Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Keributan


__ADS_3

Para panitia hanya pasrah saja melihat kelakukan beberapa mahasiswa baru yang sama sekali tak mengindahkan ucapan dari seniornya. Terlebih Lio dan teman-temannya yang ternyata punya power lebih dengan adanya Kakek Angga sebagai pemilik kampus ini. Walaupun Kakek Angga sendiri sudah meminta semua panitia agar tak segan memberi hukuman pada Lio.


Ratu, Lio, dan sahabat-sahabatnya pun langsung mendekat kearah Kakek Angga yang sudah sendirian didekat ruangan pemilik yayasan. Kakek Angga hanya tersenyum melihat kedatangan semua cucu-cucunya kemudian memintanya segera masuk dalam ruangan itu.


"Ada apa? Kalian ini masih ospek lho, kok malah kesini" tanya Kakek Angga sambil duduk di kursi kebesarannya.


Bukannya menjawab pertanyaan Kakek Angga, justru mereka malah fokus pada isi dari ruangan pria tua itu. Ruangan yang sungguh mewah bahkan ada kamar tidur dibalik pintu belakangnya kemudian meja kerja lengkap dengan sofa lengkap. Disana juga ada meja billyard yang langsung saja didekati oleh Lio.


Di rumah tak ada fasilitas meja billyard seperti ini sehingga membuatnya sedikit norak. Sedangkan Kakek Angga hanya bisa menghela nafasnya sabar melihat yang dilakukan oleh Lio dan sahabat-sahabatnya itu. Ratu sendiri langsung duduk didepan Kakek Angga sambil melihat ruangan itu.


"Kek, jadi benar kalau kakek ini pemilik kampus ini? Bangun kampus sebesar ini biayanya berapa, kek?" tanya Ratu dengan polosnya.


Kakek Angga yang mendengar pertanyaan polos dari Ratu hanya bisa terkekeh pelan. Sedangkan Lio dan sahabat-sahabatnya juga langsung mendekat kearah pria itu. Mereka berkerumun didekat meja kerja Kakek Angga sambil menatap penasaran kearahnya.


Bahkan Lio kini tak segan-segan naik keatas pangkuan kakeknya membuat Kakek Angga melototkan matanya. Cucu yang tinggi dan badannya yang kekar itu tentunya membuat pahanya linu dan pegal. Ia tak menyangka jika cucu laki-lakinya ini tak malu melakukan ini didepan teman-temannya.

__ADS_1


"Hei... Kau tak mau dilihat teman-temanmu dan calon istrimu itu bertingkah seperti ini?" kesal Kakek Angga.


"Enggak, biar Ratu tahu kalau aku ini walaupun garang dan nakal tapi manja. Biar dia kalau nanti nikah sama aku juga nggak kaget" ucap Lio yang kemudian mengalihkan pandangannya kearah Ratu sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ngimpi..." seru sahabat-sahabatnya secara bersamaan.


Tentunya hal ini membuat Kakek Angga dan sahabat-sahabat Lio tertawa karena melihat wakah muram dari pemuda itu. Sedangkan Ratu langsung mengalihkan pandangannya kearah lain karena malu dengan godaan Lio itu. Ratu sungguh dibuat salah tingkah kalau pemuda itu sudah melakukan serangan mautnya dengan godaan.


Namun beruntung ada Kakek Angga yang akan selalu menjaganya dari rayuan gombal Lio itu. Toh Kakek Angga takkan pernah mau kalau Ratu itu mendapatkan cucunya yang bahkan imannya saja belum kuat. Mereka semua dalam ruang kerja itu malah saling bercanda tawa ria padahal semua mahasiswa baru kini tengah dijemur di lapangan.


"Enak ya jadi Ratu. Nggak panas-panasan, harusnya tadi kita lari saja mengikuti Ratu" ucap Meli dengan sedikit berbisik kepada Salwa.


Padahal mereka sudah berusaha menjalankan semuanya dengan baik namun malah tak dipedulikan. Bahkan kini mereka menyinggung Lio dan sahabat-sahabatnya yang mentang-mentang punya kekuasaan malah pergi menyelonong dari acara ospek.


"Jangan jadi mahasiswa seperti orang-orang tadi yang asal pergi dari acara yang sudah ditentukan. Mereka punya kekuasaan namun tak punya etika dan sopan santun, entah didikan orangtuanya itu seperti apa hingga mereka begitu. Mereka tak cocok jadi mahasiswa, cocoknya jadi gembel di jalanan" seru salah satu panitia ospek.

__ADS_1


Tentunya ucapan salah satu panitia ospek itu membuat semua mahasiswa baru dan beberapa panitia lainnya tercengang. Mereka tak menyangka ada yang seberani itu menghina orang-orang itu. Padahal ia sudah tahu bagaimana kekuasaannya. Apalagi ini sampai menyinggung masalah didikan orangtua.


"Beraninya ngomong didepan oranglain, sini ngomong kaya gitu didepan saya. Pakai ngomong tentang didikan orangtua, tahu apa anda tentang kehidupan kami? Kalau anda menyinggung didikan keluarga saya hingga membuat seperti ini, tanyakan itu pada Kakek Angga yang mendidik saya. Nyatanya orang yang mendidik saya menjadi seperti ini bisa punya kampus ini bukan jadi gembel. Dulu kakek saya bahkan jadi mahasiswa nakal juga tapi sekarang dia sukses. Kesuksesan seseorang itu tak ditentukan dari seberapa tinggi status pendidikannya bos, tapi kegigihan dan kerja kerasnya" seru seorang pemuda yang baru saja datang.


Setelah cukup lama berbincang di ruang kerja Kakek Angga, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali pada kegiatan ospek. Itu pun karena dipaksa oleh Kakek Angga karena sebenarnya mereka sangat malas untuk mengikuti kegiatan ini. Saat mereka sudah dekat dengan lapangan utama, semua mendengar bahwa ada salah satu panitia yang seperti sedang orasi itu tengah menjelek-jelekkan Lio dan sahabat-sahabatnya.


Mereka semua geram kecuali Ratu yang sedikit takut karena dianggap akan menjadi gembel. Mereka mengepalkan kedua tangannya kemudian melangkahkan kakinya menuju kearah lapangan. Bahkan beberapa mahasiswa baru yang melihat kedatangan Lio dan teman-temannya itu hanya bisa membulatkan matanya. Sepertinya keributan besar akan terjadi di lapangan ini.


"Bahkan banyak dari lulusan sarjana yang jadi pengangguran karena mereka hanya menjual nama besar kampusnya saja. Mereka tak menggunakan pikirannya untuk berkembang lebih kreatif di era digital seperti ini. Lulusan SMA pun sekarang banyak yang bagus-bagus skillnya. Itu sih menurut survey ya" timpal Nathan.


Panitia ospek merasa tertohok dengan ucapan dari Lio dan Nathan itu. Tentunya walaupun status mereka lulusan sarjana, kalau hanya asal-asalan dalam menuntut ilmu ya takkan ubahnya hanya menjadi pengangguran saja. Tentu perusahaan takkan mau menggaji seseorang yang hanya mengandalkan nama besar kampus dan nilai saja, namun juga skill.


Bahkan banyak mahasiswa baru disana yang begitu salut dengan apa yang diucapkan oleh Lio dan Nathan. Tentunya mereka hanya akan jadi pengangguran kalau setelah lulus cuma ongkang-ongkang kaki dan tak mengembangkan skill yang dipunyai.


Prok... Prok...Prok...

__ADS_1


Semua mahasiswa baru langsung bertepuk tangan karena mendengar ucapan Lio dan Nathan itu. Sedangkan panitia ospek yang tadi berdiri diatas panggung dengan ucapan menghina itu langsung turun kemudian pergi menjauh dari lapangan. Ia malu karena ucapannya seakan dibalikkan oleh mahasiswa baru yang pikirannya jauh lebih luas dan terbuka.


"Lebih baik kita pulang saja, daripada ikut kegiatan tak penting seperti ini. Masa iya ospek kegiatannya malah seperti disuruh membenci orang. Harusnya kan kita disuruh mengenali kampus ini" ucap Lio dengan santai.


__ADS_2