
"Jika nanti abang udah pulang ke kota, abang bakalan jengukin kita disini nggak?" tanya Adin menatap penuh harapan.
Mendengar pertanyaan dari Adin membuat Lio terdiam sejenak. Ia belum memikirkan sampai kesana karena yang dipikirkannya sekarang adalah memperdalam ilmu agamanya. Agar kelak jika dirinya kembali ke kota, setidaknya ia berusaha untuk membatasi dirinya dalam pergaulan yang tak baik.
Bahkan baru beberapa hari disini saja, dia sedikit menyesali beberapa hal yang ia lakukan saat di kota. Seperti sekolah, seakan ia meremehkan tentang pendidikan karena akan meneruskan bisnis restorant milik kakeknya. Padahal orang-orang disini banyak sekali yang tak punya pekerjaan jelas karena pendidikan yang rendah. Adin juga, banyak orang kurang beruntung yang tak pernah merasakan indahnya bangku sekolah.
Selama disini ia ingin membuat sesuatu agar bisa menjadi lapangan pekerjaan untuk oranglain, tak seperti kehidupannya di kota yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang. Setidaknya jika menghamburkan uang harus lah jelas pemakaiannya.
"Abang belum tahu. Abang baru mikirin tentang bagaimana belajar ngaji sama bantu desa ini agar lebih maju" ucap Lio sambil menatap keatas atap rumah.
"Wah... Abang mau bantuin desa ini biar semakin maju. Sebenarnya kalau desa ini mau maju sih harusnya dimulai dari orang-orangnya dulu, bang. Mereka harus bermental kerja keras bukan hanya diam di rumah sambil tidur" ucap Adin terkekeh pelan.
Lio menganggukkan kepalanya setuju. Memang akhir-akhir ini ia memperhatikan banyak pemuda dalam umur produktif ternyata lebih memilih untuk tidur dan bercengkerama di pos ronda daripada membantu orangtua dan mencari pekerjaan. Angka lulusan pendidikan disini juga masih lah rendah tak sesuai dengan apa yang dicanangkan pemerintah.
"Abang kalau mau bantuin secara langsung kaya bentuk uang gitu mending jangan lah. Soalnya dulu pernah disini dikasih bantuan uang bukannya untuk membuka usaha malah buat beli baju" lanjutnya menceritakan.
"Biarlah nanti abang pikirkan. Padahal di kota tuh abang nggak pernah mikirin kaya gini lho. Tinggal sekolah dan main aja di tempat tongkrongan" cerita Lio.
Lio menceritakan tentang kegiatannya selama bersekolah di kota namun tak menjelaskan mengenai geng motornya. Khawatirnya nanti ada orang yang mendengar dan malah membuat semuanya menjadi rumit. Terlebih cap sebagai anggota geng motor itu selalu buruk di mata masyarakat.
"Besok kalau Adin punya rejeki lebih, Adin mau ajak ibu ke kota ah. Sekalian nemuin kak Lio, kayanya disana jauh lebih maju dan ramai daripada disini" ucap Adin antusias setelah mendengar cerita dari Lio.
__ADS_1
Lio menganggukkan kepalanya menyetujui pendapat dari Adin. Namun jika orang di desa ke kota pasti akan terkejut melihat bagaimana tingkah manusia di kota. Namun dalam hati ia mengaminkan harapan dari Adin agar suatu saat nanti bisa ke kota.
Ia juga berharap kalau suatu saat nanti Adin bisa melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Bahkan dengan bantuan biaya dan tabungan yang selama ini ia punya di kota, sepertinya akan cukup untuk membantu beberapa orang kurang mampu di desa ini. Ia yakin jika kakeknya tahu kalau dia menjadi baik disini pasti dia akan shock berat.
Membayangkannya saja sudah membuatnya terkekeh geli. Lagi pula selama ini ia juga begitu rindu atas omelan pria paruh baya itu membuatnya tiap malam hanya bisa memandang foto kakeknya yang ada di ponsel.
***
Sore harinya, Lio datang ke rumah Pak Hakim dengan menggunakan baju koko, peci, dan sarung. Melihat penampilannya sendiri itu sudah membuatnya geli sendiri hingga ia mengabadikannya di kamera ponselnya. Suatu saat nanti ia akan memamerkan foto ini kepada teman-teman satu geng motornya.
Pasti mereka akan shock melihat penampilan Lio bak seorang laki-laki sholeh yang akan pergi ke masjid. Bahkan ia rela merogoh koceknya lebih dalam untuk membeli pakaian muslim yang tak panas jika dipakai.
Ceklek...
Pintu terbuka dan terlihatlah seorang gadis muda tersenyum dengan manisnya menyambut kedatangan tamu. Melihat siapa yang datang, segera saja Ratu melebarkan pintu rumahnya kemudian menyuruhnya untul segera masuk kedalam rumah karena sang ayah sudah menunggunya.
"Ayah ada di belakang karena nanti belajarnya ada disana" ucap Ratu dengan sedikit menunduk.
Lio menganggukkan kepalanya. Entah mengapa kini saat ia bertemu dengan Ratu selalu berakhir salah tingkah. Namun saat ada Pak Hakim, gombalannya selalu lancar ia ucapkan.
"Dekati dulu bapaknya, baru anaknya" gumam Lio sambil berjalan kearah belakang rumah.
__ADS_1
Melihat Lio dengan semangat berjalan kearah belakang, Ratu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sebagai remaja pada umumnya, dia juga bisa merasakan yang namanya jatuh cinta pada lawan jenisnya. Namun ia lebih memilih memendamnya dan mengungkapkan semuanya pada seorang laki-laki yang telah halal menjadi pasangannya.
Ia tak mau berpacaran seperti apa yang selalu diajarkan ayahnya. Ia berusaha menjaga semua yang ia lakukan berada di koridor agamanya. Telebih sampai kebablasan seperti apa yang ia lihat pada tayangan TV. Ratu pun memilih untuk segera pergi masuk ke kamarnya sesuai perintah sang ayah.
***
Belakang rumah Pak Hakim ini ternyata adalah sebuah kebun dengan adanya gubuk disana. Pak Hakim sudah duduk disana dengan beralaskan tikar dan didepannya ada meja kayu.
Lio bergegas mendekat kearah gubuk itu kemudian naik keatasnya. Ia segera duduk didepan Pak Hakim yang menatapnya intens. Ia sudah seperti seorang murid yang siap dimarahi gurunya karena terlambat.
"Lelet..." ketus Pak Hakim.
Lio menganga tak percaya mendengar ucapan dari Pak Hakim. Pasalnya ia merasa datang terlalu cepat namun nyatanya Pak Hakim malah menilainya terlambat. Sepertinya ia harus sabar menghadapi Pak Hakim yang suka mengomel itu.
Akhirnya Pak Hakim langsung mengajari Lio dengan meletakkan sebuah buku iqro' didepan pemuda itu. Lio segera membukanya dan Pak Hakim mengajari beberapa surat pendek yang umum diketahui terlebih dahulu.
Dua jam berlalu, belajar mengaji telah usai. Pak Hakim menilai jika Lio adalah seorang yang cerdas. Cerdas dalam mengelola emosi dan kesabaran dalam belajar. Pasalnya Pak Hakim tadi terus meminta Lio mengulang-ulang karena bacaannya yang salah. Beruntung Lio tak langsung menghajar pria paruh baya itu.
"Besok baca yang benar lagi. Kalau besok ku ulang belum benar, ualng terus sampai bisa. Biar nggak naik-naik" ucap Pak Hakim.
Lio hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Baginya sangat wajar jika ia masih banyak salah, toh baru pertama kali ia belajar seperti ini. Bahkan saat dulu di sekolah saja ia lebih memilih membolos daripada belajar membuatnya tak terlalu bisa. Yang ia tahu hanyalah uang dan nongkrong saja. Hal ini juga yang membuatnya harus berhati-hati bicara agar semua orang tak tahu jika ia adalah seorang ketua geng motor.
__ADS_1