
Ketiga sahabat Lio kini sudah berada di ruang rawat inap Kakek Angga begitu pula dengan Agung. Mereka disana hanya diam sambil memakan makanan yang dibelikan oleh Yuda tadi. Awalnya Agung terkejut dengan kejadian Kakek Angga kembali masuk rumah sakit bahkan kondisinya lebih parah dari yang pertama.
"Bos, sejak kapan tahu kalau Kala jadi pengkhianat dalam geng motor kita?" tanya Yuda penasaran.
"Kalau pasti siapa pengkhianatnya baru beberapa hari sebelum ujian nasional. Tapi sebelumnya sudah curiga kalau di geng kita ada yang berkhianat" ucap Lio dengan santai.
Setidaknya kini emosinya sudah lebih mereda dibandingkan dengan tadi. Perasaan bersalahnya masih ada namun dengan segera ia mencoba untuk menghilangkannya. Lagi pula ini merupakan kejadian tak terduga sehingga kapan pun bisa saja terjadi.
"Harusnya bos bilang lah sama kita dulu kalau Kala itu pengkhianat. Kan kami bisa bantu dan waspada sama itu bocah, mana tadi gue hampir aja di dor lagi" ucap Delan sambil bergidik ngeri.
Bukannya merasa kasihan kepada Delan namun mereka justru tertawa meledeknya. Delan hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal walaupun begitu dengan kejadian ini ia bisa tahu mana seorang sahabat yang sebenarnya. Padahal dulunya ia sangat dekat dengan Kala bahkan melakukan segala cara untuk membantunya. Namun apa yang ia lakukan ternyata malah membuatnya dalam bahaya kemarin.
"Loe kan ember makanya si bos juga ogah kali ngasih tahu. Bisa-bisa tuh Kala tahu kalau sedang diincar sama si bos. Bos, uang kita kan banyak kepakai tuh sama dia buat bayar sekolah dan harian terus itu gimana?" tanya Yuda setelah puas meledek sahabatnya.
Delan hanya terdiam mendengar ledekan yang berasal dari sahabatnya itu. Sedangkan semuanya tengah menatap Lio seakan penasaran dengan jawaban yang akan diberikan atas pertanyaan Yuda. Terlebih uang kas juga menipis akibat kasus ini. Awalnya semua anggota memang sudah setuju kalau uang kas dipakai untuk membantu sesama namun Lio yakin jika kasus Kala ini akan jadi masalah kedepannya.
Terlebih Kala sudah mengkhianati geng motor LEXON yang selama ini membantunya dengan ikhlas. Padahal mereka sudah susah payah mengumpulkan uang namun dengan teganya Kala berani mengkhianati kepercayaan semua anggota. Setelah ini juga pasti Kala takkan bisa mengembalikan uang itu seperti janjinya di awal kalau sudah lulus sekolah akan mencicil semuanya.
"Kita ikhlaskan saja, jangan berharap kalau dia akan mengembalikan uang itu. Nanti kalau dikembalikan kita terima, jika tidak ya sudah ikhlaskan. Aku akan memberi yang lainnya pengertian dengan sedikit menutup kekurangan kas" ucap Lio memutuskan.
__ADS_1
Mereka tidak bisa mengharapkan Kala mengembalikannya karena kasus yang menjeratnya ini tentunya harus berurusan dengan pihak berwajib. Apalagi mempunyai senjata tajam ilegal yang tadi dibawanya. Beruntung ada Lio yang ekonominya lebih baik dari yang lain sehingga mau menutupi kekurangan kas yang mungkin saja terjadi.
***
"Ayah, terimakasih sudah mewujudkan keinginanku untuk kuliah di kota. Ayah jaga diri baik-baik disini ya, nanti sebulan sekali aku bakalan menengok ke sini" ucap Ratu berpamitan.
Hari ini Ratu akan ke kota bersama dengan anak buah Kakek Angga, Adin, dan ibunya. Tentunya hal ini sudah dibicarakan dengan Kakek Angga dan Pak Hakim. Bahkan sedari kemarin Ratu sudah berpamitan kepada tetangga-tetangganya disini.
"Ya Allah... Nak Ratu, semoga saat kembali nanti ke desa bisa jadi orang yang sukses. Jaga diri disana baik-baik ya" ucap Ustadzah Siti yang terkejut dengan kepergian Ratu yang tiba-tiba.
Banyak pesan yang diberikan oleh para tetangga kepadanya setelah ia berpamitan. Tak terkecuali untuk tidak dekat-dekat dengan Lio dan membatasi pergaulannya. Ratu hanya menganggukkan kepalanya mengerti, nantinya juga ia takkan tinggal serumah dengan Lio juga lainnya.
"Nanti kalau ayah ada rejeki pasti akan menyusulmu ke kota. Untuk sementara ini, tinggal sendiri dulu di kos. Ingat... Kota bukanlah desa. Jaga aurat, ibadah, dan pergaulanmu disana" pesan Pak Hakim.
Ratu menganggukkan kepalanya mengerti akan pesan yang dilontarkan oleh ayahnya itu. Setelah mencium tangan Pak Hakim dengan takzim, langsung saja Ratu masuk dalam mobil yang didalamnya sudah ada Diko, Yohan, Adin, dan ibunya. Mereka semua melambaikan tangannya kearah Pak Hakim saat mobil perlahan melaju.
"Semoga kamu bisa mewujudkan cita-citamu di kota, nak. Ayah hanya bisa mendo'akanmu dari sini" gumam Pak Hakim dengan tersenyum sendu.
Matanya berkaca-kaca memandang kepergian mobil yang dinaiki oleh anaknya itu. Ia tak menyangka jika anaknya akan pergi jauh darinya untuk menuntut ilmu. Padahal dulu ia hanya berangan-angan kalau anaknya itu nanti lulus SMA saja kemudian bekerja dan menikah. Namun tak menyangka jika kehadiran Lio mengubah semuanya, anaknya menginginkan pendidikan yang lebih tinggi.
__ADS_1
***
"Nanti disana Adin juga bakalan sekolah kan?" tanya Adin kepada anak buah Kakek Angga.
"Iya dong, kan kamu nanti barengan sama Agung sekolahnya" jawab Diko sambil tersenyum.
Adin begitu senang karena nanti akan berkumpul lagi dengan Kakek Angga, abangnya, dan Agung. Terlebih sekolah di kota juga merupakan impiannya karena disana fasilitasnya lebih bagus. Bahkan Kakek Angga juga sudah mempersiapkan sekolah baru dengan fasilitas dan kegiatan belajar lebih memadai dengan biaya lumayan tinggi.
"Saat ini Kakek Angga sedang masuk rumah sakit. Kami minta do'anya untuk beliau agar dilancarkan operasinya dan segera diberi kesembuhan" ucap Yohan tiba-tiba.
Dirinya baru saja dikabari oleh rekannya kalau Kakek Angga akan menjalani operasi pengambilan peluru yang ada dipunggungnya. Tentu saja Ratu yang semalam masih berkomunikasi dengan Kakek Angga sangat terkejut begitu juga dengan Adin dan ibunya.
"Astaghfirullah... Sakit apa?" tanya Ratu dengan raut wajah paniknya.
"Sakit ada benjolan sedikit di tubuhnya" jawab Yohan berbohong.
Tentunya Yohan tak mungkin menjawab tentang kejadian penembakan itu sehingga masuk rumah sakit. Pastinya nanti akan membuat Ratu dan Adin malah ketakutan hingga mengurungkan niatnya datang ke kota. Nanti keduanya akan mendapatkan pengawalan dari jauh oleh anak buah Kakek Angga saat beraktifitas. Mereka tak ingin jika geng motor lain menjadikan Ratu dan Adin sasaran dendam pada Lio.
Ratu terdiam sambil terus melafalkan do'a dalam hatinya. Ia memandang ponselnya yang menampilkan sebuah aplikasi bacaan Al-Qur'an kemudian membacanya. Ia berdo'a untuk keselamatan Kakek Angga yang sudah ia anggap keluarganya sendiri.
__ADS_1