
"Lio, jelaskan yang benar" tegur Kakek Angga.
Lio menghela nafasnya kasar. Dirinya kini sedang mengantuk malah dihadang oleh beberapa warga yang membuatnya susah. Yang membuatnya muak adalah dirinya dituduh melakukan sesuatu yang tak ia perbuat sama sekali. Ditambah lagi kini ia tengah disidang oleh hampir semua warga desa ini.
"Perlu saya jelaskan, saya disini tak bersalah. Saya membantah semua tuduhan tak beralasan itu. Saya juga tak pernah mengucapkan kata-kata merendahkan beliau. Malah justru perempuan itu yang setia bertemu dengan saya pasti mulutnya nyinyir. Bilang pelitlah, sombonglah, usir saja dari kampung ini. Kalau kalian tak percaya, coba tanya sama teman-temannya itu yang tadi juga ada disitu saat Mpok Yati nyinyirin saya" ucap Lio panjang lebar.
Lio yang jarang sekali berbicara panjang lebar dengan terpaksa harus menjelaskannya. Bahkan ia berulangkali meneguk salivanya karena tenggorokannya sudah begitu kering. Bahkan Lio langsung menatap ibu-ibu yang notabene adalah teman dari Mpok Yati agar menjadi saksi yang sebenarnya.
"Bagaimana ibu-ibu? Apakah kalian mengetahui kejadian ini? Tolong jawab jujur, tak ingin kan nama desa ini tercemar karena warganya yang tukang fitnah" ucap Pak Hakim.
Walaupun berkata dengan nada halus bahkan terkesan meminta tolong untuk menjelaskan, namun kalimatnya terdengar menusuk. Ucapan pedas namun lembut itu kemungkinan bisa membuat ibu-ibu itu sadar kalau disini yang diperlukan adalah kerjasama jujur dalam memberikan kesaksian.
"Benar kata Mas Lio ini, pak. Saya mendengarnya jika Mpok Yati lah yang tadi melebih-lebihkan ceritanya kepada bapak-bapak ini. Sedari awal memang Mpok Yati yang terus mencari gara-gara pada Mas Lio dengan mengata-ngatainya karena kesal tak dipinjami mobil" ucap salah satu ibu-ibu memilih jujur.
Pak Hakim hanya bisa menghela nafasnya kasar mendengar apa yang diucapkan oleh ibu-ibu itu. Sedari dulu wanita itu memang tiada habisnya untuk melakukan fitnah kejam hingga kini Lio yang jadi korbannya. Semua bapak-bapak yang ada disana bahkan langsung menatap Lio dengan tak enak hati.
Ratu yang juga mendengarnya seketika menghela nafasnya lega. Ia juga sudah berkeyakinan kalau Lio tak mungkin melakukan hal itu, terlebih ia sudah tahu mengenai sifat Mpok Yati itu. Akhirnya Pak Hakim menyudahi pertemuan kali ini karena sudah jelas disini hanyalah ada seseorang yang tak suka dengan Lio sehingga memfitnahnya.
"Kami minta maaf karena tadi sempat terbawa emosi karena ucapan yang belum terbukti kebenarannya" ucap salah satu bapak-bapak mewakili.
__ADS_1
Lio hanya menganggukkan kepalanya acuh. Ia tak peduli dengan bapak-bapak itu yang terpenting tak meninggalkan bekas apapun di wajahnya. Kalau pun itu sampai terjadi pasti dia sudah membalasnya dengan cara yang tak kalah sadisnya.
Semuanya pun akhirnya memilih untuk membubarkan diri kecuali Pak Hakim, Lio, Ratu, dan Kakek Angga. Sedangkan anak buah Kakek Angga sudah ikut pergi karena disuruh pria paruh baya itu. Keempatnya pergi berjalan beriringan untuk membahas peristiwa yang baru saja terjadi.
"Aku akan membalas mulut nyinyir Mpok Yati itu. Nggak terima aku di fitnah melakukan hal merendahkan pada wanita bulat itu" ucap Lio dengan menggebu-gebu.
"Balas dendam itu tak baik. Lebih baik biarkan saja" ucap Ratu menyarankan dengan lembut.
"Balas dendam agar setidaknya dia jera dan sadar. Kalau hanya diam saja akan diinjak-injak akunya" kesal Lio.
Mereka bertiga yang mendengar ucapan Lio pun memilih untuk diam. Memang benar adanya jika balas dendam itu tak baik namun orang seperti Mpok Yati itu jika tak ditegur akan semakin semena-mena. Terlebih fitnahnya kali ini begitu keji dan diatas batas. Tentunya membuat Lio tak terima karena menyangkut nama baiknya bahkan diancam akan diusir dari sini.
"Sudah, lebih baik kita segera pulang. Istirahat biar pikiran dan otak tak panas karena memikirkan hal ini" ucap Kakek Angga yang langsung menggandeng tangan cucunya.
***
"Lio, kau harus tahan emosimu. Dia seorang perempuan, jangan membalasnya dengan aneh-aneh" peringat Kakek Angga saat pagi tiba.
Semalam setelah pulang dari masjid, Kakek Angga sudah berulangkali memberi pesan kepada Lio agar cucunya itu menahan emosinya. Pasalnya saat sampai di rumah, Lio langsung meluapkan amarahnya dengan menendang meja yang ada di kamarnya. Hal ini membuat Adin dan ibunya ketakutan karena baru pertama kali ini mereka melihat bagaimana Lio marah.
__ADS_1
Kakek Angga bahkan langsung meminta keduanya untuk masuk dalam kamar dan istirahat. Untuk urusan Lio biar dirinya yang menangani karena ini memang sudah kebiasaan cucunya itu. Akhirnya setelah terus meluapkan amarahnya dengan berteriak hingga menendang tembok, Lio bisa sedikit tenang.
"Iya kek" ucap Lio malas.
Lio pun akhirnya pergi dari rumah kontrakannya diikuti oleh Kakek Angga. Kakek Angga harus ikut karena ia tak ingin jika nanti cucunya kalap saat melihat dalang kejadian semalam. Tak berapa lama mereka berjalan, tiba lah keduanya di sebuah rumah sederhana dengan di terasnya sudah ada Mpok Yati yang berkumpul dengan ibu-ibu yang semalam di masjid.
"Mpok, mending minta maaf sama Lio. Semalam terlihat sekali kalau Lio dan kakeknya marah karena fitnahan dari mpok lho" ucap salah satu ibu-ibu menyarankan.
"Ogah, ngapain juga minta maaf. Yang salah kan dia, ngapain juga dia masih ada disini. Bikin empet mata aja" ketus Mpok Yati.
Sepertinya mereka belum menyadari kedatangan Lio dan kakeknya membuat semuanya terus membahas kejadian semalam. Lio dan kakeknya memilih untuk diam sampai mereka menyelesaikan ucapannya sampai salah satu diantaranya menyadari kedatangan keduanya.
"Lho... Nak Lio" ucap salah satu ibu-ibu itu.
Ibu-ibu yang ada disana langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Lio dan kakeknya yang menatap datar semuanya. Semuanya tak terkecuali Mpok Yati wajahnya langsung pucat melihat kedatangan Lio juga kakeknya. Mereka was-was jika sampai Lio mendengar ucapannya. Bahkan Mpok Yati yang tadi terlihat begitu sombong menatap Lio dengan sedikit takut-takut.
"Yang bikin empet mata itu siapa, Mpok?" tanya Lio sambil terkekeh sinis.
Baru satu kalimat yang diucapkan dan ditanyakan oleh Lio namun membuat mereka menegang di tempat. Jika Lio tahu tentang apa yang diucapkan itu berarti ia mendengar apa yang tadi sedang mereka bicarakan. Bahkan wajah Kakek Angga sudah menatap tajam kearah Mpok Yati.
__ADS_1
"Ya anda lah, masa saya" ketus Mpok Yati dengan memberanikan diri.
Lio menyeringai sinis, begini lah lawan yang ia inginkan. Berani bukan hanya bersembunyi dibalik ketiak oranglain ketika merasa terancam. Bahkan ibu-ibu disana sudah membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Mpok Yati.