Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kekesalan Lio


__ADS_3

Semua siswa yang berada didekat gerbang sekolah menatap kedatangan Adin yang turun dari sebuah sepeda motor besar seperti yang pernah mereka lihat di TV. Mereka menatap takjub kearah sepeda motor yang baru pertama kali dilihat oleh semuanya itu. Sedangkan saat menatap Adin, mereka menatapnya dengan sinis terlebih dengan apa yang dibawa oleh bocah laki-laki itu.


"Hei... Adin, bisa naik motor besar kok bawa jualan sih" seru salah satu siswa disana.


Walaupun Adin baru pertama kali jualan di sekolah, namun hal ini sudah merupakan pemandangan biasa bagi siswa disana jika membawa box seperti itu pasti akan berjualan. Yang mereka herankan Adin berjualan namun diantar dengan menggunakan sepeda motor besar. Hal ini membuat mereka ragu jika Adin adalah orang miskin. Terlebih mereka juga penasaran dengan orang yang mengendarai motor itu yang belum pernah semuanya lihat.


"Tuh kan bang, ini nih yang bikin Adin malas diantar abang pakai motor ini. Pasti mereka akan meledek Adin" bisik Adin.


Lio hanya geleng-geleng kepala mengenai alasan sebenarnya dibalik Adin tak mau diantar ke sekolah olehnya. Lio menganggap ini adalah hal biasa sehingga Adin tak perlu takut apalagi malu diantar oleh laki-laki tampan sepertinya.


"Udah nggak usah didengerin. Buruan masuk sana" suruh Lio.


Adin menganggukkan kepalanya kemudian berjalan masuk kedalam sekolah. Semua siswa yang melihat kedatangannya masih menatapnya dengan tatapan sinis dan aneh namun Adin tak mempedulikannya. Untuk dagangannya akan ia titipkan dulu pada ibu kantin.


***


"Adik-adik, jangan ngelihatin Adin kaya gitu ya. Abang ini cuma nganterin dia aja karena kasihan jalannya ke sekolah dari rumahnya jauh" ucap Lio dengan tersenyum tipis.


Setelah Adin terlihat masuk ke dalam sekolahnya, ia segera memberikan pengumuman kepada orang-orang yang ada disana agar tak salah paham. Ia tak ingin Adin nanti dijauhi hanya karena diantarnya ke sekolah menggunakan sepeda motor yang jarang orang punya itu.


"Kalau kalian nanti memang ketemu abang di jalan dan butuh bantuan pakai motor ini, pasti juga abang tolongin kok" lanjutnya memberi pengertian.


Lio berusaha meyakinkan siswa disana dengan lembut. Ia tak ingin menakut-nakuti mereka yang akan berdampak pasa kondisi psikis semuanya. Setelah semua siswa mengangguk mengerti atas penjelasan Lio, akhirnya semua membubarkan diri.


Lio pun segera menyalakan motornya kembali kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang. Ia ingin menikmati jalanan desa yang masih terasa segar pada pagi hari karena belum banyaknya orang yang mempunyai kendaraan seperti motor dan mobil.

__ADS_1


"Biasanya kalau jalanan sepi gini udah gue geber nih motor kalau di kota. Di desa mah banyak pejalan kaki bisa bahaya. Wah... Jadi rindu balapan" gumam Lio.


Saat dirinya tengah menikmati udara pagi yang segar sambil berkendara, tiba-tiba saja ia melihat gadis yang ditolongnya semalam sedang kesusahan. Sepertinya sepeda Ratu rantainya lepas membuat gadis itu harus menuntunnya. Lio yang melihatnya segera saja mendekatkan sepeda motornya kearah Ratu berada.


Ratu yang mendengar ada suara sepeda motor mendekat pun akhirnya mengalihkan pandangannya dari rantai yang ada didepannya. Ratu begitu terkejut melihat kehadiran Lio yang kini sudah turun dari sepedanya.


"Coba lihat sini sepedanya" ucap Lio yang kemudian meraih sepeda gadis itu.


Awalnya Ratu menolak diberi bantuan oleh Lio, namun karena sepedanya dengan sigap diambil laki-laki itu membuatnya pasrah saja. Lagi pula ia ingin tahu apa pemuda kota itu paham dengan perbaikan rantai seperti pekerja bengkel.


"Bukannya kakimu masih sakit? Kenapa harus sekolah dulu sih" kesal Lio.


Semalam Lio memang mengetahui jika kaki Ratu sakit dari ucapan bapak-bapak saat kembali di pos ronda. Bahkan ia sendiri sampai tak menyadarinya karena terlalu fokus dengan kemarahan Pak Hakim.


"Ini udah mendingan kok, lagi pula hanya luka kecil" jawab Ratu dengan menunduk.


"Cih... Luka kecil tapi bikin orang jantungan sebelumnya" ledek Lio sambil terus memperbaiki rantai sepeda Ratu.


"Maaf..." ucap Ratu lirih.


Ratu merasa bersalah pada warga yang menolongnya semalam terutama Lio. Bahkan mereka sampai dimarahi sama ayahnya karena membela dirinya. Bahkan mereka juga dengan susah payah harus bergotong royong malam hari demi menyelamatkannya.


"Udah ini, buruan sana pergi sekolah. Keburu telat" suruh Lio.


Ratu segera melihat jam tangan disebelah kirinya dan benar saja tinggal 10 menit lagi bel akan berbunyi. Ratu segera saja mengambil sepeda yang disodorkan oleh Lio kemudian menaikinya.

__ADS_1


"Terimakasih Mas Lio untuk yang semalam dan pagi ini" ucap Ratu dengan lembut.


Setelah mengucapkan hal itu, Ratu segera mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya. Dalam pikirannya, ia harus segera sampai di sekolah tepat waktu.


"Hati-hati, ingat kakinya..." seru Lio disaat sepeda Ratu mulai menjauh.


Ratu hanya mengangkat jempol tangannya sebagai pertanda kalau ia mendengar seruan Lio. Lio hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah aktif dari Ratu itu. Sepertinya gadis cantik berhijab itu sudah masuk dalam relung hati terdalam Lio. Lio segera saja naik keatas motornya kembali kemudian pergi dari jalanan sepi itu.


***


"Pak Hakim... Mau kemana?" panggil Lio saat melihat ayahnya Ratu itu tengah melewati depan rumah kontrakannya.


Setelah mengantar Adin ke sekolah itu, ia langsung pulang bahkan kini ia sedang mencuci motornya. Saat sedang mencuci motor, ternyata ia melihat Pak Hakim yang berjalan dengan wajah paniknya. Walaupun ia masih kesal, namun melihat wajahnya yang panik membuatnya tak tega untuk menyapa.


"Lio, antar bapak ke sekolahnya Ratu. Ratu katanya pingsan" panik Pak Hakim.


Pak Hakim menurunkan egonya di hadapan Lio dengan meminta tolong agar diantarkan ke sekolah Ratu. Dirinya begitu khawatir dengan keadaan Ratu yang tak biasanya pingsan begini. Lio yang mendengarnya bergegas untuk berganti pakaiannya. Sepeda motornya tinggal menunggu kering sebentar namun sudah bisa dipakai.


Dengan kecepatan kilat, Lio segera menaiki motornya kemudian mendekat kearah Pak Hakim. Pak Hakim segera saja naik membonceng Lio dengan memegang jaket pemuda itu agar tak jatuh. Jika dilihat, ada raut khawatir begitu kentara di wajah Lio.


"Bapak tahu darimana kalau Ratu pingsan?" tanya Lio dengan suara keras.


"Dari temannya tadi memberitahu. Katanya disuruh guru ke sekolah karena Ratu masih pingsan" jawab Pak Hakim dengan berteriak.


Mereka memang harus saling berteriak karena suara kendaraan dan angin yang hampir bersamaan membuat tak bisa mendengar dengan jelas apa pembicaraan keduanya. Lio terus menggeber sepeda motornya dengan kecepatan tinggi sesuai arahan Pak Hakim.

__ADS_1


__ADS_2