
"Darimana kalian semalam?" ucap Kakek Angga memberondong pertanyaan kepada Nathan dan Lio.
Kakek Angga yang tengah duduk sambil menikmati kopinya di ruang makan, langsung memberondong kedua pemuda itu dengan pertanyaan. Apalagi mengenai kejadian semalam yang membuatnya khawatir karena anak buahnya sempat kehilangan jejak mereka. Walaupun pada akhirnya ketemu karena melihat sepeda motor keduanya terparkir di halaman markas geng motor LEXON.
"Dari markas, kek" jawab Lio dengan jujur.
"Lain kali pamit sama kakek. Semalam apa pun itu harus pamit, bangunkan kakek. Jangan buat khawatir" ucap Kakek Angga dengan tegas.
Setiap kali cucunya itu pergi keluar rumah pada malam hari, hatinya selalu tak tenang. Terlebih hari sudah dini hari, bahkan semalam ia sama sekali tak bisa tidur. Ia baru bisa tidur saat mendengar suara sepeda motor memasuki halaman rumahnya. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan keluarga satu-satunya yang ia miliki itu.
"Iya kakek, maafkan Lio" ucap Lio dengan sedikit menunduk.
"Maafkan Nathan juga, kek" ucap Nathan merasa bersalah.
Keduanya merasa bersalah karena telah membuat Kakek Angga khawatir. Setelah kejadian cucunya tersesat kemarin ternyata membuat beliau menjadi trauma hingga sering khawatir memikirkan Lio. Kakek Angga hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kemudian keduanya duduk di kursi ruang makan.
"Agung, hari ini kamu daftar ke sekolah barumu ya. Semalam surat kepindahan dan dokumen lainnya sudah dikirim karyawan kakek dari desa" ucap Kakek Angga.
"Baik, kek. Agung nanti diantar sama siapa ke sekolahnya?" tanya Agung dengan penasaran.
Kakek Angga terdiam mendengar pertanyaan dari Agung. Dia memang sudah mensurvey beberapa sekolah terbaik yang ada disini. Agung akan masuk sekolah swasta yang juga pemiliknya adalah Kakek Angga dan sahabatnya yang berarti satu yayasan dengan SMA Lio.
__ADS_1
"Biar nanti sama aku saja, kek. Aku paham kok tentang ngurus pendaftaran gitu. Agung habis sarapan langsung beres-beres biar bisa segera ke sekolah" ucap Lio dengan yakin.
"Baiklah, nanti kamu ijin sebentar pada gurumu kalau akan mendaftarkan sekolah adikmu. Nanti pulangnya biar dijemput sama sopir" ucap Kakek Angga.
Agung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Sedangkan Lio memang sengaja ingin mengantarkan Agung mendaftarkan sekolahnya karena ia nanti ingin menemui seseorang saat jam pelajaran. Jika ia menemui seseorang itu di waktu istirahat pasti akan banyak orang yang melihatnya.
Mereka pun segera bergegas melakukan sarapan dalam keadaan hening. Tak berapa lama, akhirnya sarapan telah usai sehingga Kakek Angga langsung bergegas pergi ke restorantnya. Pagi ini ada acara breefing pagi karena ada kolega penting yang akan membooking restorantnya selama dua hari penuh. Sedangkan Lio dan Nathan masih duduk di meja makan menunggu Agung mengganti pakaiannya.
"Bos, kaya ada yang aneh. Mau ada rencana apa sampai ikut daftarin Agung? Bukannya loe malas kalau sudah berurusan dengan administrasi sekolah" ucap Nathan sambil terkekeh.
Nathan masih ingat dengan jelas kalau setiap ada urusan administrasi atau pembayaran mengenai sekolah, ia selalu menyuruh temannya untuk membayarkan. Malas antri adalah alasan yang selalu dilontarkan oleh Lio sehingga Nathan sudah sangat hafal dengan kebiasaan sahabatnya itu.
"Biasa... Apel pacar-pacar. Sekalian mau mutusin mereka" ucap Lio sambil menaikturunkan alisnya.
Lio tak menjawab namun hanya memperlihatkan layar ponselnya yang sedang melakukan chatt dengan salah satu pacarnya. Nathan pun mengerti jika Lio memang kini sudah bersungguh-sungguh untuk mengakhiri hubungannya dengan pacar-pacar tak berguna itu.
"Yang paling penting tuh si Uci harus loe putusin pertama kalinya. Cuma bisa dandan dan habisin duit di ATM aja loe pungut" ketus Nathan.
Lio tertawa mendengar omelan dari sahabatnya itu, pasalnya pacarnya si Uci itu sudah manja ditambah matre lagi. Hal ini juga yang membuat sahabat-sahabatnya di geng LEXON sangat sebal dengan tingkahnya itu. Terlebih jika Uci sudah datang, hampir semuanya langsung memilih menyingkir. Lio menerima Uci itu juga hanya karena kegabutannya saja bahkan setiap kali ia meminta uang pasti akan berikan dengan nominal recehan. Namun entah mengapa gadis itu tak juga memutuskan dirinya.
"Padahal dia tuh kalau minta duit cuma gue kasih 50 ribu lho. Ogah juga gue habisin uang bulanan dari kakek untuk dia. Mungkin dia jadikan gue pacar juga selama ini hanya ingin dipandang wah karena gue ketua geng motor" ucap Lio sambil tertawa.
__ADS_1
Nathan sedikit menatap tak percaya kearah Lio, pasalnya selama ini ia dan yang lainnya berpikir kalau Uci selalu memoroti keuangan sahabatnya itu. Namun ternyata Lio itu lebih licik dan cerdik dalam hal seperti ini. Pembicaraan mereka terhenti saat melihat Agung sudah turun dari tangga menggunakan celana panjang, kemeja, dan sepatunya serta tas di punggungnya.
"Acieee... Ganteng amat" ucap Nathan sambil terkekeh pelan.
Agung hanya bisa salah tingkah mendengar pujian yang dilontarkan oleh Nathan. Ia sungguh malu karena biasanya tak ada yang memuji dirinya. Jangankan memuji, justru teman-teman atau tetangganya seringkali mengejek dia karena berpakaian kumal dan bersepatu butut.
"Ayo... Jangan diledekin Nath, nanti dia nangis" ucap Lio sambil bangkit dari duduknya.
Ucapan Lio itu bukan seperti menenangkannya namun bagaikan sebuah ledekan yang tentu membuat Agung sedikit cemberut. Nathan juga kini langsung mendekat kearah Agung kemudian merangkulnya untuk keluar rumah mengikuti Lio. Agung membonceng ke motor milik Lio kemudian laki-laki itu melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
***
Nathan melajukan sepeda motornya menuju kearah tempat parkir sekolahnya setelah mengendarainya selama 15 menitan. Sedangkan Lio menuju gedung sebelah sekolahnya untuk mendaftarkan Agung terlebih dahulu. Saat tempat parkir, Nathan langsung dicecar oleh sahabat-sahabatnya mengenai keberadaan bos mereka. Padahal saat ini Nathan sama sekali belum melepas helmnya.
"Si bos kemana? Bolos lagi kah?" tanya Kala penasaran.
"Ke gedung sebelah. Lagi daftarin saudaranya yang akan mulai masuk sekolah" jawab Nathan sambil melepaskan helmnya.
Mereka semua menganggukkan kepalanya mengerti. Namun ada yang aneh karena sepengetahuan mereka itu Lio sama sekali tak punya saudara entah dari papa ataupun mamanya. Terlebih hubungan Lio dengan orangtuanya saja buruk jadi tak mungkin kalau itu adalah anak atau saudara dari pihak mama dan papanya. Namun mereka juga tak bisa menanyakan ini pada Nathan yang tak tahu apa-apa.
"Ayo masuk. Mungkin nanti si bos juga bakalan bolos, ada urusan sama ceweknya" ucap Nathan mengajak semuanya untuk segera masuk dalam kelas.
__ADS_1
Ada beberapa diantara mereka yang mendengus kesal karena sebenarnya ingin sekali membolos. Pelajaran yang susah di jam pertama pelajaran membuat mereka ingin menghindarinya. Namun Nathan yang memang cerdas tentu akan masuk dalam kelas diikuti oleh anggota lainnya.