bisa ketahuan" ucap karyawan itu.


Pak Broto terlihat diam mendengar ucapan dari karyawan itu. Ia seakan memikirkan sesuatu untuk bisa membuat alasan yang tepat. Kalau sampai dirinya ketahuan, tentu posisinya ini akan terancam. Ia tak mau kalau sampai nantinya dipecat dari sini.


"Nggak akan ketahuan. Mungkin sampai dua minggu kedepan, beliau takkan datang ke restorant. Pak Angga kan lagi sakit, jadi biar nanti aku yang urus bagaimana laporan keuangannya. Selama Pak Angga sakit, kita bisa nambah gaji dari pengurangan uang belanja ini" ucap Pak Broto.


"Tapi nanti saya nggak ikutan ya, pak. Saya hanya melaksanakan tugas tapi nggak dapat apa-apa" ucap karyawan itu yang langsung pergi.


Pak Broto hanya tersenyum seakan telah mendapatkan berlian setelah berhasil meminta hal itu pada karyawannya. Lagi pula selama ini Kakek Angga memang jarang sekali memeriksa laporang keuangan karena Pak Broto selalu mengajak beliau berbicara sehingga tak fokus dalam pemeriksaan itu.


Mendengar suara yang berasal dari laptop yang ada dihadapan Lio pun membuat Pak Broto menegang. Ia tak menyangka jika hampir di seluruh sudut pada restorant ini ada CCTV dan penyadap suara. Padahal yang ia tahu, di restorant ini hanya ada CCTV biasa itu pun berada di area depan.


Lio menyeringai sinis melihat kegugupan dari Pak Broto. Lio segera saja berdiri dari kursi kebesarannya kemudian mendekat kearah Pak Broto. Pak Broto yang melihat itu pun langsung memundurkan langkahnya. Ia takut melihat Lio yang menatapnya tajam dengan wajah memerah karean emosi.


"Jadi orang kepercayaan kakek ini adalah penipu dan pengkhianat. Hmm... Apa gaji 10 juta untuk anda setiap bulan itu tak cukup untuk anda berfoya-foya?" tanya Lio dengan wajah sinisnya.

__ADS_1


"Itu hanya salah paham. Itu maksudnya agar kita bisa punya banyak keuntungan dengan memakai pemasok yang kualitas bahan masakannya rendah. Tapi kalau untuk ambil uang itu, biasanya saya alokasikan buat keperluan lainnya. Bukan buat saya kok" elak Pak Broto sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Untuk apa uang itu? Beli AC atau kompor puluhan juta? Mana kompornya? Kok tadi aku lihat itu kompor masih yang dulu saja" tanya Lio dengan tatapan anehnya.


Pak Broto menatap Lio dengan tatapan tak percaya. Ternyata Lio lebih mengerikan dibandingkan Kakek Angga. Lio lebih teliti dalam membaca setiap laporan yang ada di mejanya. Sedangkan Kakek Angga selama ini bahkan tak menyadari jika dirinya menyisipkan pengeluaran lain.


Pak Broto kini sudah tak bisa mengelak lagi. Apalagi semua bukti sudah ada didepan mata. Hanya saja ia masih belum ikhlas kalau sampai dirinya dipecat. Lio hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah orang kepercayaan kakeknya itu.


Terlebih tadi sebelum pergi ke dapur, Lio dan Nathan sempat memeriksa CCTV yang ada di restorant. Bahkan banyak sekali yang dilakukan oleh Pak Broto termasuk mengancam karyawan agar tak buka mulut. Lio hanya bisa menghela nafasnya kasar melihat tingkah dari pria paruh baya itu.


"Pak Broto, anda saya pecat dengan tidak hormat. Anda takkan mendapatkan gaji bulan ini dan pesangonnya. Anda juga saya wajibkan untuk mengganti rugi semua kerugian restorant ini. Saya akan mengirim rincian ganti ruginya kepada anda dalam jangka waktu 2 hari ke depan" putus Lio dengan tegasnya.


Pak Broto yang mendengar hal itu langsung memelototkan matanya. Ia tak menyangka kalau Lio langsung bisa memutuskan hal sekejam ini. Dipecat tanpa gaji dan pesangon, bahkan masih disuruh ganti rugi. Tentunya hal ini membuat kakinya lemas.


"Kalau anda tak bisa mengganti semua kerugian itu dalam waktu 2 bulan, saya akan melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib" lanjutnya dengan senyum menyeringai.


"Anda tak bisa memecat saya. Yang berhak memutuskan semua ini hanya Pak Angga" seru Pak Broto tak terima.

__ADS_1


Lio yang mendengar hal itu hanya bisa terkekeh sinis. Ia tak menyangka jika Pak Broto akan menunjukkan taringnya. Tadi saja saat awal bertemu begitu ramah dan sopan seakan dirinya adalah pengganti sang kakek. Namun ternyata itu hanyalah bualan semata untuk menutupi kedoknya selama ini. Ia tak menyangka jika orang kepercayaan kakeknya selama beberapa tahun ini tak ubahnya seorang rubah.


__ADS_2