Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Lesu


__ADS_3

"Pak Hakim kenapa kok lesu gitu?" tanya Diko yang tak sengaja berpapasan dengan ayah dari Ratu itu.


Setelah pembicaraannya dengan Ratu di rumah tadi, Pak Hakim memilih untuk keluar menuju ke sawahnya. Banyaknya burung pemakan padi membuat ia harus sering-sering menengok ke sawahnya agar tak habis nanti hasil panennya seperti kemarin.


Diko tentunya yang akan keluar mencari makan itu langsung menyapa Pak Hakim yang terlihat lesu dan seperti orang linglung. Bahkan Pak Hakim terlihat terkejut saat mendengar adanya Diko yang menyapa dirinya. Hal ini sudah membuktikan bahwa Pak Hakim tadi tengah melamun.


"Ah... Maaf pak. Tadi saya agak sedikit melamun jadi tak mendengar sapaan anda" ucap Pak Hakim sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Jangan melamun sambil berjalan pak, nanti kalau ada sepeda motor lewat atau tersandung kakinya kan malah bahaya" ucap Diko memberi pesan.


Pak Hakim hanya menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum tak enak hati. Pak Hakim terlihat menghela nafasnya berulangkali seakan ada beban berat yang ada di pundaknya.


"Saya lagi banyak pikiran, pak" ucap Pak Hakim dengan lesu.


Mendengar ucapan Pak Hakim pun Diko memilih untuk menggiring beliau agar segera berjalan kearah sawah. Diko yang tahu tujuan awal Pak Hakim kearah sawahnya pun lebih memilih untuk menemani beliau kesana. Paling tidak disana tak ada seorang pun yang akan mendengar cerita Pak Hakim itu. Sedangkan petani yang lainnya juga jarang yang ada di sawah kalau siang hari seperti ini.


"Sekarang bapak bisa cerita ke saya. Itu pun kalau bapak berkenan" ucap Diko setelah sampai di gubuk sawah.


Pak Hakim terlihat menatap lurus ke depan sambil menghela nafasnya. Dari matanya ia kelihatan begitu frustasi akan keadaan yang sedang ia jalani saat ini. Diko yang tahu pun langsung saja menepuk bahu Pak Hakim beberapa kali untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Bapak nggak bisa biayai Ratu kuliah di kota. Padahal Ratu sudah antusias sekali mencari kampus dan beasiswa" ucap Pak Hakim memulai ceritanya.


Dari sini pun Diko sudah paham dengan masalah yang dialami oleh Pak Hakim itu. Tentang biaya hidup dan sekolah anaknya di kota pasti menjadi perhatian Pak Hakim. Walaupun sekolah dengan beasiswa, akan tetapi disana harus punya uang untuk kost dan makan.


"Saya merasa gagal menjadi seorang ayah. Hanya untuk mewujudkan semua impian dan cita-citanya buat bersekolah tinggi saja tak bisa" ucapnya sambil mengacak rambutnya.


Diko mengelus lengan tangan Pak Hakim mencoba untuk menenangkan laki-laki itu. Dia memang belum menikah dan mempunyai anak yang tentunya tak tahu bagaimana harus membiayai seseorang yang sedang sekolah. Namun yang ia tahu sudah mengalami harus membiayai biaya hidup keluarganya. Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja sudah begitu banyak yang ia keluarkan apalagi kalau tinggalnya di kota.


"Kalau bisa saya kasih saran, minta bantuan sama Pak Angga saja. Pak Angga pasti mau bantu walaupun resikonya adalah disana pasti bertemu den Lio. Lagi pula Pak Angga itu orangnya tegas kalau sama cucunya, neng Ratu pasti aman disana. Kalau memang Pak Hakim nggak percaya sama den Lio, nikahkan saja mereka biar tidak menimbulkan fitnah" ucap Diko memberi saran.


Tentunya Pak Hakim terkejut dengan saran yang diberikan oleh Diko itu. Menurutnya itu sama saja ia menjual anaknya demi kuliahnya, tentu Pak Hakim akan menolak dengan keras. Kalau pun minta bantuan, lebih baik ia meminjam uang kemudian ia cicil tanpa melibatkan Ratu didalamnya.


Diko hanya menggaruk tengkuknya tak gatal karena merasa idenya ini terlalu lancang. Apalagi sudah menjurus ke pernikahan demi mendapatkan fasilitas yang mewah dan pendidikan tinggi. Tentunya Kakek Angga pun akan langsung menolaknya karena mungkin akan merasa kalau dirinya dimanfaatkan.


"Ya sudah kalau begitu pinjam saja uang dengan beliau. Pak Hakim bisa mencicilnya, tenang saja Pak Angga bukan rentenir kok. Beliau nggak akan ngasih bunga" ucap Diko mengusulkan.


Awalnya ia mengusulkan pernikahan itu hanya iseng saja karena kemungkinan nanti juga Lio takkan mau menurutinya. Lio masih lah harus bekerja kemudian bertanggungjawab atas dirinya sendiri yang tak mungkin bisa bersamaan dengan itu. Tentunya kini Pak Hakim tengah berpikir keras mengenai usulan dari Diko itu.


"Benar. Nanti biar saya pinjam ponselnya Ratu untuk menghubungi beliau" ucap Pak Hakim dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Apa tak sebaiknya kalau hal ini tak usah sampai tahu pada Ratu, pak? Nanti dia malah kepikiran kalau bapak meminjam uang pada Pak Angga. Mungkin juga dia malah menolak untuk kuliah karena itu biayanya dari hasil meminjam" tanya Diko menyampaikan keluhannya.


Sontak saja Pak Hakim yang tadinya sudah bersemangat langsung saja terdiam. Benar saja ucapan dari Diko itu kalau sampai Ratu mengetahui rencananya ini tentu dia takkan mau melanjutkan kuliahnya. Yang ada malah Ratu langsung saja bekerja demi membantu kebutuhan Pak Hakim.


"Kalau begitu saya pinjam ponsel anda, pak" ucap Pak Hakim dengan penuh keyakinan.


Diko segera saja menyerahkan ponselnya pada Pak Hakim kemudian memperlihatkan nomor yang tersimpan disana. Pak Hakim segera menyentuh tombol panggilan sambil menghela nafasnya. Pak Hakim sedikit gugup saat akan meminjam uang seperti ini. Pasalnya jika meminjam disini sangat susah karena warga lainnya tentu juga tengah memikirkan kebutuhannya sendiri.


Lagi pula ia juga bingung akan meminjam berapa karena tak tahu kehidupan di kota itu seperti apa. Tak berapa lama menunggu, panggilan dari Pak Hakim pun langsung dijawab oleh Kakek Angga.


"Halo... Pak Angga, ini saya Pak Hakim. Ayahnya Ratu" ucap Pak Hakim setelah panggilan dari seberang sana diangkat.


Pak Hakim segera mengutarakan keinginannya untuk meminjam uang pada Kakek Angga. Ia juga menanyakan tentang kira-kira berapa biaya hidup per bulannya untuk anak kuliahan jika di kota itu. Setelah dijelaskan oleh Kakek Angga, akhirnya Pak Hakim sudah jelas bahwa yang dibutuhkan disana itu tergantung dari masing-masing anak saja.


Setelah mendapatkan sedikit pencerahan dari Kakek Angga, Pak Hakim sedikit menghela nafasnya lega. Terlebih Kakek Angga akan mencari informasi tentang adanya beasiswa yang sekalian untuk tempat tinggalnya. Kalau pun nantinya butuh biaya tambahan, Kakek Angga akan membantu terlebih Ratu itu seorang anak yang baik.


"Terimakasih, pak. Mohon bantuannya" ucap Pak Hakim kemudian mengakhiri panggilannya.


Matanya berkaca-kaca kemudian memeluk Diko yang ada disampingnya itu. Ia sungguh tak menyangka kalau banyak orang yang mau membantunya. Beruntung tadi dirinya bertemu dengan Diko yang paham dengan yang seharusnya ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2