Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kekesalan


__ADS_3

Lio keluar dari ruangan kakeknya dengan raut wajah kesal seakan-akan ingin memakan orang. Semua karyawan yang dilewatinya hanya bisa bergidik ngeri. Lio diikuti oleh Nathan langsung saja menuju dapur untuk melihat bahan baku terutama sayuran untuk kebutuhan restorant ini. Nathan pun sama kesalnya setelah bersama-sama memeriksa laporan yang diserahkan.


Walaupun mereka hanya anak baru lulus sekolah, namun keduanya sudah pernah diajari oleh Kakek Angga mengenai bisnis sejak awal masuk SMA. Walaupun kemungkinan nantinya tak terjun langsung pada bisnis ini, namun Kakek Angga membiasakan keduanya untuk mengetahui seluk beluk bisnis restorant ini. Jadi jika sewaktu ada masalah dan sedang dalam kondisi darurat seperti ini, mereka bisa membantu Kakek Angga.


"Mau kemana, Mas Lio?" tanya orang kepercayaan kakeknya di restorant.


"Ke dapur" jawab Lio singkat.


"Mas Lio butuh apa? Biar saya ambilkan saja. Di dapur itu kotor terus banyak asapnya. Lebih baik anda duduk, kami akan melayani apa yang anda inginkan" ucap orang kepercayaan kakeknya, yang tak lain adalah Pak Broto.


Melihat Pak Broto seperti menghalang-halangi dirinya untuk ke dapur membuat Lio dan Nathan curiga. Tanpa mengindahkan larangan dari Pak Broto, segera saja Lio dan Nathan dengan cepat berjalan kearah dapur. Bahkan Lio dan Nathan dengan sengaja menabrak bahu pria paruh baya itu.


"Hei... Di luar pelanggan lagi banyak-banyaknya lho. Kok kalian malah santai-santai ngrokok dan main game seperti ini sih? Bantuin yang lainnya di luar itu" seru Lio menatap tak percaya kearah semua karyawannya itu.


"Dan sejak kapan di area karyawan sini boleh merokok?" lanjutnya dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Semua karyawan yang mendengar seruan itu tentunya terkejut dan langsung berdiri. Bahkan ada yang langsung membuang puntung rokoknya ke lantai kemudian menginjaknya. Yang bermain game lewat ponsel langsung saja memasukkannya ke dalam saku. Rasanya Lio dan Nathan ingin sekali menonjoki wajah mereka hingga babak belur.


Para karyawan tak menyangka jika cucu pemilik restorant yang jarang kesini itu mau memasuki area dapur. Padahal biasanya Kakek Angga saja jarang memasuki dapur sehingga karyawan yang ada disana santai ingin melakukan apa saja. Melihat wajah Lio yang memerah dengan kedua tangan yang mengepal erat membuat semua karyawan ketakutan.


"Chef disini mana? Apa tak ada pesanan masuk dari banyaknya pelanggan yang datang? Sehingga bagian dapur santai malah kaya pada nongkrong begini" tanya Nathan.


Beberapa karyawan langsung menunjuk kearah seorang chef yang berdiri tak jauh dari sana. Langsung saja chef itu sedikit mendekat kearah Lio dan Nathan. Namun sedari tadi matanya melirik dan mencuri pandang kearah belakang dua pemuda itu. Lio dan Nathan saling pandang kemudian dengan tiba-tiba langsung melihat kearah belakang keduanya.


Ternyata dibelakang keduanya ada Pak Broto yang tengah menatap tajam kearah chef dan beberapa karyawan disana. Setelah melihat Lio dan Nathan melihat kearahnya, Pak Broto langsung menormalkan ekspresi wajah dan matanya itu. Pak Broto terlihat tersenyum saat Nathan dan Lio menatap kearahnya.


Sontak saja Lio dan Nathan menatap tak percaya kearah chef itu. Sebenarnya chef itu tak berani berkata jujur sebelumnya, namun jika tak memasak pasti juga nanti ada komplain dari pengunjung. Sudah beberapa kali kejadian seperti ini terjadi, namun mereka masih bisa menghandlenya dengan menawarkan menu lainnya. Namun kali ini sungguh tak bisa.


Untuk membuktikan ucapan chef itu, Nathan dan Lio langsung saja membuka pintu lemari es yang besar itu. Mata mereka membulat saat tak ada satupun sayuran, bahan masakan, dan daging. Disana hanya ada sisa sayuran yang sudah mengering membuat keduanya hanya bisa menghela nafasnya kasar.


"Pak Broto... Setiap hari di laporan keuangan selalu ada pengeluaran untuk bahan sayuran dan lainnya. Bahkan sampai puluhan juta, namun apa ini buktinya? Kau menilap uang itu kemana?" sentak Lio yang begitu geram.

__ADS_1


Nathan segera meminta beberapa karyawan yang ada disana untuk menghubungi supplier. Nathan memberikan uang terlebih dahulu agar pemasukan terus jalan. Untuk urusan mengenai siapa yang mengambil uang dan memanipulasi pengeluaran, tentunya ini akan langsung diurus setelah masalah di dapur selesai. Mereka tak mungkin menunda lagi mengenai pengunjung yang sudah terlanjur datang dan duduk.


Nathan mencoba bicara dengan supplier sayurannya karena tadi karyawan yang menghubungi ternyata tak bisa bernegosiasi dengan pihak sana. Setelah pembicaraan cukup lama, akhirnya mereka mau mengirimkan sayuran lagi sehingga dalam waktu 10 menit langsung sudah ada di restorant.


"Lio, lebih baik kau sidang saja itu orang ke ruangan kakek. Aku akan urus pengunjung yang sudah terlanjur datang" ucap Nathan sambil menepuk bahu Lio.


Lio yang sedari tadi menanti jawaban dari Pak Broto pun begitu kesal karena beliau hanya diam. Ia pun segera pergi berlalu menuju kearah ruangan kakeknya diikuti oleh Pak Broto. Nathan pun langsung berkoordinasi dengan bagian dapur dan beberapa pelayan untuk sedikit menunda kedatangan makanan. Bahkan Nathan langsung saja memberitahu cara bagaimana mengatasi pelanggan yang pasti sudah suntuk menunggu pesanannya.


"Ini uang untuk kalian serahkan pada suppliernya. Nanti setelah semua bahan datang, dengan cepat langsung saja chef sama yang lainnya bantu masak. Itu kompor kan ada enam, bisalah satu menu dibuat masing-masing satu orang. Kalau ada kesusahan panggil saya didepan" ucap Nathan memberi pengertian pada semua karyawan di dapur.


Nathan diikuti oleh beberapa pelayan langsung saja pergi kearah bagian depan. Nathan langsung saja mendekat kearah meja yang memang belum diantarkan makanannya. Nathan dengan ramah dan sopannya langsung meminta maaf pada para pelanggan. Bahkan mereka langsung saja memberikan minuman secara cuma-cuma sebagai ganti rugi atas kejadian ini sambil menunggu pesanannya.


Semua pelayan dan karyawan begitu senang karrna mendapatkan solusi dan juga pembelajaran dari Nathan. Bahkan mereka diajari dengan senang hati tanpa ada bentakan atau caci maki. Awalnya mereka kesal karena Pak Broto selalu menuntut sempurna padahal dia sendiri tak mau tahu keluhan karyawannya.


Ingin sekali mereka mengadu pada Kakek Angga saat datang ke restorant, namun Pak Broto selalu mengancam akan memecat karyawan semuanya. Hal itu juga yang membuat mereka takut. Namun kejadian Nathan dan Lio datang itu langsung saja membawa angin segar bagi para karyawan. Terutama bagian dapur yang selama ini disalahkan akibat bahan masakan yang selalu habis.

__ADS_1


__ADS_2