
"Bagaimana dengan keadaan markas?" tanya Lio kepada keempat sahabatnya itu.
Mereka kini tengah berada di warung samping sekolah yang bisa digunakan untuk membolos atau nongkrong. Keempatnya diikuti oleh beberapa anggota geng motor LEXON lainnya fokus pada kegiatannya sendiri-sendiri sampai Lio membuka suara. Lio juga langsung makan mie instant yang selama beberapa hari ini jarang sekali nikmati.
"Baik bos. Tapi ya gitu kayanya ada pengkhianat di geng motor kita. Setiap kita atur strategi pasti lawan sudah mengetahuinya" ucap Yuda melaporkan.
Lio hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia sudah tahu mengenai pengkhianat itu dari kakeknya dan juga Nathan yang tadi memberinya teka-teki. Ia tak mau gegabah kemudian berusaha menyelidiki ini sendiri karena jika sudah ada pengkhianat pasti lah harus jeli dalam menilai. Ia juga tak bisa membicarakan tentang strategi kepemimpinannya atau mungkin membahas pengkhianat dalam forum seperti ini.
"Kalian sudah tahu siapa pengkhianatnya?" tanya Lio menatap semua anggota inti.
Lio bahkan menelisik empat orang yang selama ini menemaninya. Bukan tak mungkin jika salah satu dari mereka adalah pengkhianatnya. Terlebih sedari tadi ia melihat ada seseorang yang memang mencurigakan baginya karena gerak-geriknya. Ia terlihat mengepalkan kedua tangannya saat pembahasan tentang pengkhianat itu dimulai.
Mereka semua menggelengkan kepalanya pertanda belum ada petunjuk. Namun Lio melihat kearah Nathan yang tersenyum misterius seakan dia sudah tahu siapa pelakunya. Semua anggota geng motor LEXON juga langsung terdiam mendengar ucapan dari ketuanya yang baru saja datang itu.
"Tenang saja. Pengkhianat itu hanya mampu bersembunyi di ketiak bosnya kok, kalau ketahuan ya paling ngadu" ucapnya seakan meledek.
Hampir semua orang yang mendengar ucapan dari Lio itu tertawa mengejek namun ada satu orang yang langsung mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sepertinya ia tak terima dengan ledekan yang dilontarkan oleh ketuanya itu namun tetap saja bibirnya tertawa seakan menganggap itu lucu. Perilakunya yang pintar bersandiwara dan memainkan mimik muka itu yang jadi seseorang susah mendeteksi bahwa dia pelakunya.
Setelah membicarakan hal itu semuanya memilih untuk makan dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sedangkan Lio menatap Nathan yang bahkan kini dengan santainya bermain game di ponselnya padahal harusnya pemuda itu menjelaskan padanya.
__ADS_1
"Pak Bandot..." seru seseorang dari arah luar warung.
"Jangan lari kalian..." seru Pak Bandi dengan ikut mengejar siswa yang bolos itu.
Sontak saja semua yang ada di warung itu keluar kemudian berlari melarikan diri. Pak Bandi atau biasa dipanggil dengan Pak Bandot itu merupakan guru BK yang mengatur kedisiplinan siswa. Pak Bandi yang memang badannya begitu bagus itu pun membuat semua siswa yang membolos kalang kabut.
Terlebih kakinya yang digunakan untuk berlari itu membuat semuanya ketar-ketir. Pak Bandi begitu lincah bahkan bisa dengan mudahnya menangkap siswa yang bolos namun tetap saja masih ada yang nakal. Dari semua anggota geng motor LEXON yang ada di warung itu, hanya Lio dan Nathan yang masih ada disana. Keduanya begitu santai bahkan tak ikut berlari seperti yang lainnya.
"Ayo itu tangkap semua, pak" seru Pak Bandi yang memang berhasil menangkap siswa yang bolos.
Dibantu dengan beberapa satpam dan anggota OSIS, sebagian besar dari mereka akhirnya tertangkap kemudian digiring ke lapangan basket. Sedangkan Pak Bandi dan ketua OSIS yang bernama Adeline itu masih mengitari area warung untuk mencari siswa yang masih bersembunyi.
"Sepertinya sudah tidak ada siswa yang membolos disini, pak" ucap Adeline sambil mengedarkan pandangannya kearah sekitar.
Adeline menganggukkan kepalanya kemudian melirikkan matanya kearah Lio dan Nathan yang masih dengan santainya duduk didalam warung. Pak Bandi yang memang tak memeriksa dalam warung karena fokus pada area luar tentunya mempercayai Adeline yang telah kesana.
Lio mengedipkan matanya sebelah sambil memberikkan ciuman jarak jauh pada Adeline membuat perempuan itu salah tingkah. Bahkan kini Adeline segera menyusul Pak Bandi yang sudah berlalu pergi. Tadi saat Adeline akan memeriksa dalam warung ia melihat Lio yang tengah menatapnya sambil memberikan kode untuk diam saja.
Adeline yang merupakan sosok gadis yang menjabat sebagai ketua OSIS itu termasuk salah satu pacar Lio. Namun sifatnya yang cuek membuat Adeline tak peduli jika kekasihnya itu mempunyai pacar lain di luar yang penting setiap dirinya ingin pergi selalu ditemani. Kedatangan Lio yang sudah lama tak dilihatnya itu tentu membuatnya begitu terkejut dan bahagia.
__ADS_1
"Enak ya bos punya pacar ketua OSIS. Nggak usah lah ya ribet-ribet kabur kalau ada sidak gini. Cukup kasih ciuman jarak jauh saja langsung aman posisi kita" ucap Nathan sambil terkekeh pelan.
"Punya pacar ya dimanfaatin dong. Lagi pula sepertinya baru dia pacar gue yang tahu kalau gue dah balik" ucap Lio sambil tertawa.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Sedari tadi Nathan menatap aneh pada Lio yang tingkahnya sedikit berubah. Bahkan kalimat yang ia ucapkan juga begitu rapi bahkan terkesan hati-hati. Lio menyadari hal itu hingga kini menatap balik Nathan sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ada yang beda dari loe bos? Kok lebih sumringah bahkan ucapannya lebih tertata gitu" ucap Nathan jujur.
"Jelas sumringah dong, udah nemuin calon ibu dari anak-anakku nih" ucap Lio sambil terkekeh pelan.
Nathan yang mendengarnya sontak saja memelototkan matanya tak percaya. Bahkan terlihat sekali baru kali ini ia mendengar Lio sudah membicarakan tentang masa depan seperti itu. Padahal dulunya Lio setiap kali ditanya tentang pacar jawabannya pasti hanya untuk mengisi kekosongan saja. Namun kali ini Nathan hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Bos, loe nggak kerasukan demit dari desa kan?" tanya Nathan dengan tatapan tak percayanya.
"Demitnya desa aja takut sama gue masa bisa gue kerasukan. Gue beneran, ada sesuatu yang mengubah semua pandangan gue selama ini tentang hidup" ucap Lio dengan serius.
"Pacar-pacar loe disini gimana nasibnya bos?" tanya Nathan terus mencecarnya.
"Kita lihat saja nanti" ucap Lio penuh dengan teka-teki.
__ADS_1
Nathan sampai kini masih belum mempercayai jika Lio kini telah berubah bahkan berbeda dari biasanya. Ia semakin penasaran dengan sesuatu atau mungkin seseorang yang bisa mengubah pandangan Lio ini. Ia akan sangat berterimakasih padanya karena bisa mengubah Lio jadi orang yang lebih baik.
Terlebih sebenarnya ia kurang suka pada kebiasaan Lio yang suka mengoleksi pacar hanya demi untuk waktu senggangnya. Apalagi sahabatnya itu hanya dijadikan ATM berjalan oleh pacar-pacarnya.