Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Hikmah


__ADS_3

"Begini saja, bagaimana kalau Pak Alam ikut kerja dengan saya di kota? Daripada jadi preman disini yang ada malah dijauhi warga. Mending wajah garangnya dipakai untuk bekerja sama saya, dapat uang dan takkan kena masalah" ucap Kakek Angga menawarkan.


Pak Alam mengangkat wajahnya menatap kearah Kakek Angga. Ia masih bingung dengan tawaran dari Kakek Angga mengenai pekerjaan yang menggunakan wajah garangnya. Sedangkan selama ini mempunyai wajah garang hanya bisa digunakan untuk bekerja jadi preman pasar karena pendidikannya saja hanya lulusan SD.


"Pekerjaan apa, pak?" tanya Pak Alam.


"Jadi anak buah saya atau sejenis bodyguard. Saya disini bukan mencari pekerja yang lulusan sarjana tetapi yang bisa setia dan tak mengkhianati kepercayaan saya" ucap Kakek Angga.


Pak Alam terlihat terdiam sambil terus memeluk anaknya dengan erat. Ia masih memikirkan dengan bagaimana sekolah anaknya nanti atau nasib Agung kelak jika ia tinggalkan disini. Pasalnya kalau ia ikut bekerja di kota otomatis harus meninggalkan anaknya disini yang tentu tak ada yang mengurusnya.


"Bawa saja Agung ke kota. Nanti saya biayai sekolahnya disana" ucap Kakek Angga.


Kakek Angga tahu tentang kegalauan Pak Alam saat akan menerima tawaran pekerjaan darinya. Tapi ia yakin jika Pak Alam mau untuk bekerja dengannya namun masih berat pada anaknya. Pak Alam juga ingin sekali bisa mengubah nasibnya dan keluarganya ini agar tak diremehkan oleh oranglain.


"Agung akan ikut kemana pun bapak pergi. Kalau memang mau kerja di kota, Agung akan ikut. Lagi pula kakek itu mau menerima bapak yang hanya lulusan SD saja untuk mendapatkan pekerjaan yang halal" ucap Agung dengan menahan tangisnya.


Agung tak mau menghambat pekerjaan bapaknya. Terlebih ia juga ingin seperti anak yang lainnya bisa melihat orangtuanya bekerja dengan pekerjaan halal. Selama ini ia selalu dijauhi teman-temannya karena bapaknya yang jadi preman. Bahkan seringkali warga disini tak mau menerima uang yang digunakan Agung untuk membeli sesuatu. Mereka takut jika uang yang digunakan untuk membeli itu adalah uang haram.

__ADS_1


"Terimakasih nak atas dukungannya. Bapak akan bekerja keras demi membahagiakanmu" ucap Pak Alam pada anaknya.


"Saya terima tawaran dari anda, tuan" lanjutnya dengan tegas.


Kakek Angga tersenyum puas, ia bahagia bisa membantu oranglain dengan kekuasaannya. Lio masih terus menatap intens kakeknya yang sedari dulu ia repotkan itu. Entah bagaimana dirinya tanpa sang kakek yang mau menerima segala kenakalannya.


"Minggu depan kita berangkat ke kota. Cukup bawa keperluan seadanya saja" ucap Kakek Angga.


Kakek Angga, Lio, dan Adin akhirnya pamit terhadap Agung dan bapaknya. Sepatu dan sepeda Adin sudah diikhlaskan untuk digunakan Agung selama satu minggu ini sebelum mereka akan pergi ke kota. Nanti setelah satu minggu maka sepeda itu akan kembali kecuali sepatu yang nantinya tetap akan jadi milik Agung.


Adin begitu kasihan dengan Agung yang tak punya sepatu yang masih bagus. Lagi pula di rumah masih ada beberapa sepatu yang masih bisa digunakan. Ketiganya pulang dengan hati yang lega karena permasalahannya sudah selesai.


"Kakek, terimakasih sudah merawat dan mendidikku selama ini. Lio yakin kalau tanpa kakek pasti sudah hilang arah tujuan" ucap Lio pada kakeknya saat mereka hanya berdua di kamar.


Keduanya memang tidur satu kamar bahkan sekasur. Setelah tadi makan malam bersama dan membersihkan diri, keduanya segera masuk dalam kamar. Lio bahkan kini memeluk kakeknya dengan begitu eratnya.


"Kamu itu ngomong apa? Ya pasti kakek takkan membiarkanmu hilang arah tujuan orang kamu ini cucuku" ucap Kakek Angga sambil menjitak kepala cucunya itu.

__ADS_1


Lio tak peduli dengan ucapan ketus dari kakeknya itu. Sekarang ia baru sadar bahwa orang yang ia peluk ini adalah penyelamat masa kecilnya. Masa kecilnya yang begitu buruk untuk diingat karena orangtuanya yang tak pernah mempedulikan dirinya.


"Kek, kok papa nggak kaya Pak Alam yang rela melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya ya? Padahal aku ini anak kandungnya bahkan mereka mempunyai harta banyak dibandingkan Pak Alam. Apa bagi mereka itu aku nggak berarti? Buktinya saja mereka tak ada seorang pun yang mau merawat Lio" ucap Lio menyampaikan unek-uneknya.


Kakek Angga yang mendengar pertanyaan dari sang cucu pun begitu kaget. Selama ini Lio tak pernah mau mengungkapkan kekesalan bahkan keluh kesahnya tentang kedua orangtuanya itu padanya. Bahkan saat dia diserahkan padanya pun hanya diam bahkan ia tak melawan orangtuanya.


Kakek Angga segera memeluk balik cucunya itu sambil mengelus lembut rambut Lio. Ia juga masih tak menyangka bisa membesarkan Lio seperti ini sendirian. Segala kerja kerasnya terasa lebih berarti saat ada Lio disampingnya walaupun hampir tiap hari cucunya itu membuatnya kesal.


Bahkan Kakek Angga juga begitu kecewa dengan anaknya sendiri yang tak peduli dengan anak dan ayahnya sendiri. Padahal selama ini ia selalu berusaha membahagiakannya. Namun ia hanya bisa berharap kalau kelak anak dan menantunya itu bisa berubah.


"Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Begitu pula dengan papamu yang masih terlena dengan kenikmatan duniawi membuatnya jadi lupa diri kalau masih ada kamu yang harus ia beri kasih sayang. Jangan bersedih hati, ada kakek yang akan selalu menjaga kamu selama masih ada nyawa. Kita do'akan mereka agar segera dapat hidayah" ucap Kakek Angga.


Lio bertambah erat memeluk kakeknya. Ia takut kehilangan sang kakek yang merupakan separuh nyawanya sendiri. Padahal sebelum ada kejadian ia tersesat di desa ini, ia masih lah memikirkan kegiatannya di luar bersama teman-temannya. Namun setelah tersesat, ternyata banyak hikmah yang ia bisa ambil dari kejadian ini.


Ia begitu dihadapkan oleh banyak peristiwa terutama tentang hidup bertetangga dan pentingnya bersosialisasi. Ilmu agama yang harus jadi pedomannya agar kelak tak salah jalan dan kasih sayang keluarga membuatnya kini benar-benar akan menyayangi kakeknya.


Lio berjanji dalam hatinya untuk tak membuat ulah lagi agar kakeknya itu tak pusing memikirkannya. Terlebih jika kakeknya itu pusing bisa saja malah memperpendek umurnya. Ua sungguh berterimakasih masih bisa dikasih umur untuk dekat dan membahagiakan kakeknya dengan caranya yaitu mengubah sikapnya.

__ADS_1


"Terimakasih, kek. Maaf kalau selama ini Lio nakal dan banyak merepotkan kakek. Setelah ini Lio takkan pernah membuat kakek pusing lagi" janji Lio pada kakeknya.


Kakek Angga hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab apapun. Mau cucunya itu membuatnya mengelus dada setiap hari atau pusing, takkan pernah berkurang kasih sayangnya untuk Lio. Terlebih anggota keluarganya kini hanyalah Lio saja jadi tak mungkin jika dirinya akan menjauhi cucunya itu hanya karena membuatnya pusing.


__ADS_2