Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Permintaan Maaf


__ADS_3

"Maafin Mpok Yati ya neng Ratu. Mpok teh khilaf, awalnya cuma iseng aja tetapi ternyata kejadiannya malah begini" ucap Mpok Yati sambil menunduk.


Akhirnya setelah terpojok dengan ucapan teman-temannya yang menatap kecewa kepadanya membuatnya langsung meminta maaf kepada Ratu. Ini juga demi imagenya selama ini yang selalu memberikan informasi terupdate sesuai fakta. Mpok Yati dan teman-temannya memang sering ghibah namun sudah ada faktanya kalau itu terjadi.


Bukan seperti sekarang yang memfitnah orang, padahal awalnya ia hanya iseng untuk mengetest Pak Hakim yang katanya bersikap keras tentang didikannya kepada sang anak. Malam itu juga rasanya ia sangat merasa bersalah kepada Ratu karena perbuatannya membuat ia dibentak-bentak oleh sang ayah. Bahkan rencananya ini tak pernah ia bicarakan dengan teman-temannya.


"Iya Mpok, saya maafkan. Tapi lain kali jangan memfitnah orang lagi, ini namanya pencemaran nama baik lho. Apalagi Mas Lio ini baru satu hari tinggal disini udah jadi korban fitnah" ucap Ratu menegur secara lembut.


Sedangkan kini Lio hanya bisa mendengus kesal dengan apa yang dilakukan oleh Ratu. Harusnya Ratu tegas dengan bisa mengajak Mpok Yati duel namun ternyata semudah itu dimaafkan. Menurut Lio, Ratu ini terlalu baik hati hingga mudah memaafkan oranglain padahal akibat perbuatannya itu membuatnya sampai ditampar.


"Iya neng" jawab Mpok Yati dengan sedikit menunduk.


Akhirnya Ratu memilih pergi dari hadapan orang-orang yang berkerumun itu dengan diikuti oleh Lio yang berjalan di belakangnya. Jaraknya pun sekitar satu meter agar tak ada lagi orang yang memfitnah keduanya. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan, Lio mengungkapkan kekesalannya pada Ratu.


"Harusnya tadi kamu ajak adu gulat aja sih, jadi orang jangan terlalu baik dan polos. Nanti dimanfaatkan, rugi sendiri kamu" ketus Lio.


"Allah aja mau memaafkan kesalahan hamba-Nya, masa kita yang cuma manusia biasa nggak mau maafin kesalahan antar sesama. Kita bukan orang yang sempurna, bahkan banyak dosanya. Jangan sampai nanti kita nambah dosa karena nggak mau maafin kesalahan oranglain" ucap Ratu dengan terus berjalan lurus.


Lio bahkan terdiam setelah mendengar ucapan dari Ratu yang begitu menohok. Bahkan kini langkahnya terhenti hingga hanya bisa menatap dari belakang tubuh Ratu yang sudah perlahan menjauh. Perasaannya mulai tak karuan setiap kali mendengar suara lembut dari Ratu.


Kalau saat di kota dirinya dengan sigap akan mendekati wanita yang membuatnya tertarik, berbeda dengan sekarang di desa ini. Sepertinya isi kegiatannya bukan lagi terfokus untuk mendekati perempuan, namun bagaimana caranya berubah agar cewek itu bisa tertarik kepadanya. Terlebih di desa ini, ia bukanlah siapa-siapa yang bahkan tak punya kedudukan apa-apa.

__ADS_1


Lio pun akhirnya memilih berjalan gontai menuju ke rumah kontrakannya. Ia masuk kedalam rumah kemudian tiduran di lantai sambil menatap kipas angin yang kini sudah terputar. Lio merasa ada yang kurang dalam dirinya ini sehingga orang-orang disini masih menatap aneh dirinya.


"Apa aku harus mengubah cara berpakaianku?" tanya Lio pada dirinya sendiri.


"Ah... Enggaklah. Pakaian juga bisa menipu" jawabnya sendiri.


Karena terlalu pusing memikirkan arah hidupnya sendiri, ia memilih untuk tidur di lantai kamar tamu yang memang tak ada kursinya sama sekali. Bahkan pintu rumah kontrakannya juga terbuka lebar namun pemiliknya sudah masuk alam mimpi. Lio berpikir bahwa desa ini aman dari pencuri karena motornya yang mahal saja tak hilang padahal ditinggal di jalanan semalaman.


***


"Ayo den Lio, waktunya kerja bakti" seru bapak-bapak mendektmat kearah kontrakan Lio.


Hari ini adalah hari minggu maka sudah jadwalnya bapak-bapak untuk melakukan kerja bakti bebersih desa. Sedangkan untuk yang perempuan akan menyiapkan makanan dan minuman untuk yang ikut kerja bakti. Bahkan semalam sudah diumumkan di masjid setempat melalui pengeras suara.


Mendengar suara teriakan orang memanggil namanya untuk segera berkumpul membuatnya terkejut. Bahkan ia langsung saja turun dari kasurnya kemudian berlari kearah ruang tamu.


"Iya, pak. Ini baru saja selesai mandi. Nanti saya nyusul" bohong Lio dari ruang tamu.


"Ya saya tunggu disana, den Lio" seru bapak-bapak itu.


Setelah melihat bapak-bapak itu berlalu pergi, Lio menghela nafasnya lega. Lio segera bergegas masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Setidaknya wajahnya harus fresh agar terlihat seperti orang yang sudah mandi.

__ADS_1


"Nggak usah mandi, masih kelihatan ganteng gini kok. Orang ganteng mah susah, mau mandi atau enggak ya tetap rupawan gini" gumam Lio dengan memuji dirinya sendiri.


Setelah merasa penampilannya sudah pas, akhirnya Lio melangkahkan kakinya menuju ke tempat diadakannya kerja bakti. Ternyata disana sudah banyak sekali bapak-bapak yang berkumpul membuat Lio kikuk sendiri. Sepertinya ia terlambat datang membuat semua orang hampir menoleh kearahnya.


"Maaf saya terlambat, pak. Tadi ada panggilan alam" ucap Lio beralasan.


"Makanya habis shubuh itu jangan tidur lagi. Karma itu kena panggilan alam di saat sedang buru-buru" sindir Pak Hakim.


Bapak-bapak yang ada disana hanya bisa menahan tawanya saat mendengar sindiran dari Pak Hakim untuk Lio. Lio ingin sekali mengajak duel Pak Hakim namun ia sedikit takut jika dikeroyok warga sekitar padahal dirinya hanya sendirian.


"Kerja pak, jangan kerjaannya cuma bisa nyindir orang aja padahal dia bekerja saja tidak" ucap Lio dengan sedikit ketus.


Memang benar adanya jika Pak Hakim disana hanya mengawasi warganya yang sedang kerja bakti. Masih mending Lio yang datang terlambat namun membawa cangkul untuk membersihkan beberapa rumput sedangkan Pak Hakim hanya badannya saja yang terbawa. Para warga diam-diam mengacungkan jempolnya kearah Lio karena berani menegur Pak Hakim.


"Saya sudah kerja sedari shubuh ya" elak Pak Hakim.


"Lah... Habis shubuh saya juga kerja, di alam mimpi sambil nyangkulin rumput" ucap Lio santai.


Bahkan Lio kini sudah bergabung dengan bapak-bapak lainnya untuk membersihkan rumput liar disana meninggalkan Pak Hakim yang merupakan ayah dari Ratu itu. Bahkan masih terdengar jelas jika Pak Hakim itu tengah menggerutu panjang pendek karena menghadapi Lio yang kelewat berani.


"Sabar, yah. Lebih baik ayah ikut kerja daripada cuma bengong ngelihatin warga. Biar sekalian olahraga" ucap Ratu yang mendekat kearah ayahnya.

__ADS_1


Ratu yang mengetahui jika ayahnya tengah kesal pun langsung mendekat kemudian mengelus lengan atasnya. Pak Hakim hanya berdehem kemudian mengambil sapu untuk membersihkan beberapa rumput yang sudah dicabut atau ditebang.


__ADS_2