Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Ayah Hakim


__ADS_3

"Calon ayah mertua... Calon menantumu yang paling tampan ini datang" seru Lio di pinggiran sawah.


Tadi Lio menanyakan dimana letak sawah milik Pak Hakim kepada warga yang kebetulan juga ada didekat kebun. Beruntung warga itu tahu dan mengenal dimana letaknya. Namun ia tak mengira jika letak sawah yang dimaksud oleh warga itu harus melewati sungai dan jalanan berlumpur.


"Kalau gue jadi ketua RT atau kepala desanya, gue aspal juga nih semua jalanan disini" gumamnya terkekeh geli.


Bahkan ada beberapa orang yang menatap kearah Lio dengan tatapan aneh karena pemuda itu berjalan sambil senyum-senyum sendiri. Namun Lio sama sekali tak mempedulikannya, ia malah asyik berkhayal. Setelah beberapa menit berjalan diatas tanah yang berlumpur, akhirnya ia melihat siluet Pak Hakim yang duduk di sebuah gubuk tengah sawah.


Mendengar suara teriakan dari orang yang beberapa hari ini ia kenal, Pak Hakim langsung mengalihkan perhatiannya untuk mencari tahu siapa yang dipanggilnya. Pak Hakim melihat kearah sekitar sawah namun tak ada siapapun disana membuatnya mengerti kalau Lio tengah memanggil dirinya. Apalagi tatapannya mengarah padanya.


"Siapa yang kau panggil anak tengil?" teriak Pak Hakim memastikan.


"Lah... Di desa ini siapa lagi yang akan menjadi mertua Lio kelak kalau bukan Pak Hakim sendiri" goda Lio.


Entah mengapa melihat kekesalan dari Pak Hakim membuat Lio begitu terhibur. Bahkan ini sepertinya akan menjadi kebiasaannya selama satu bulan ke depan. Terlebih saat ini Pak Hakim sepertinya tengah kesal karena dirinya mengaku sebagai calon menantunya.


Dengan sigap Pak Hakim langsung berjalan menuju tepi sawah untuk menemui Lio. Lio pun dengan santai berdiri disana sambil memandang tanaman padi yang begitu hijau dan menyejukkan matanya. Rasanya sudah sangat lama ia tak merasakan kesejukan seperti ini.


Kegiatannya bahkan hanya berputar pada sekolah, cafe, restorant, dan markas saja. Perlahan mata Lio tertutup sambil menikmati udara yang begitu sejuk menerpa tubuhnya. Rasanya damai bahkan disana tak ada suara apapun yang mengganggu.

__ADS_1


Namun tiba-tiba kegiatannya itu terganggu karena ada seseorang yang datang. Dia adalah Pak Hakim yang langsung menjewer telinga Lio dengan begitu kencangnya membuat pemuda itu memekik kesakitan.


"Arrrghhhh.... Ampun, pak" seru Lio membuka matanya bahkan tangannya mencoba untuk melepaskan jeweran itu.


Bukannya melepaskan jewerannya, namun Pak Hakim malah tetap menjewer hingga menariknya untuk pergi dari sawah. Lio hanya pasrah saja ditarik telinganya seperti ini pasalnya kalau melawan takutnya nanti Pak Hakim bisa encok. Setelah sampai di kebun, jeweran di telinga Lio dilepaskan oleh Pak Hakim.


"Jangan pernah lagi memanggilku dengan sebutan calon mertuamu. Aku takkan sudi merestuimu mendekati anakku" seru Pak Hakim tak terima.


Ia benar-benar kesal setiap kali Lio selalu memanggilnya sebagai calon mertuanya. Ia tak ingin anaknya berjodoh dengan pemuda yang bahkan asal usulnya saja ia tak tahu. Sedangkan Lio hanya bisa cengengesan sambil mengusap telinganya yang memerah.


"Koyo tepung kanji nang dhuwur mejo, yen Gusti ngrestui wongtuo biso opo" nyanyi Lio menirukan sebuah lirik lagu jawa campursari yang sering diputar oleh teman-teman satu gengnya.


"Jadi ada apa kau mencariku?" tanya Pak Hakim mengalihkan perhatian.


"Oh iya... Lio mau lapor kalau ada dua orang yang mau tinggal di kontrakan. Dia adalah Adin yang dikejar tadi pagi kaya pencopet dan ibunya. Ibunya sakit dan butuh lingkungan bersih agar kesehatannya pulih maka dari itu saya memintanya untuk tinggal bersama saya" ucap Lio menjelaskan dengan serius.


Pak Hakim tercengang dengan apa yang diucapkan oleh Lio. Terlebih ia melihat ada ketulusan dan keyakinan di mata Lio saat mengucapkan hal itu. Ia sedikit tak percaya jika Lio malah membantu seorang pencopet dengan membiarkannya tinggal bersamanya.


"Kau yakin? Kau tak takut jika nanti semua barang dan uangmu raib diambil dia? Buktinya saja tadi dia mencopet dompet milik warga sini" ucap Pak Hakim.

__ADS_1


"Saya yakin. Kalau pun mereka mau ambil barang dan uang Lio, ya biarkan saja. Toh uangku masih banyak" ucap Lio dengan sombong.


Pak Hakim berdecih sinis melihat kesombongan dari pemuda didepannya ini. Tak menjawab apapun, Pak Hakim pergi meninggalkan Lio yang kebingungan saat ini. Pasalnya Pak Hakim tak memberikan jawaban pasti memperbolehkan atau tidaknya. Lio pun akhirnya berjalan cepat untuk mengejar langkah dari Pak Hakim.


"Jadi gimana, pak? Adin dan ibunya diijinkan tidak tinggal bersama saya. Tenang saja saya yang akan membiayai semua dari makanan dan pakaiannya kok" cerocos Lio.


Diam-diam Pak Hakim tersenyum tipis mendengar niatan baik dari pemuda yang selama beberapa hari terakhir selalu membuatnya kesal itu. Pak Hakim hanya terdiam kemudian berjalan menuju kearah rumah kontrakan Lio. Disana masih ada beberapa warga yang berkumpul kemudian ia masuk ke dalam rumah.


Ternyata disana ada Ratu juga Ustadzah Siti yang membantu ibu Adin makan. Sedangkan Adin sendiri makan tak jauh dari sana. Melihat pemandangan sepertu ini rasanya membuat hidupnya lebih berharga. Saling membantu antar warga, itu lah yang ia inginkan selama ini saat menjadi tetua dan ustadz disini.


Namun karena keterbatasan ekonomi membuat warga tak bisa membantu banyak seperti apa yang dilakukan oleh Lio. Bahkan hampir semua pun tahu kalau Lio memang dari kalangan atas sejak mereka menemukannya pagi itu. Terlebih motor besar yang memang harganya sangat mahal dan tak ada yang mempunyai di desa ini.


"Baiklah ku beri dia poin 1 karena sudah sedikit berhasil menarik perhatianku dengan caranya membantu oranglain" gumam Pak Hakim sambil melihat kearah Lio yang kini duduk bersama dengan Adin.


Bahkan penampilan Adin dan ibunya sudah lebih bersih juga wangi. Lio beruntung dengan hadirnya Ratu dan Ustadzah Siti yang membantunya dengan memberikan mereka pakaian dan makanan. Memang sepatutnya jika sesama harus saling membantu.


"Ayah... Ayo makan siang sini, ini masih banyak lho makanan yang dibawa ustadzah Siti" ajak Ratu dengan lembut karena melihat ayahnya yang hanya bengong melihat kebersamaan mereka.


Akhirnya Pak Hakim masuk dalam kontrakan Lio yang lumayan luas ini. Bahkan Pak Hakim menatap tak percaya rumah ini yang kelihatan bersih bahkan wangi. Pak Hakim duduk disamping Lio dan Adin kemudian mereka makan siang bersama.

__ADS_1


Para warga di luar juga sudah pulang karena sepertinya tak ada dibutuhkan lagi. Terlebih sudah ada Pak Hakim yang bisa mengatur semuanya.


__ADS_2