
Lio begitu kesal karena saat dirinya tidur dengan nyanyak, malah tiba-tiba saja pintu ruang rawat inap Kakek Angga didobrak dengan kerasnya. Padahal pintu itu tak dikunci namun dengan seenaknya malah didobrak dengan kerasnya seakan tak ingat bahwa ini sedang ada di rumah sakit. Bukan hanya Lio yang terbangun, namun Agung dan Nathan juga langsung membuka matanya.
Terlihat dua orang yang tak asing baginya dan Nathan masuk dengan gaya angkuhnya. Bahkan keduanya langsung duduk di kursi samping brankar Kakek Agung yang juga sudah membuka matanya. Lio langsung duduk dari baringannya kemudian melihat jam dinding yang ada di dinding ruang rawat inap ini. Pukul 6 pagi dan dua orang dewasa itu sudah membuat kerusuhan.
"Bisa tidak kalian itu tahu waktu? Kalau mau jenguk orang, siangan. Ini aja yang nunggu masih tidur, bahkan masuk aja pakai dobrak pintu" ketus Lio sambil mengusap kasar wajahnya.
"Suka-suka kita lah, toh kita kesini nggak ada urusannya sama situ. Kita mau ketemu orangtua kita" ucap Mama Lio dengan sarkas.
Yang datang itu memang kedua orangtua Lio yang tanpa etikanya mendobrak pintu ruang rawat inap. Ingin sekali Lio menyeret mereka keluar dari ruangan ini namun Kakek Angga memberi kode untuk membiarkannya saja. Nathan langsung menarik Agung keluar dari ruangan Kakek Angga karena ini merupakan urusan keluarga mereka.
Lio mendengus kesal kemudian berdiri di samping brankar Kakek Angga dan menatap tajam kedua orangtuanya. Ia tak menyangka mereka bisa tahu dimana Kakek Angga dibawa ke rumah sakit. Lebih mengesalkannya lagi adalah wajah kedua orangtua Lio yang sama sekali tak menunjukkan raut wajah bersalahnya.
"Kalian ngapain disini?" tanya Kakek Angga dengan santai.
"Pokoknya kita mau minta uang 100 juta untuk membuat usaha kita balik normal lagi" ucap Papa Lio dengan santainya.
Lio dan Kakek Angga tentunya langsung menatap tak percaya kearah keduanya. Mereka pikir uang segitu bisa langsung dapat sehingga bisa langsung memintanya dengan cara seperti ini. Kedua orangtua Lio tak jadi menjual rumah mereka karena berpikir dimana nanti akan tinggal.
Kalau mereka tinggal di rumah yang lebih kecul, tentunya takkan nyaman. Jadi mereka pagi-pagi mencari informasi mengenai di rumah sakit mana Kakek Angga dirawat.
"Situ mau duit 100 juta?" tanya Lio dengan tatapan seriusnya dan diangguki oleh mereka dengan antusias.
"Kerja..." serunya dengan sinis.
Kedua orangtua Lio langsung menatap sinis kearah anaknya. Mereka juga sudah bekerja namun karena usahanya sedang turun makanya keduanya memutuskan untuk meminta uang pada Kakek Angga. Meminta uang ini juga sudah termasuk bekerja karena berusaha mendapatkan uang dengan membujuk orangtuanya.
__ADS_1
"Hei... Kita nggak ngomong sama kamu. Kita minta sama papa kami" ucap Papa Lio.
Kakek Angga hanya bisa meghela nafasnya sabar mendengar apa yang diucapkan oleh anak dan mantan menantunya itu. Padahal kemarin dirinya sudah bilang kalau takkan mengeluarkan uang sepeser pun untuk mereka. Namun faktanya mereka masih mengejarnya demi mendapatkan apa yang keduanya inginkan.
"Sudah ku bilang kalau aku takkan pernah memberikan kalian apa yang aku punya. Lebih baik aku berikan semua hartaku pada anak yatim piatu daripada kalian. Lebih berkah dan bermanfaat daripada dihambur-hamburkan" ucap Kakek Angga dengan tegasnya.
"Ayolah pa, masa kau tega pada anakmu sendiri yang lagi kesusahan ini sih" ucap Papa Lio dengan wajah yang memelas.
"Cihh... Drama" ucap Lio berdecih.
Kedua orangtua Lio tak menggubris ucapan dari anaknya itu. Mereka begitu fokus dengan Kakek Angga karena ingin masalah dalam usaha keduanya segera selesai. Lio rasanya sudah mual dengan orang-orang bermuka dua seperti orangtuanya ini. Padahal sudah bertahun-tahun lamanya tak muncul namun malah menampakkan wajahnya didepan mereka saat sedang butuh.
"Kau saja tega kok tak menafkahi cucuku dari perceraian kalian hingga kini. Kok tega kalian sama anak kandung sendiri?" ucap Kakek Angga dengan sinis.
Kakek Angga dan Lio terkekeh pelan karena merasa bisa menginjak-injak harga diri kedua orang didekatnya ini. Terlebih rasa sakit yang Lio alami tentunya takkan mudah bagi pemuda itu untuk memaafkan dan melupakannya. Sedangkan kedua orangtua Lio terlihat mengepalkan kedua tangannya.
Brakkk....
"Sialan..." sentak Papa Lio yang kemudian menggebrak nakas samping brankar Kakek Angga.
Kakek Angga dan Lio sedikit terkejut dengan sikap mereka berdua yang sama sekali tak berubah. Keduanya sama-sama emosian dan bersumbu pendek membuat mereka harus hati-hati. Walaupun begitu Lio dengan sikap was-wasnya menyiagakan dirinya jika sampai mereka berbuat kerusuhan dalam ruang rawat inap kakeknya.
"Kalian itu... Harusnya segera beri kami uang itu agar kami pergi. Bukan malah menghina kami" sentaknya.
Bahkan wajah dan matanya sudah memerah karena kepalang emosi sambil mengacak-acak rambutnya. Sepertinya Papa Lio terlihat sangat frustasi karena sampai saat ini belum mendapatkan uang untuk menyelamatkan usahanya. Jika sampai ini tak berhasil, entah dia harus bagaimana lagi.
__ADS_1
"Sudah kami bilang kalau kami takkan mengeluarkan uang sepeser pun" bentak Lio.
Emosi Lio sepertinya sudah berada diujung tanduk. Bahkan kini Lio langsung mendekat kerah papanya yang sedari ia kecil tak pernah ada untuknya. Sedangkan kini Kakek Angga sudah was-was kalau cucu dan anaknya berantem disini dalam kondisi ia tak bisa berbuat apa-apa untuk melerai. Bahkan kini Mama Lio langsung berdiri kemudian berusaha mendekati keduanya.
"Jangan jadi anak durhaka kau, Lio. Kau itu pernah tinggal di rumah kami bahkan ku berikan fasilitas mewah. Kau harusnya balas budi" seru Papa Lio tak terima diremehkan anaknya.
"Memang sudah sewajarnya seorang anak dinafkahi oleh orangtuanya. Bukannya pukulan dan bentakan yang aku terima selama ini di rumah itu? Harusnya dengan rasa sakit itu, aku sudah membayar semua yang pernah kalian berikan padaku" ucap Lio dengan nada datarnya.
Sudah tak ada rasa sayang bahkan simpati Lio untul kedua orangtuanya yang selalu mengungkit balas budi. Balas budi apa yang harus ia berikan padahal disana hanya bentakan dan pukulan yang hampir setiap hari ia terima. Lalu apa tugas dan kewajiban orangtua jika apa yang mereka lakukan ingin mendapatkan balas budi dari anaknya.
"Saya tidak mau tahu, kalian harus membayar semua itu" sentak Papa Lio.
Bahkan kini Lio langsung saja mencekik leher papanya dengan begitu erat hingga mamanya sudah berteriak histeris. Namun sayang sekali, takkan ada yang mendengar teriakan itu karena ruangan ini kedap suara.
"Tolong... Ya Tuhan, mas. Lio lepaskan papamu. Dia itu papamu, jangan kurang ajar" seru Mama Lio ketakutan.
"Lepas..." ucap Papa Lio dengan lirih.
Lio tentunya takkan menggubris ucapan dari kedua orangtuanya itu. Ia sudah terlanjur sakit hati, bahkan sedari tadi ia seperti tak dianggap sebagai anaknya. Coba mana orangtua yang dengan teganya mengucapkan kalimat-kalimat yang seakan ia tak berarti sama sekali. Kalau memang ia tak dianggap anak, maka Lio juga takkan menganggap mereka sebagai orangtuanya.
"Lio, lepaskan nak. Jangan sampai kamu jadi pembunuh" seru Kakek Angga khawatir jika cucunya kalap.
Wajah Papa Lio sudah merah padam dan kedua tangannya meronta untuk segera dilepaskan cekikannya. Namun Lio dengan sigap sedikit menjauh. Sangat mudah bagi dirinya untuk menghabisi laki-laki didepannya, pasalnya ia sendiri badannya jauh lebih tinggi dan besar dibandingkan papanya.
Brakkk....
__ADS_1