Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Pernikahan


__ADS_3

Dua minggu berlalu, hari ini merupakan hari keberangkatan Ratu dan keluarganya yang ada di kota menuju ke desa. Keluarganya itu adalah Kakek Angga, Lio, Nathan, Adin dan ibunya, Agung, Delan, juga Yuda. Awalnya hanya Nathan yang akan mengikuti Lio, namun kedua sahabatnya yang lain iri.


Mereka juga ingin tahu dimana sahabatnya itu tersesat. Apalagi konon katanya disana suasananya begitu sejuk dan menenangkan. Mereka ingin sekali merasakan kenyamanan itu agar saat kembali ke kota nanti, otaknya sudah mulai lurus. Apalagi saat pulang ke kota harus dihadapkan dengan berbagai jadwal kuliah yang mulai padat.


Mereka memilih ijin tiga hari untuk tidak berangkat kuliah karena memang akan liburan sebentar disana. Awalnya Ratu ingin setelah pernikahan itu selesai langsung saja pulang, namun ternyata mereka tak mengijinkannya. Mereka ingin liburan sebentar disana sehingga memilih membolos.


"Masa bolos sih? 3 hari itu lama lho" kesal Ratu saat diberitahu oleh Yuda.


"Nggak papa, sekali-sekali. Lagian kita ini juga butuh hiburan agar otak nanti siap menerima materi kuliah yang memusingkan itu. Kakek juga mengijinkan kok, pokoknya kita liburan disana. Tiga hari aja" ucap Yuda kekeh dengan usulannya.


"Iya, Ratu. Tidak apa-apa. Lagi pula kamu bisa menghubungi temanmu untuk memberitahukan tugas atau materi apa yang tertinggal" ucap Kakek Angga.


Akhirnya Ratu hanya bisa pasrah mendengar usulan yang diberikan oleh Kakek Angga. Ia hanya bisa berharap kalau nanti dapat mengejar ketertinggalan mengenai materinya. Terlebih ada beberapa tugas yang harus ia titipkan kepada temannya karena ia yang pergi terlalu lama.


Mereka kini berangkat dengan menggunakan empat mobil. Mobil pertama diisi oleh Lio dan ketiga sahabatnya juga Adin dan Agung. Sedangkan mobil kedua ada Kakek Angga dan Ibu Adin juga Ratu. Mobil yang kedua ini dikemudikan oleh salah satu anak buah Kakek Angga agar nanti bisa gantian dengan beliau. Sedangkan mobil ketiga dan keempat diisi oleh anak buah Kakek Angga.


***

__ADS_1


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang di jalanan dengan beriringan. Tentunya mobil-mobil mewah itu menjadi pusat perhatian bagi orang-orang yang pagi itu sudah berada di jalanan kota. Mereka memang berangkat sedari shubuh namun yang namanya kota, jam segitu saja sudah ramai akan pengendara sepeda motor dan mobil yang melintas.


Setelah hampir 5 jam berada di jalanan, akhirnya empat mobil mewah itu memasuki desa tempat tinggal Ratu. Segera saja Ratu mengarahkan jalannya menuju rumahnya karena anak buah Kakek Angga ternyata sedikit lupa dengan jalannya. Tak berapa lama, mobil berhenti didepan rumah sederhana milik Pak Hakim.


"Akhirnya sampai juga" seru Yuda setelah keluar dari mobilnya kemudian merenggangkan kedua tangannya keatas.


Begitu juga dengan Delan dan Nathan. Tangan dan badan mereka terasa pegal berada hampir 5 jam didalam mobil. Melihat kedatangan mobil-mobil mewah itu tentu saja membuat para tetangga yang siang itu ada di rumah langsung saja mendekat. Apalagi mobil itu berhenti didepan rumah Pak Hakim yang tentu diduga akan menghadiri acara nikahan beliau.


Saat Ratu, Lio, Agung, Adin dan ibunya serta Kakek Angga keluar dari mobil, sontak saja mereka membulatkan matanya. Pantas saja mereka semua berhenti didepan rumah Pak Hakim karena ternyata yang datang adalah anaknya yang kuliah di kota.


"Wah... Ratu pulangnya kesini sama keluarganya Mas Lio. Disana pasti dekatan terus dan tinggal satu rumah ya" celetuk seorang wanita paruh baya yang baru saja mendekat kearah mereka.


Ibu-ibu yang ada disana juga hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Ibu Yati itu. Padahal mereka sudah memperingatkan untuk tidak terlalu julid kepada oranglain namun malah seenaknya seperti ini. Apalagi ini ucapannya seperti sedang menuduh mengenai Ratu dan Lio yang tinggal bersama.


Ratu yang mendengar ucapan dari Ibu Yati itu sedikit tersinggung dan tidak terima. Namun dalam hatinya ia terus mengucap istighfar agar bisa menahan amarahnya. Terlebih Ibu Yati adalah orangtua yang memang pantas untuk dihormati walaupun ucapannya pedas dan sering menyakitkan.


"Itu ibu-ibu kayanya habis makan cabai 10 kg deh" bisik Yuda pada Delan.

__ADS_1


"Iya, pedas. Kaya nggak punya filter ya mulutnya" bisik Delan sambil geleng-geleng kepala.


Teman-temannya merasa tidak terima saat sahabatnya sendiri malah dijulidin oleh orang yang tidak tahu watak asli Lio. Padahal mereka semua tidak tahu kehidupan Ratu dan Lio saat di kota namun asal ceplos saja membuat semuanya ingin menghajarnya. Namun mereka tentu tak mau membuat kerusuhan di wilayah oranglain.


"Sudah ayo. Nggak usah diladenin. Dia hanya iri dengan kesuksesan yang didapat oleh Lio dan Ratu saat di kota. Yang penting kita tidak mengusik dan mengganggu oranglain" ucap Kakek Angga mengajak semuanya untuk memasuki teras rumah Pak Hakim.


Mereka semua pun menganggukkan kepalanya kemudian mengeluarkan barang yang dibawa dan meletakkannya di teras rumah Pak Hakim. Pak Hakim sendiri sepertinya tidak ada di rumah karena terlihat keadaannya sepi. Ratu memang tidak memberitahukan kapan perihal kedatangannya kepada sang ayah karena ingin memberikan kejutan.


Semua tetangga yang hadir melongo tak percaya saat melihat barang bawaan yang dibawa oleh Ratu dan yang lainnya. Banyak sekali kebutuhan pokok dan alat-alat elektronik untuk nantinya dijadikan seserahan oleh Pak Hakim kepada Ustadzah Siti. Awalnya Kakek Angga ingin membelikan beberapa set perhiasan namun Ratu melarangnya.


"Ini terlalu berlebihan, kek. Pernikahan mereka nanti hanya cukup perlengkapan alat sholat dan cincin kawin saja. Kala mau ada acara syukuran, ya kita nanti masak bersama tetangga lalu undang mereka makan begitu. Lagian mereka sudah tua, nggak perlu acara begituan dan perhiasan seperti itu" ucap Ratu menolak apa yang ditawarkan oleh Kakek Angga.


Akhirnya Kakek Angga hanya bisa menganggukan kepalanya pasrah kemudian memberikan sesuatu yang berbeda. Bukan uang karena pasti mereka takkan mau menerimanya. Alat-alat elektronik seperti magic com, kompor gas, TV, kipas angin, dan radio serta jangan lupa kebutuhan pokok. Tentu semua itu jarang bisa dibeli oleh orang-orang di desa ini.


"MasyaAllah... Ini rumahku kok jadi seperti toko elektronik yang ada di pasar" ucap seseorang yang baru saja datang.


Seseorang yang baru saja datang itu adalah Pak Hakim. Tadi salah satu warga langsung memanggilnya agar segera pulang untuk melihat apa yang terjadi di rumahnya. Saat dia sudah pulang dan dekat dengan rumahnya, ternyata ia melihat kalau di terasnya telah banyak barang elektronik. Sungguh ia terkejut, pasalnya ia tidak pernah merasa kalau tengah memesan barang.

__ADS_1


Pak Hakim sendiri masih belum menyadari akan kehadiran Ratu dan yang lainnya disini. Fokusnya saat ini adalah pada barang-barang yang ada di teras rumahnya itu. Ia tak menyangka kalau akan kedatangan barang-barang seperti ini. Apalagi beberapa warga sekitar juga sampai ramai berkerumun didepan rumahnya.


__ADS_2