Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Perancangan


__ADS_3

Nathan merancang beberapa opsi untuk dekorasi gedung yang nantinya akan dikerjakan oleh pihak EO sesuai design yang diserahkan oleh Nathan. Namun memang Nathan harus menyelesaikan ini jauh hari karena ini bukan design umum atau pasaran yang sudah ada.


"Gimana, Nath? Ada yang bisa gue bantu?" tanya Lio saat masuk dalam kamar sahabatnya itu.


Tentunya Nathan mengerjakan semua itu di rumah, kalau di markas bisa-bisa nanti ia pusing sendiri. Mana teman-temannya itu suka mengkritik tajam namun tak mau memberikan solusi. Hal itu lah yang nanti malah membuat pikirannya pusing dan bingung dalam memperbaikinya.


Beruntung saat ini mereka sudah tak lagi ke sekolah sampai nanti pengumuman kelulusan sehingga keduanya bisa mempersiapkan acara ini dengan baik. Terlebih ada beberapa yang harus mereka rancang lebih jauh. Ini semua mengenai keamanan dari jauh yang harus dirancang dengan baik. Jangan sampai mereka nanti kecolongan dan menimbulkan banyak korban disini.


"Coba kamu tentuin beberapa warna untuk dekorasi. Tema kita kali ini kan silaturahmi lintas generasi jadi warnanya harus bisa menyatu dengan yang seumuran kita dan generasi atas" ucap Nathan sambil menyerahkan laptopnya di hadapan Lio.


Lio begitu takjub dengan hasil rancangan dari Nathan ini. Bahkan dirinya yang suka menggambar saja takkan bisa menandingi design milik Nathan lewat komputernya ini. Bahkan mungkin oranglain takkan menyangka jika lewat designya ini, Nathan sudah menghasilkan uang puluhan juta di rekeningnya.


Lio saja sering kecipratan mendapat jajanan dan baju yang harganya lumayan dari Nathan ini. Sebenarnya Nathan bisa saja menggunakan uangnya itu untuk membiayai sekolah dan kehidupannya sehari-hari. Namun Kakek Angga memintanya untuk menyimpannya saja dan mengingatkan agar digunakan saat nanti ingin membuat usaha.


"Warna merah, cokelat, hitam. Selalu perpaduan yang cocok, kuning juga" ucap Lio dengan sedikit membubuhkan beberapa warna pada design Nathan.


Nathan menganggukkan kepalanya begitu antusias. Ia puas dengan apa yang diucapkan oleh Lio itu. Akhirnya mereka dengan segera menyelesaikan design itu kemudian akan dibawa kepada EO yang sudah ditunjuk.


***


"Kalian mau daftar kuliah dimana?" tanya Kakek Angga yang melihat keduanya turun dari lantai atas.

__ADS_1


Tentunya walaupun belum ada pengumuman kelulusan namun mereka harus bersiap-siap untuk mendaftarkan diri di salah satu perguruan tinggi. Bahkan sudah banyak perguruan tinggi swasta yang telah membuka pendaftarannya dari beberapa bulan yang lalu.


"Aku mau ambil jurusan teknik industri, kek. Kira-kira yang bagus dimana ya?" tanya Nathan mengungkapkan keinginannya.


"Wah... Kalau Lio mah nunggu pengumuman kelulusan dulu aja, kek. Tahu sendiri selama ini kalau nilai pasti dibawah-bawah. Tunggu nanti dulu lah, tapi maunya sih ambil jurusan kedokteran" ucap Lio sambil terkekeh.


Kakek Angga langsung melempar wajah Lio dengan bantal sofa. Kesal sekali dirinya itu pada cucunya yang kalau diberi pertanyaan mengenai sekolah pasti nanti dulu atau tunggu. Seakan dia pasrah saja padahal masuk perguruan tinggi itu bisa pakai test tanpa perlu mempedulikan nilai ujian kalau mau.


"Nanti kakek carikan rekomendasi kampus terbaik buat jurusan yang kalian mau. Jadi kamu maunya ambil jurusan apa Lio?" tanya Kakek Angga serius.


"Apa alasanmu mau ambil jurusan kedokteran?" lanjutnya.


"Mau suntik mati dua orang yang ganggu kehidupan kita, kek" jawab Lio sambil bercanda.


"Oh ya... Ratu akan kuliah di kota. Tapi kakek minta kamu jangan temui dia" pesan Kakek Angga pada cucunya yang masih terkejut.


Tentunya Lio terkejut dengan berita yang ia dengar. Namun tak ayal dirinya juga bahagia karena bisa kapan saja bertemu dengannya walaupun harus sembunyi-sembunyi.


"Astaga... Baru juga mau ketemu, kek. Masa udah dilarang aja" protes Lio.


"Kamu masih ingat kan dengan janjimu kalau akan menemui ayahnya dulu sebelum bertemu dengannya. Ingat untuk menepati janji yang kamu buat dulu. Dia juga bukan perempuan-perempuan seperti pacarmu disini" ucap Kakek Angga dengan tegas.

__ADS_1


"Jangan lupa perbaiki sholatmu itu. Masih sering lupa juga udah mau main dekatin anak ustadz" lanjutnya.


Kakek Angga langsung saja pergi berlalu dari ruang keluarga setelah memberi ceramah gratis kepada cucunya. Sedangkan Nathan hanya bisa menahan tawanya melihat muka masam dari sahabatnya itu.


"Dengar tuh, sholatnya dibenerin dulu baru dekatin anaknya pak ustadz" ucap Nathan meledek sahabatnya itu.


Nathan tertawa melihat wajah masam sahabatnya yang kini melengos tak mau menatapnya itu. Segera saja Lio menyalakan TV dengan keras agar sahabatnya berhenti tertawa.


***


"Yah, Ratu sudah yakin kalau mau kuliah di kota. Biar bisa naikin derajat perekonomian keluarga kita karena pasti kualitas pendidikan dan kesempatan kerjanya lebih luas disana. Apa ayah mau ikut ke kota saja denganku? Soalnya disini pasti nggak ada yang jaga ayah" tanya Ratu sambil mengutarakan niatnya.


Pak Hakim terlihat terdiam mendengar tujuan dan keinginan anaknya itu. Bukannya ia menahan anaknya untuk tak maju dalam meraih impiannya namun tetap saja ia tak tenang kalau meninggalkan desa ini atau membiarkan anaknya di kota tanpa pengawasan.


Saat ini Pak Hakim terlihat kebingungan untuk menentukan apa yang terbaik bagi anaknya. Kalau ia ikut ke kota, sudah dipastikan sawah disini tak ada yang menggarap. Kalau digarap oranglain tentunya biaya yang dikeluarkan sangat besar.


"Ayah bingung, Ratu. Tahu sendiri kan disini ada sawah yang perlu kita garap. Kalau nggak ada yang garap terus gimana? Nggak mungkin kita nyuruh orang, uang ayah juga pas-pasan. Apalagi nanti kalau kamu kuliah kan pasti ada biaya kesananya, kos, dan kebutuhan sehari-hari" ucap Pak Hakim dengan berat hati mengutarakan kendalanya.


Ratu terlihat terdiam, padahal dirinya sudah berniat mencari beasiswa agar bisa full gratis namun ia lupa kalau ada biaya kost dan makan. Sekarang rasanya keinginan untuk kuliah itu jadi kabur entah kemana karena banyaknya kendala yang ia alami.


Pak Hakim melihat wajah sedih dari anaknya itu menjadi tak tega. Ia sudah berusaha untuk menggarap sawah dan hasilnya dijual agar anaknya bisa kuliah juga hidup di kota. Namun ternyata kemarin hasil panennya kurang baik sehingga ia jadi bingung sendiri.

__ADS_1


"Tahun depan aja kalau gitu Ratu kuliahnya, yah. Satu tahun ini biar Ratu cari kerjaan disini buat bekal ke kota" ucap Ratu dengan cerianya agar tak membuat ayahnya kepikiran.


Padahal jelas-jelas Pak Hakim melihat raut kesedihan itu masih terpancar pada mata anaknya. Ratu juga berusaha menutupi kekecewaan dan kesedihannya karena tak jadi kuliah tahun ini.


__ADS_2