Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kebersamaan


__ADS_3

Lio berjalan mendekat kearah Ratu yang masih sibuk berbincang dengan kedua temannya. Saking fokusnya dengan perbincangan ketiganya, mereka sama sekali tak merasa kalau tengah ada orang yang memperhatikan. Bahkan saat Lio sudah dekat dengan mereka, tak ada yang menyadarinya. Tentunya hal ini hanya bisa membuat Lio geleng-geleng kepala.


"Cewek nih kalau udah asyik ngobrol, yang lain anggap aja debu lewat" gumam Lio pelan.


Lio pun segera duduk disamping Ratu walaupun jaraknya masih sekitar satu meter. Diikuti oleh ketiga temannya sambil memperhatikan cewek-cewek ini yang masih sibuk bergosip. Sampai akhirnya Ratu menyadari ada yang memperhatikannya membuat ia langsung mengalihkan pandangannya.


Wajahnya begitu terkejut dengan mata melotot lucu dimata Lio. Sedangkan kedua sahabatnya juga langsung mengalihkan pandangannya kearah orang yang dilihat oleh Ratu. Mereka sama terkejutnya bahkan langsung salah tingkah sendiri. Dari gerak-gerik Lio dan ketiga sahabatnya, mereka tahu kalau empat pemuda itu sudah sedari lama duduk disana.


"Seru amat neng, gosipnya. Bolehlah kalau abang ikutan nimbrung" ucap Delan sambil tersenyum genit.


"Mas Delan bibirnya kaya om-om genit" ceplos Ratu bergidik ngeri membuat semuanya tertawa.


Tentunya semua orang tertawa apalagi melihat wajah polos Ratu yang terlihat bergidik ngeri saat melihat Delan. Bahkan ia juga langsung saja sedikit menjauh dari keempat laki-laki itu karena menganggap semuanya sama. Sedangkan Delan sendiri menatap sinis kearah Ratu yang tidak bisa diajak bercanda sedikitpun.


Namun memang benar jika senyuman Delan itu sangat mirip dengan om-om genit yang sedang menggaet targetnya. Hal ini membuat ketiga sahabatnya pun langsung memilih menjauh duduknya dari laki-laki itu. Hal ini semakin membuat Delan kesal apalagi dikira yang tidak-tidak oleh sahabat-sahabatnya.


"Mas Lio darimana?" tanya Ratu tanpa mempedulikan Delan yang masih menggerutu.


"Dari gedung rektor" jawab Lio sambil tersenyum tipis.


Lio dan ketiga sahabatnya langsung saja mengeluarkan ponselnya kemudian bermain game online. Mereka sangat fokus walaupun harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ratu. Sedangkan Meli dan Salwa merasa canggung sehingga mereka tak melanjutkan perbincangan yang sudah terjadi.


Selain mereka tidak terlalu akrab dan hanya sebatas mengenal nama saja, jarang berinteraksi membuat keduanya lebih memilih diam. Daripada nantinya akan dianggap sok kenal. Lagi pula sudah ada Ratu yang mengajak bicara sehingga tak dianggap tidak mempedulikan kehadiran mereka.


"Tentang masalah yang panitia ejek kakek dan Mas Lio? Ratu juga kesal itu karena dia berani-beraninya ejek kakek. Padahal kakek itu baik banget, kalau ada yang salah jarang dimarahi. Kecuali marahnya sama Mas Lio, pasti dijewer telinganya" ucap Ratu berceloteh.


"Soalnya itu Lio nakalnya udah keterlaluan, Ratu. Tapi beruntungnya, kakek itu nggak pernah main fisik selain menjewer telinga" ucap Nathan menimpali.


Orang yang sedang dibicarakan memilih untuk diam saja dibandingkan harus menanggapi keduanya. Lagi pula mereka menggosip namun orangnya ada didepannya langsung. Lagi pula memang benar ucapan mereka kalau Kakek Angga tidak pernah yang namanya bermain fisik pada cucunya itu.

__ADS_1


Kakek Angga hanya mengucapkan kalimat sindiran pedas jika Lio nakal atau kesal padanya. Kakek Angga lebih banyak menenangkan cucunya dibandingkan melakukan aksi kekerasan. Beliau pun hanya melakukan kekerasan jika tak terpaksa seperti kepada orangtua Lio terutama anaknya.


"Nakal nggak papa, toh masih dalam batas wajar. Kalau udah melebihi batas ya pasti langsung dicoret dari daftar warisan kakek" ucap Lio tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada ditangannya.


Nathan hanya tertawa menanggapi ucapan Lio itu, pasalnya ia tahu kalau dia hanya bercanda. Walaupun kini tampak Ratu sedikit terkejut dengan pernyataan yang diberikan oleh Lio. Namun ya wajar saja bagi Lio kalau akan mendapatkan warisan dari kakeknya, lagi pula untuk apa harta sebanyak itu jika bukan untuk cucunya.


"Nggak boleh mengharapkan harta dari kakek. Kerja kalau mau dapat uang, tentunya harus halal" ucap Ratu sambil menggelengkan kepalanya.


Lio hanya menganggukkan kepalanya, ia juga takkan mau mengharapkan harta dari kakeknya. Lagi pula kakeknya itu masih sehat jadi untuk siapa hartanya kelak, beliau lah yang menentukannya. Lagi pula Kakek Angga mempunyai beberapa yayasan sosial yang harus dia berikan santunan. Ia masih kuat dalam bekerja tanpa harus ada harta kakeknya. Jika nanti diberi, tentunya dengan senang hati akan ia terima.


"Ratu, video call ayahmu dong. Kangen nih sama calon mertuaku yang tampan itu" ucap Lio sambil memasukkan ponselnya kedalam saku.


Ratu hanya meringis pelan mendengar panggilan yang disematkan oleh Lio itu ternyata masih ada. Sedangkan kedua temannya sudah menatapnya penasaran dengan hubungan Ratu juga Lio sebenarnya. Ratu dan Lio sudah terlalu dekat bahkan mengenal satu sama lain hingga mereka penasaran dengan hubungan keduanya.


Akhirnya Ratu yang melihat kalau Lio sangat ingin menghubungi ayahnya pun langsung saja menganggukkan kepalanya. Ratu segera saja menghubungi ayahnya yang kemungkinan pada jam segini masih santai di rumah. Tak berapa lama menghubungi, akhirnya Pak Hakim mengangkat panggilan video dari anaknya.


"Assalamu'alaikum ayah..." sapa Ratu dengan antusias.


Pasalnya terlihat dalam layar kalau ada beberapa mahasiswa yang lewat dengan membawa tas ransel dan buku. Tentunya hal ini membuat Pak Hakim menyimpulkan kalau anaknya sedang berada di kampus. Namun tak biasanya anaknya itu menghubunginya di kampus karena hampir setiap malam selalu video call dengannya.


"Iya, yah. Ratu sedang ada di kampus. Ini ada yang mau bicara sama ayah" ucap Ratu sambil tersenyum.


Lio pun langsung mendekat kearah Ratu kemudian mengambil ponsel yang ada ditangan gadis itu. Layar ponsel yang semula penuh dengan wajah Ratu kini berganti dengan rupa Lio. Sontak saja Pak Hakim langsung menjauhkan wajahnya dan terlihat sekali kalau kini beliau tengah terkejut.


"Astaga... Siluman" ucap Pak Hakim dari seberang sana.


Sontak saja orang-orang disana tertawa mendengar ucapan terkejut dari Pak Hakim setelah melihat adanya wajah Lio pada layar ponsel itu. Sedangkan Lio sudah mencebikkan bibirnya kesal padahal ia berniat untuk menjahili pria paruh baya itu namun malah sudah keduluan.


"Ayah mertua ini gini amat sama calon menantunya. Padahal harusnya ayah mertua ini bangga lho sama Lio yang ketampanannya melebihi orang diatas rata-rata" ucap Lio dengan manjanya.

__ADS_1


Bahkan Nathan, Yuda, dan Delan sampai bergidik ngeri karena melihat tingkah manja dari Lio itu. Pasalnya baru sekali ini tingkah manja Lio itu diperlihatkan kepada orang asing. Sekarang didepan banyak orang juga malah seperti ini.


Perhatian semua orang yang disana juga langsung saja mengarah pada mereka saat tadi tertawa. Namun mereka sama sekali tak peduli karena baginya itu hanya orang yang iri saja dengan kebahagiaan kelompoknya.


"Iya, kaya alien" ucap Pak Hakim meledek.


Lio pun menatap sinis kearah wajah Pak Hakim yang kini terlihat puas karena dirinya kesal. Pasalnya baru kali ini Pak Hakim menang jika melawan Lio yang pintar berkilah itu. Mereka yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keduanya saling meledek.


"Baik-baik disana ya calon ayah mertuaku yang tampan. Tenang saja, calon menantumu ini akan menjaga anakmu dari incaran buaya kota" ucap Lio sambil tersenyum.


"Berarti sama kamu juga harus dijauhkan" ucap Pak Hakim ketus.


Tut...


Setelah berbicara panjang lebar, Lio segera mengakhiri percakapannya dengan Pak Hakim. Walaupun berpamitan dengan cara lebay, namun ini sungguh menghiburnya bahkan Pak Hakim langsung mematikan panggilan video callnya. Segera saja Lio mengembalikan ponsel milik Ratu kemudian duduk kembali pada kursinya.


Setidaknya mood Lio yang tadinya buruk sedari pagi langsung lebih membaik setelah mendengar ledekan dan hiburan dari Pak Hakim. Ia sungguh rindu dengan Pak Hakim yang selalu berdebat dengannya. Bahkan tak jarang, pria paruh baya itu frustasi hingga ingin menendang kakinya karena terlampau kesal.


"Bos, emangnya sama ayahnya Ratu sedekat itu ya? Kok udah kaya mertua dan menantu, bahkan tak canggung buat saling ledek" tanya Yuda penasaran.


"Enggak dekat juga. Orang tiap dekat yang ada selalu berantem kaya tadi" ucap Lio sambil menggelengkan kepalanya.


Lio masih terbayang saat dirinya di desa yang selalu saja ada hal yang membuatnya berdebat dengan Pak Hakim. Padahal perdebatan itu tak jauh-jauh dari dia yang nekat mendekati anak perempuannya yang mempunyai ilmu agama lebih tinggi dibandingkan dirinya. Kenangan di desa itu, baginya takkan pernah bisa ia lupakan. Semua pengalaman dan kegiatan disana sungguh membekas juga bisa dijadikan pelajaran hidup untuknya.


Terlebih saat dirinya belajar mengaji, itu hal yang paling mengesankan baginya. Ia sangat rindu belajar mengaji dengan Pak Hakim yang kalau salah sedikit saja sudah marah-marah kepadanya. Saat ini dirinya sudah tidak belajar mengaji pasalnya terlalu sibuk dengan menyelesaikan masalah hidupnya.


"Ayo pulang" ajak Lio setelah menjawab pertanyaan itu.


Sebenarnya Lio tahu kalau sahabatnya dan Ratu itu sangat penasaran dengan hubungan keduanya hingga bisa sedekat ini antar keluarga. Namun ia belum mau membuka semuanya karena ingin memastikan semua masalahnya selesai dulu. Terutama masalah dengan orangtuanya dan pendidikannya. Ia harus bisa sukses sehingga bisa membuktikannya pada Pak Hakim kalau ia pantas bersanding dengan Ratu.

__ADS_1


Lio dan ketiga sahabatnya langsung pergi berlalu meninggalkan Ratu dan dua cewek lainnya. Setelah melihat semua pergi, Meli dan Salwa langsung saja menatap kearah Ratu untuk meminta penjelasan. Namun Ratu malah langsung berdiri kemudian pergi berlalu juga yang membuat kedua sahabatnya segera mengikutinya dari belakang.


__ADS_2