
Kegiatan Ratu selama tinggal di desa masih lah sama seperti sebelum-sebelumnya. Kini ia tengah disibukkan dengan hari-hari menjelang ujian nasional. Ia sibuk belajar dan mencari pengetahuan baru melalui komputer yang ada di balai desa. Bahkan ia dan teman-temannya yang lain berbondong-bondong berangkat bersama ke balai desa.
Akses internet cepat dan tempat yang nyaman menjadi daya tarik tersendiri disana walaupun harus antri dengan yang lainnya. Beruntung semua saling pengertian sehingga tak menimbulkan keributan. Bahkan kini Ratu dan anak remaja SMA lainnya mendapatkan bantuan ponsel dari Kakek Angga yang baru dua hari kemarin dikirim.
"Nomor ponselnya Mas Lio sudah aku simpan. Apa aku hubungi dia ya? Tanya kabar Agung dan kakek" gumam Ratu didalam kamarnya ini.
Selama dua hari memiliki ponsel, ia jarang sekali menggunakannya karena memang kurang paham. Namun setelah tadi ia mencobanya dengan melihat dan membaca buku petunjuk pada kardus ponselnya membuat ia sedikit mengerti kalau untuk menghubungi seseorang.
"Baiklah... Coba hubungi. Lagi pula menyambung silaturahmi itu kan baik" gumamnya.
Ratu kemudian mencari kontak Lio dan menyentuh icon panggil setelah menemukannya. Cukup lama ia menunggu panggilan itu dijawab dengan rasa yang begitu gugup. Tak berapa lama, panggilannya diangkat karena terdengar suara seorang laki-laki diseberang sana.
"Hallo..." ucap seorang laki-laki diseberang sana.
"Halo Mas Lio, ini Ratu" ucap Ratu dengan nada gugupnya.
Sejenak seseorang disana yang tak lain adalah Lio sendiri terdiam tanpa menjawab lagi ucapan dari Ratu. Hal ini membuat Ratu bingung hingga berulang kali melihat layar ponselnya yang masih terhubung dengan nomor Lio.
Lio kebingungan saat ini dengan perasaannya sendiri. Beberapa hari tak bertemu bahkan tidak tahu mengenai kabar dari gadis itu membuatnya gugup sendiri. Bahkan ia mulai lupa kehadiran gadis yang ingin ia perjuangkan di masa depan itu karena banyaknya masalah yang kini dihadapinya.
"Halo Mas Lio..." ucap Ratu kembali.
"Eh iya... Maaf Ratu, ini aku sedang ada di rumah sakit jadi agak nggak fokus" ucap Lio memberi alasan.
__ADS_1
"Yang sakit siapa, mas? Kakek atau Mas Lio" tanya Ratu dengan suara sedikit panik.
Walaupun hanya kenal beberapa hari namun ternyata Ratu memiliki rasa simpati yang begitu besar. Lio hanya bisa tersenyum walaupun Ratu disana tak melihat senyumannya itu.
"Bukan. Aku dan kakek baik-baik saja. Ini temanku yang sedang sakit" jawab Lio dari seberang sana.
Terdengar suara helaan nafas lega dari bibir dan hidung Ratu. Hal ini membuat Lio sepertinya tak salah memilih dalam memperjuangkan Ratu di kemudian hari. Akhirnya Ratu mematikan panggilannya setelah pamit pada Lio.
"Ya sudah kalau begitu, mas. Semoga teman kakak segera sembuh dan kalian semua sehat-sehat disana ya" pamit Ratu.
"Iya, kamu juga baik-baik disana. Salam untuk semua warga sekitar. Bilang sama mereka semua suruh jagain calon istriku" ucap Lio dengan gombalannya.
Bahkan Ratu langsung menutup panggilannya setelah mendengar ucapan terakhir dari Lio itu. Dirinya tak ingin terbawa perasaan dan terlalu berharap pada Lio karena takutnya hanya kecewa. Ia terus beristighfar dalam hatinya agar hanya kepada Allah saja dia mengharapkan semuanya.
Ratu segera saja melanjutkan kegiatan belajarnya menggunakan buku dan materi yang sudah disampaikan di sekolahnya. Kalau ada yang tak ia pahami, pasti dirinya besok akan bertanya kepada temannya yang bisa.
Lio hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Ratu langsung mematikan panggilannya yang terhubung setelah mendengar ucapannya. Salahnya dia juga yang malah menggombali seorang gadis yang agamanya begitu kuat. Hanya cuek yang akan ia dapatkan.
"Siapa?" tanya Nathan yang kini telah sadar sepenuhnya dari obat bius.
"Calon istri" jawab Lio singkat sambil terkekeh.
Lio segera mengupas beberapa buah-buahan dan memotongnya kecil. Ia menyiapkan semua buah-buahan itu pada piring kemudian menyerahkannya didepan Nathan. Nathan memakannya sedikit-sedikit sambil melihat Lio yang kini tengah senyum-senyum sendirian.
__ADS_1
"Dih halu loe... Pacar loe masih ada berapa tuh yang belum loe putusin. Bisa ngamuk mereka kalau tahu loe udah ada calon istri" peringat Nathan dengan ketusnya.
Sepertinya Lio sudah melupakan misinya untuk memutuskan semua pacar-pacarnya dan fokus pada pendidikannya. Lio juga harus lebih fokus dengan ibadahnya namun beberapa hari ini saja ia sudah lali akan sholatnya.
Baru Uci yang ia putuskan, itu pun juga bermasalah dengan Farel. Sedangkan pacarnya yang lain tak ada yang mencari atau menghubunginya jadi ia sepertinya menganggap kalau hubungan mereka sudah selesai.
"Hehehe gue putusin, Nath. Nih lewat chatt, lagi pula mereka udah nggak pernah lagi hubungi gue. Cuma Adelia saja yang masih contact itu pun karena kita sedang ada misi saling bantu" ucap Lio sambil cengengesan.
Nathan tak menggubris ucapan dari Lio itu hingga lebih memilih fokus pada buah yang ada di pangkuannya. Sedangkan Lio kini terus berpikir bagaimana memutuskan hubungannya dengan pacar-pacarnya itu.
"Oh ya Nath... Tadi anak-anak kemari. Cuma gue nggak bilang kalau yang udah nyerang loe itu geng AREX" ucap Lio yang kemudian menyimpan ponselnya diatas nakas.
"Nggak usah dikasih tahu dulu sebelum kita tahu geng motor mana yang bekerjasama dengannya" ucap Nathan.
Lio menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga masih penasaran dengan siapa sosok dibalik pengkhianatan dia. Tak mungkin jika dia hanya bekerja sendiri. Pasti ada bantuan geng motor atau organisasi lain. Entah itu geng AREX yang selama ini selalu mengganggunya atau yang lainnya.
"Kita harus hati-hati. Jangan pergi sendiri, kalau perlu bawa anak buah kakek" pesan Lio pada sahabatnya itu.
Terlebih tangan Nathan masih terluka yang tak bisa bergerak lebih leluasa. Jika sendirian otomatis ia tak dapat melawannya seperti biasa. Dia saja kadang kalau kelelahan bisa kalap dan kalah jadi lebih memilih adanya anak buah kakeknya untuk menjaga mereka dari kejauhan.
"Siap, bos. Lagi pula untuk beberapa hari ini juga tak mungkin sepertinya gue pergi sendiri. Buat nyetir aja nyeri" ucap Nathan sambil geleng-geleng kepala.
"Loe sih... Kalau ada banyak yang ngejar itu jangan diladenin. Mending menghindar dan cari tempat baru" ucap Lio sambil terkekeh.
__ADS_1
Walaupun mereka ikut dalam anggota geng motor namun kekuatan anak remaja itu ada tak bisa dibilang profesional karena semuanya hanya asal pukul dan tonjok. Tak seperti bodyguard yang mendapatkan pelatihan khusus.
Saat keduanya sibuk sendiri-sendiri setelah membahas kejadian yang menimpa Nathan, tiba-tiba saja pintu ruang rawat inap dibuka dengan kasar. Keduanya menoleh kemudian melihat dua orang yang tengah didorong oleh anak buah kakek Angga.