Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Nathan Terluka


__ADS_3

Raut wajah Nathan terlihat pucat karena kelelahan berkelahi dengan beberapa orang anggota geng motor AREX dan kini banyak darah yang keluar dari lukanya. Dilihat dari darah yang begitu banyak keluar dari lengannya hingga kainnya memerah pun sudah bisa membuktikan kalau lukanya sangat dalam.


Nathan masuk dalam rumah Lio dengan langkah yang tertatih karena rasa pusing di kepalanya. Padahal sebelumnya ia tak selemah ini membuatnya merasa aneh pada tubuhnya ini.


"Tolong gue, Lio" ucap Nathan dengan pelan.


Tak ada yang mendengar Nathan berbicara karena semua orang yang ada di ruang keluarga begitu fokus dalam melihat acara TV. Terlebih suara dari TV juga sangat besar sehingga jika berbicara lirih tentunya tak terdengar.


"Bang Nathan..." seru Agung tiba-tiba.


Agung yang tak sengaja melihat adanya Nathan yang berjalan sempoyongan pun langsung berteriak. Lio dan Kakek Angga langsung mengalihkan perhatiannya kearah belakang tubuh mereka. Keduanya membulatkan mata saat melihat Nathan sudah seperti mayat hidup dengan darah yang terus menetes dari lengan tangannya.


Lio segera saja berlari mendekat kearah Nathan kemudian langsung saja memapah laki-laki itu. Didudukkannya ia di karpet kemudian ia sandarkan pada sofa yang kemudian Agung datang dengan membawa kotak P3K. Lio segera membuka kain yang sudah basah itu kemudian mencoba memeriksa lukanya.


"Astaga... Ini lukanya dalam sekali. Lebih baik kita ke rumah sakit terdekat saja. Kemungkinan ini harus dijahit" ajak Lio.


Kakek Angga tak mungkin ikut ke rumah sakit membuatnya segera menghubungi anak buahnya. Empat orang anak buah kakek Angga langsung saja datang kemudian membantu membawa Nathan yang lemas masuk dalam mobil.


"Agung, jaga kakek di rumah ya. Biar abang bawa Nathan ke rumah sakit" pesan Lio pada Agung.


Agung pun menganggukkan kepalanya mengerti. Dua anak buah Kakek Angga masuk dalam mobil dengan salah satunya menyetir. Sedangkan dua orang lainnya langsung saja menaiki sepeda motor untuk melancarkan jalan mereka menuju rumah sakit.


"Tolong agak ngebut, paman" titah Lio yang khawatir dengan keadaan Nathan.

__ADS_1


Bahkan kini kain baru yang sudah ia balutkan pada lengan Nathan juga sudah memerah. Nathan pun diajak bicara juga sudah tak merespons dirinya lagi. Lio sangat khawatir dan takut jika nanti kondisi Nathan semakin memburuk. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai anak buah Kakek Angga mulai memasuki halaman rumah sakit.


Salah satu anak buah Kakek Angga turun dari mobil kemudian meminta bantuan pada petugas medis. Beberapa petugas medis langsung saja mendorong brankar kemudian didekatkan pada mobil. Dibantu yang lainnya, Nathan diletakkan diatas brankar rumah sakit.


"Tolong cari siapa yang menyebabkan Nathan seperti ini" ucap Lio pada anak buah kakeknya.


Anak buah Kakek Angga langsung menghubungi rekannya yang pintar dalam IT untuk menyelidiki penyebab dari Nathan yang terluka. Sedangkan Lio kini tengah duduk didepan ruang UGD untuk menunggu Nathan diperiksa.


Beberapa perawat keluar dari pintu ruang UGD sambil berlari kemudian kembali lagi dengan membawa kantong darah. Sepertinya luka Nathan memang membutuhkan transfusi darah karena dalam dan begitu panjang. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngilu.


"Apa ada keluarganya disini?" tanya seorang dokter keluar dari pintu ruang UGD.


"Saya adiknya" ucap Lio yang langsung berdiri.


"Kami melakukan transfusi untuk pasien karena kondisinya yang darurat akibat kehilangan banyak darah. Untuk lukanya juga kami jahit karena terlalu dalam dan lebar untuk menghentikan pendarahannya" ucap dokter itu menjelaskan detail dari tindakan yang dilakukan.


"Untuk keadaannya saat ini sudah lebih stabil walaupun masih lemas. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap untuk satu sampai dua hari ke depan" lanjutnya.


Lio menganggukkan kepalanya kemudian menunggu brankar Nathan dikeluarkan. Tak berapa lama beberapa perawat langsung mendorong brankar Nathan keluar dari ruang UGD menuju ruangan rawat inap.


***


"Tuan, geng motor AREX yang sudah mengeroyok Nathan. Bahkan ada salah satu dari mereka yang membawa pisau kecil" ucap salah satu anak buah Kakek Angga memperlihatkan rekaman CCTV yang ada di layar ponselnya.

__ADS_1


Lio mengepalkan kedua tangannya melihat bagaimana Nathan sendirian saat dikeroyok. Bahkan bagaimana salah satu dari mereka langsung menggunakan pisau untuk melukai sahabatnya itu.


"Pengecut, mainnya pakai pisau" kesal Lio saat melihat rekaman CCTV itu.


Lio melihat kearah wajah Nathan yang juga banyak lebamnya. Ia berjanji untuk membalas rasa sakit yang diterima sahabatnya itu. Bahkan kini matanya sudah berkilat marah dengan bibir tersenyum menyeringai sinis. Didalam otaknya sudah banyak rencana yang akan ia gunakan untuk menghancurkan AREX.


"Paman, pesankan aku peledak dalam skala kecil untuk aku gunakan sebagai peringatan bagi geng AREX" ucap Lio memberi perintah pada anak buah kakeknya.


Anak buah Kakek Angga itu menganggukkan kepalanya mengerti kemudian undur diri untuk segera menyelesaikan apa yang diperintahkan oleh Lio. Sedangkan Lio langsung menatap kearah sahabatnya dengan tatapan iba terlebih kedua orangtua pemuda itu yang tak membalas pesannya juga. Padahal sudah terlihat kalau pesan itu telah dibaca.


"Gue bakalan balas mereka. Kalau perlu dengan tanganku sendiri" gumam Lio dengan mata berkilat tajam.


Namun sekarang ia bimbang apakah akan menghubungi sahabat-sahabatnya yang lain atau tidak mengenai kondisi Nathan saat ini. Pasalnya ada salah satu dari mereka yang merupakan pengkhianat di geng motornya. Bisa saja ia membocorkan keadaan Nathan ini pada rekannya yang belum ia ketahui siapa orangnya.


"Sial... Kenapa harus ada pengkhianat sih di geng LEXON? Padahal apa kurangnya gue dalam memimpin mereka. Kita juga bahkan juga saling melindungi agar semuanya setia dan baik-baik saja. Namun faktanya semua malah hancur kaya gini" gumamnya kesal.


Akhirnya Lio tetap menghubungi sahabatnya yang lain dan anggota geng motornya. Bagaimana pun juga mereka harus tahu keadaan sahabatnya. Namun ia takkan mengungkap siapa yang mengeroyok dan rencana apa yang akan ia lakukan agar semuanya berjalan mulus.


Setelah berhasil menghubungi semua temannya, ia langsung mengabari tentang keadaan Nathan pada kakeknya. Kakeknya itu pasti sangat khawatir karena Nathan sudah dianggapnya sebagai cucu sendiri. Semua beres... Lio keluar mencari makanan sedangkan ia menitipkan Nathan pada anak buah kakeknya.


***


"Bos, Nathan ada di rumah sakit. Tapi gue nggak berani masuk kalau nggak ada yang lainnya. Ntar bisa curiga si Lio, apalagi ada anak buah kakeknya" ucap seseorang yang sedang memberi informasi pada orang yang disebutnya bos di seberang sana.

__ADS_1


__ADS_2