Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Masalah Kampus


__ADS_3

Semua masalah kampus tentang pembullyan, menyalahgunakan kekuasaan, hingga kejadian ospek kemarin sudah menemui titik terangnya. Selly dijerat oleh beberapa pasal yang memberatkan untuk kasus pembullyannya. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang dulunya menjadi korban Selly juga langsung ikut melaporkannya ke pihak yang berwajib. Mereka berbondong-bondong melapor agar bukti yang digunakan untuk menjerat gadis itu semakin kuat.


Ratu yang waktu itu pernah mengalami pengancaman dan pembullyan hanya karena menegurnya itupun sudah mengikhlaskannya. Padahal Uli sudah sangat semangat untuk menemani gadis itu. Walaupun pembullyan yang dialami oleh Ratu itu masih dalam tahap ringan, tak seperti yang lainnya sudah sampai membuat depresi dan ingin keluar dari kampus.


"Mending laporkan saja atas tuduhan perbuatan yang tidak menyenangkan" ucap Uli dengan semangat.


"Enggak, Mbak Uli. Dia sudah banyak yang melaporkan. Kasihan kalau hanya masalah kecil yang aku alami ini nanti urusannya semakin ribet" ucap Ratu menolak.


Uli hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti. Setidaknya Selly sudah mendapatkan hukuman atas apa yang diperbuatnya. Walaupun sebenarnya Uli masih kesal dan ingin sekali mencakar-cakar wajahnya. Padahal Uli dulunya tidak pernah mendapatkan bullyan dari Selly sendiri namun mendengar cerita dari teman-temannya saja sudah membuatnya kesal.


Lagi pula Ratu terlalu baik orangnya untuk menghukum orang dengan berat. Walaupun baru mengenalnya beberapa hari saja, namun ia sudah mengerti bagaimana sifat sahabatnya itu. Dia yang lemah lembut dengan gaya bicara ceplas ceplosnya yang sangat bermanfaat bagi oranglain itu tentu saja membuat orang yang ada didekatnya merasa nyaman.


***


Untuk permasalahan mengenai penyalahgunaan kekuasaan di kampus, tentunya para petinggi dan donaturnya langsung diusir secara tidak terhormat. Untuk donatur, semua sudah diganti uangnya dari Kakek Angga. Kakek Angga tidak ingin kalau masih ada jejak orang-orang seperti itu didalam kampusnya. Semua uang yang telah dikeluarkan oleh mereka, segera direkap oleh pihak administrasi kampus. Hasilnya langsung diganti oleh Kakek Angga dan dikembalikan pada yang bersangkutan.


Sedangkan untuk panitia ospek yang bermasalah dengan Lio waktu itu, hari ini sedang akan dilakukan mediasi. Tidak lupa dengan kehadiran ketua BEM dan panitia ospek lainnya disana, juga Lio dan ketiga sahabatnya. Mereka datang dengan wajah biasa namun dianggap angkuh oleh seniornya itu namun Lio tidak peduli sama sekali.


Ia duduk disana dengan ada Kakek Angga dan rektor yang menjadi penengah. Beberapa senior masih menatap Lio dengan sinis namun dengan santai pemuda itu berbincang dengan sahabatnya. Ia malas meladeni orang-orang yang berkuasa hanya dengan atas nama panggilan senior saja.


"Disini saya ingin memfasilitasi semua mahasiswa yang hadir atas permasalahan waktu ospek itu berlangsung. Saya tidak ingin jika kedepannya, peristiwa ini kembali terjadi. Kita sebagai keluarga di kampus ini, seharusnya saling merangkul dan gotong royong demi membuat besar nama instansi pendidikan ini" ucap Pak Alim selaku rektor kampus itu.


Kakek Angga hanya menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan oleh Pak Alim. Namun perlu digarisbawahi kalau semua orang yang ada disana seharusnya saling menghargai dan menghormati. Tidak perlu langsung menjelekkan nama oranglain didepan semua orang, itu poin pentingnya.

__ADS_1


Mungkin Pak Alim juga belum mengetahui secara keseluruhan mengenai masalah yang sebenarnya. Yang ia tahu, panitia ospek berseteru dengan Lio karena kesalahpahaman. Kesalahpahaman inilah yang menjadi poin penting dalam pembahasan ini menurut Pak Alim. Padah disini seharusnya ada permintaan maaf dari pembuat onar sehingga tidak lagi menimbulkan perselisihan.


"Dia tidak sopan dengan senior. Apalagi dia cucu pemilik kampus ini, saya tak terima dong. Tidak dihormati dan dihargai sama sekali oleh juniornya" kesal orang itu dengan menggebu-gebu setelah diberikan waktu untuk meluapkan unek-uneknya.


"Benar itu yang dikatakan Abi. Dia tidak sopan, hari pertama sudah terlambat masuk ospek. Gimana nasib bangsa ini kalau penerusnya sering terlambat seperti itu?" timpal ketua BEM mendukung ucapan dari rekannya yang bernama Abi.


Kakek Angga menghela nafasnya pelan mendengar ucapan dari Abi itu. Padahal disini yang dipermasalahkan itu mengenai ejekan dan hinaan yang keluar dari mulut Abi. Seingatnya ketua BEM itu tidak hadir disana saat peristiwa penghinaan terjadi. Namun malah dengan tegasnya, ia membela rekannya.


Sepertinya Abi ini ingin mengadu domba hingga memperburuk keadaan. Padahal beberapa dosen sudah tahu kalau permasalahannya disini itu mengenai penghinaan Abi padanya dan Lio. Sepertinya besok anggota-anggota organisasi di kampus seperti ini harus diseleksi dengan benar sehingga tak asal bicara dan membela.


Apalagi panitia ospek lainnya sudah memberi kode pada Abi dan ketuanya itu untuk diam saja. Permasalahan akan semakin memanas jika mereka terus berkoar dan membenarkan dirinya sendiri. Lio pun hanya bisa menatap lurus kedepan setelah dipojokkan oleh beberapa orang ini.


"Sedari dulu saya memang seperti ini. Lalu kenapa? Orang-orang yang ada didekat saya saja menerima kok. Lagian saya terlambat itu karena memang berpikir kalau ospek ini tidak wajib. Lagian semua sudah jelas kalau sebenarnya permasalahan disini itu bukan karena saya terlambat tetapi dia, menghina saya dan kakekku didepan mahasiswa baru" ucap Lio dengan nada datarnya.


Melihat aura kepemimpinan dan ketegasan dari Lio itu membuat Pak Alim juga panitia ospek lainnya itu merasa tertegun. Mereka tak menyangka kalau Lio yang mempunyai image pecicilan sejak pertama kali bertemu saat ospek itu mempunyai aura yang berbeda. Padahal bagi Kakek Angga dan sahabatnya, itu adalah aura kemarahan.


"Kek, putar saja itu videonya. Biar pembicaraannya semakin tak berputar-putar. Sepertinya Pak Alim dan panitia lainnya yang tak hadir saat itu sudah didoktrin fakta lain" lanjutnya.


Kakek Angga menganggukkan kepalanya kemudian meminta Yuda dan Delan untuk memasang semua perlengkapan yang ada disana. Tak berapa lama, video yang ada di lapangan waktu itu terputar disebuah layar LCD.


Tanpa mereka ketahui, Abi dan beberapa panitia yang tahu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Padahal mereka awalnya itu berpikir kalau video CCTV ini sudah hilang, namun malah ditampilkan lagi. Mereka yang awalnya ingin bersembunyi dibalik ketiak Pak Alim dan ketua hanya bisa meneguk salivanya dengan kasar.


"Bagaimana Pak Alim dan ketua? Terkejut bukan" ucapnya sambil terkekeh sinis.

__ADS_1


Terlihat sekali kalau mereka sangat terkejut dengan fakta ini. Mereka pun kalau dihina seperti ini pasti akan marah dan langsung menuntut pada pihak yang berwajib atau bisa segera menonjok muka Abi. Namun pada faktanya Lio lebih memilih diam walaupun sudah difitnah sedemikian rupa.


Pak Alim langsung meraup wajahnya kasar karena sedikit malu dengan pertemuan ini. Pasalnya ia yang tak tahu permasalahannya apa namun langsung mengusulkan jadi penengahnya. Begitu pula dengan ketua organisasi yang hanya bisa geleng-geleng kepala dengan menatap tajam semua orang yang ada disana.


Ia tak menyangka kalau ternyata semua anggota yang datang pada hari kedua itu lebih memilih membela Abi. Padahal sudah jelas kalau Abi yang bersalah namun memojokkan lawannya. Ia merasa kalau dirinya dibodohi dan tak dihargai sama sekali.


"Kalian... Berani-beraninya berbohong kepadaku. Syarat masuk anggota organisasi adalah jujur. Namun ini kalian malah membela salah satu anggota yang perbuatannya tidak patut dicontoh. Sepertinya saya akan konsultasi dengan penanggungjawab organisasi untuk merombak susunan pengurus" ucap ketua itu sambil menunjuk kearah semua orang secara bergantian.


Mereka semua tertunduk lesu karena nasibnya akan ditentukan oleh dewan pembimbing dan ketua itu. Mereka hanya bisa pasrah kalau sampai namanya akan dibuang dari daftar pengurus. Padahal untuk memasuki organisasi ini sangatlah sulit.


"Maafkan saya karena tidak bisa membimbing mereka dengan baik sehingga ada kejadian ini. Seharusnya saya memeriksa dulu keterangan dari mereka, tidak asal langsung menelan mentah semua informasi yang diterima" lanjutnya yang kemudian berdiri dan menundukkan sedikit kepalanya sebagai permintaan maaf.


Lio dan ketiga sahabatnya hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka juga merasa kalau ketuanya ini hanya tidak memahami apa yang terjadi. Lagi pula dengan minta maaf sebenarnya selesai, walaupun Lio masih sedikit kesal dengan ucapan yang dilontarkan oleh Abi.


"Berarti sudah jelas ya kalau masalah ini telah selesai. Minta tolong buat kamu Abi, lain kalau emosi jangan sampai kamu menghina orangtua. Ini bukan masalah karena Pak Angga ini pemilik kampus ini lho, tetapi kepada semua orang yang lebih tua. Kita harus saling menghormati dan menghargai semua orang yang ada disekitar kita" ucap Pak Alim sambil tersenyum tipis.


Lio pun hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Abi pun masih terdiam pasrah. Disini sudah jelas kalau dirinya bersalah dan tidak bisa lagi mengelak karena adanga video CCTV itu. Lagi pula selama ini dia memang mudah emosian karena hanya masalah kecil saja.


Mereka semua pun akhirnya bersalaman satu sama lain untuk menandakan tidak ada lagi dendam atau permasalahan diantara semuanya. Lagi pula Lio merasa kalau ini hanya masalah kecil walaupun dia tak terima jika kakeknya dihina. Intinya menghina kakeknya akan langsung berhadapan dengannya.


Setelah selesai dengan pembicaraan ini, semuanya keluar dari ruang rapat. Mereka keluar dari gedung rektor kemudian kembali ke kelasnya masing-masing. Lio yang melihat kehadiran Ratu bersama dengan dua temannya di taman kampus pun langsung saja berlari mendekatinya.


"Hadeh... Bucin, bidadarinya kelihatan langsung saja disamperin" ucap Yuda sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Iri ya nggak punya calon bidadari pendamping?" ledek Delan membuat Yuda mencebikkan bibirnya kesal.


__ADS_2