Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Gosip


__ADS_3

Kakek Angga dan semua anak buahnya sarapan pagi di ruang tamu bersama dengan Lio, Adin, dan ibunya. Adin dan ibunya tadi sudah berkenalan dengan Kakek Angga. Bahkan Ibu Adin menceritakan semua kebaikan Lio selama ini kepada Kakek Angga. Kakek Angga yang mendengar hal ini tentunya terkejut sekaligus bangga dengan apa yang dilakukan cucunya.


"Benar kan, kek? Kalau cucu kakek yang paling tampan ini emang anaknya baik hati dan tidak sombong" ucap Lio memuji dirinya sendiri.


Terlebih tadi Ibu Adin selalu membanggakan dan memuji kebaikan Lio membuat pemuda itu semakin besar kepala saja. Sedangkan Kakek Angga hanya bisa berdecih sinis melihat cucunya besar kepala seperti itu. Ingin sekali ia menoyor kepalanya itu agar tak bisa seenaknya berbangga diri.


"Disini nak Lio lagi dekatin cewek lho, tuan" ucap Ibu Adin tiba-tiba.


Tentunya semua orang yang sedang makan itu hampir saja tersedak dengan apa yang diucapkan oleh Ibu Adin. Kakek Angga dan anak buahnya sangat lah mengenal bagaimana Lio di kota dengan banyak gandengan setiap harinya yang berganti-ganti. Kakek Angga menatap Lio dengan tatapan tajamnya membuat pemuda itu langsung mengalihkan pandangan matanya.


"Siapa bu?" tanya Kakek Angga dengan rasa penasarannya.


"Itu anaknya Pak ustadz dan tetua disini. Namanya nak Ratu" ucap Ibu Adin sambil terkekeh geli.


Kakek Angga menatap tak percaya kearah Ibu Adin pasalnya ia sangat tahu bagaimana tipe perempuan cucunya ini. Tipe perempuan yang selalu menjadi incaran Lio adalah yang tak membuatnya ribet, salah satunya keluarganya yang tak banyak aturan. Kalau anak ustadz atau tetua disini berarti akan ada banyak aturan terlebih tentang agama.


Namun Kakek Angga terdiam beberapa saat kemudian mengulang kembali memorinya tentang Lio yang mengatakan belajar agama dan mengaji tadi pagi. Kakek Angga kemudian menatap menyelidik kearah cucunya yang kemungkinan belajar agama karena ingin mendekati Ratu itu.

__ADS_1


"Gosip itu, kek. Biasa kan kalau di desa baru bantuin aja dibilang naksir terus jadi omongan" ucap Lio berkilah.


Kakek Angga tak menggubris ucapan Lio, namun ia segera saja melanjutkan acara sarapannya. Walaupun hanya lauk oseng tempe dan juga ikan tongkol namun ini sungguh membuatnya begitu lahap makan. Padahal kalau pagi biasanya ia takkan makan makanan berat seperti ini. Hanya roti dan kopi saja, namun entah mengapa ia begitu menikmati moment kebersamaan ini.


Mungkin jika nanti ia kembali ke kota, akan sangat jarang dirinya bisa makan bersama dengan yang lainnya terutama sang cucu. Lio yang jarang pulang ke rumah juga membuatnya sering kesepian dan hanya makan ditemani oleh beberapa anak buahnya Ternyata walaupun belum genap satu hari berada di desa ini, Kakek Angga sudah mulai merasa nyaman tinggal disini.


Setelah sarapan usai, Adin segera berangkat ke sekolah dengan sepeda yang dibelikan oleh Lio. Ia juga membawa jualan donat milik ibunya dengan diboncengkan di belakang. Adin sudah tak mau diantar lagi oleh Lio karena tak mau menjadi pusat perhatian sehingga pemuda itu memilih untuk membelikannya sepeda agar mempermudah akomodasi dan hemat tenaga.


***


Kakek Angga berencana untuk tinggal di desa itu selama satu minggu, terlebih ia penasaran dengan gadis yang sedang dekat dengan cucunya itu. Ia juga ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang Lio yang belajar agama dan mengaji. Sungguh dirinya masih tak percaya dengan image baik yang disematkan warga sini untuk cucunya itu. Padahal jika di kota hanya bisa membuat orang mengelus dada.


"Kakek ikut, biar nanti bisa tahu area desa ini. Biar juga nggak tersesat kaya situ" ucap Kakek Angga menyindir cucunya.


Tentunya Lio tak menggubris ucapan kakeknya itu. Kemudian ia berlalu pergi ke luar rumah kontrakannya bersama dengan sang kakek. Anak buah kakeknya tak diajak serta karena nantinya malah membuat takut warga sini. Tadi pagi warga yang berkumpul juga langsung membubarkan diri karena sudah melakukan aktifitasnya masing-masing sedangkan mau bertanya juga takut.


"Hei bocah tengil, mau kemana?" tanya seorang pria paruh baya yang tak sengaja berpapasan dengan Lio dan kakeknya.

__ADS_1


Kakek Angga yang mendengar panggilan untuk cucunya itu tentunya hanya bisa menahan tawanya. Ia jadi semakin yakin kalau tak semua yang dikatakan Ibu Adin mengenai kebaikan Lio itu sepenuhnya benar. Bahkan seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Hakim itu menatap begitu sinis cucunya. Bukannya marah cucunya diberikan tatapan sinis, justru Kakek Angga begitu bahagia bisa mematahkan kesombongan Lio.


"Hei... Bapak calon mertua, bocah tengil ini mau ke rumah dikau untuk melamar anakmu" goda Lio sambil terkekeh pelan.


Ia sungguh bahagia bisa menggoda Pak Hakim yang notabene selalu memanggilnya bocah tengil. Bahkan kini Pak Hakim terlihat tak berkutik karena ucapan dari Lio. Sedangkan Kakek Angga menatap tak percaya pemandangan didepannya ini. Lio yang biasanya tak bisa dekat dengan orang baru terlalu cepat kini dengan mudahnya mau berbaur.


Padahal sepertinya mereka baru berkenalan sekitar 2 minggu saja. Raut wajah Lio juga sepertinya sangat bahagia, tak pernah dia melihat cucunya seperti ini. Ketika di kota selalu saja jika bertemu hanya raut wajah datar nan dinginnya itu yang ditampilkan. Ketika berada bersama pacar-pacarnya saja dia cuek, namun apa ini? Kakek Lio benar-benar tertegun dengan Lio yang mau cepat beradaptasi dengan orang yang notabene bukan seumuran dengannya.


"Jangan macam-macam kamu. Ngaji aja belum benar mau nglamar anak orang. Masuk surga itu nggak mempan dengan rayuan gombal gembelmu itu" ucap Pak Hakim pedas.


Lio menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena Pak Hakim sudah membalasnya dengan kegiatan mengajinya yang selama dua hari ini ia hentikan. Bukan karena apa, namun ia membantu Adin dan ibunya berjualan gorengan di dekat pasar saat sore hari membuatnya kadang kelupaan.


"Memangnya cucu saya beneran belajar ngaji?" sela Kakek Angga bertanya.


Pak Hakim yang memang tadinya tak memperhatikan adanya Kakek Angga disamping Lio pun langsung mengalihkan perhatiannya. Pak Hakim tersenyum kikuk melihat Kakek Angga yang menatapnya dengan tatapan datar dan tajam itu. Walaupun usianya sudah tua dan melebihi Pak Hakim, namun badannya masih seperti anak buahnya. Hal ini membuat Pak Hakim hanya bisa menelan salivanya kasar.


"Iya benar, tuan. Nak Lio belajar ngaji tetapi beberapa hari ini meliburkan diri. Entah apa alasannya" ucap Pak Hakim dengan mengadu pada orang yang diyakini adalah kakek Lio.

__ADS_1


__ADS_2