Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Trending


__ADS_3

Berita penangkapan beberapa oknum yang ada di kampus itu dan seorang mahasiswa pembully itu langsung saja menjadi berita hangat bahkan trending di pemberitaan nasional. Mereka tak menyangka, sudah hampir dua tahun mahasiswa itu disana namun baru terungkap sekarang. Tentunya publik langsung mempertanyaan kredibilitas orang-orang yang ada di kampus itu.


Kakek Angga geram dengan pemberitaan yang seakan menyudutkan kampusnya. Padahal ini hanya ulah beberapa oknum saja. Pada faktanya, lulusan dari kampus ini sudah diakui kemampuannya karena dosen skripsi dan pengujinya pun bukan dari kalangan oknum bermasalah.


Kakek Angga sendiri yang sudah menguji dan memastikan kualitas mereka. Tentunya hal ini takkan mudah bagi siapapun yang ingin menyuap dan mempengaruhi mereka. Bahkan mereka tak segan-segan untuk tidak meloloskan skripsi mahasiswanya karena kemampuannya belum mumpuni.


"Kenapa jadi orang-orang bikin berita kaya gini coba?" kesal Kakek Angga yang sedang melihat acara TV bersama dengan cucunya.


"Nggak usah baper. Biarkan mulut mereka terus berbicara, nanti juga bakalan bungkam sendiri kalau sudah ada pihak yang berwajib memberi penjelasan" ucap Lio dengan santai.


Narasi yang terlalu dilebih-lebihkan itu membuat siapapun yang melihatnya geram atau malah terpengaruh. Padahal belum ada klarifikasi apapun dari pihak kampus, namun malah berita sudah turun. Bahkan selalu bilang kalau semua yang diucapkan itu hanya menduga-duga. Ingin sekali Kakek Angga itu menuntutnya namun ia akan kehilangan banyak uang.


"Ya tapi kakek kesal tahu. Sok tahu banget mengenai permasalahan yang ada" kesal Kakek Angga.


"Jangan marah-marah. Nanti darah tingginya kumat lho, kek" ucap Lio sambil tertawa.


Tentunya ia tak ingin kalau sampai kakeknya itu terlalu pusing memikirkan masalah ini. Pasti nantinya akan berpengaruh pada kondisi kesehatan kakeknya itu. Sedangkan Kakek Angga hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan cucunya itu.

__ADS_1


Nathan, Agung, dan Adin yang ada disana hanya mendengarkan percakapan antara cucu dan kakeknya itu. Mereka lebih memilih diam karena tak mempunyai hak untuk mengomentari semua itu. Saat semuanya kini tengah fokus pada tayangan yang ada di layar TV, tiba-tiba mereka mendengar suara kegaduhan didepan rumah. Mereka segera saja keluar dari rumah untuk mencari tahu.


Saat sampai didepan rumah, ternyata ada dua sepasang suami istri ingin masuk dalam area rumah. Tadinya mereka berempat itu mengelabuhi petugas dan anak buah Kakek Angga dengan masuk melewati sebuah gang kecil agar bisa masuk ke area perumahan. Namun pada faktanya, mereka ketahuan juga saat akan memasuki rumah Kakek Angga.


"Ngapain kalian kesini? Mending kalian pergi daripada membuat gara-gara disini" sentak Lio.


Nathan yang melihat Lio emosi pun langsung meminta Adin dan Agung untuk masuk dalam rumah. Ternyata yang datang kali ini itu adalah kedua orang tua Lio dengan pasangannya masing-masing. Tentunya hal ini membuat Nathan hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka sama sekali tak memikirkan perasaan dari Lio yang memperlihatkan keharmonisan itu.


Kakek Angga langsung mengelus bahu cucunya untuk sedikit meredakan emosinya. Sedangkan anak buah Kakek Angga sudah langsung membuat pagar pembatas agar tak ada yang bisa memasuki area rumah atasannya.


"Jangan sombong. Kekayaan yang kalian miliki ini, seharusnya kami mendapatkan haknya. Itu lho mas, harusnya kamu itu menuntut hak harta dari bapakmu" ucap Mama Lio menyuruh mantan suaminya agar merongrong harta papanya.


Terlihat sekali raut wajah Kakek Angga sedang menyombongkan dirinya sendiri. Walaupun begitu, Lio senang karena kakeknya menggunakan ucapan pedas seperti ini untuk melawan empat orang didepannya ini. Apalagi Lio dan Nathan tadi sempat shock karena mendengar ucapan Kakek Angga.


Kakek Angga sebelumnya belum pernah berucap pedas kepada orang-orang yang tidak kenal dekat dengannya. Ia akan menjaga imagenya namun kini dihadapan empat orang yang mulutnya menganga tak percaya itu ternyata bisa mengucapkan kalimat pedas. Biasanya Kakek Angga akan mengucapkan kalimat pedas dalam suasana formal atau bercanda dengan Lio.


"Siapa yang iri? Rumah kami jauh lebih besar dan mewah dibandingkan ini" ketus Papa Lio.

__ADS_1


Walaupun saat sampai di rumah ini mereka berempat menganga tak percaya dengan kemewahan yang ada didepannya, namun dengan cepat segera mengelak. Mereka tentunya tak mau mengakui kalau terkagum dengan bangunan yang ada didepannya. Bisa-bisa image mereka hancur.


"Oh... Kalau gitu silahkan anda di rumah saja. Tidak.udah ke rumah saya yang kecil ini. Lagian rumah kecil ini tidak cukup menampung sampah seperti kalian" ucap Nathan dengan pedas.


Lio dan Kakek Angga langsung mengarahkan pandangannya pada Nathan. Tak biasanya pemuda yang pendiam ini mau berucap panjang lebar seperti ini. Hanya kepada orang terdekatnya lah Nathan akan seperti ini. Hal ini berarti Nathan ingin sekali untuk melindungi saudaranya dari orang-orang didepannya ini.


Bahkan empat orang yang ada dihadapan ketiganya langsung menatap tajam kearah Nathan. Mereka tak terima jika disudutkan dan dianggap sampah, padahal semuanya ini merupakan keluarganya. Mereka langsung saja mengambil batu yang ada disekitar sana kemudian melemparnya kearah Nathan secara bersamaan.


Pluk... Pluk... Pluk... Pluk...


"Lancang sekali... Kau bilang kami sampah? Yang sampah itu kau. Kau itu sudah dibuang keluargamu lalu dipungut sama papaku. Jadi siapa yang sampah disini?" ketus Papa Lio.


Deg...


Jantung Lio seakan berhenti berdetak saat mendengar ucapan tak punya hati dari mulut Papa Lio. Nathan memang tahu kalau kedua orangtuanya itu mempunyai circle yang sama dengan empat orang didepannya ini sehingga sifatnya pun tak jauh berbeda. Namun ia tak masih tak menyangka kalau bisa-bisanya seseorang yang tak tahu apa-apa langsung menghakiminya.


Ia juga tak ingin dibuang lalu dipungut lagi oleh oranglain. Namun yang memungutnya ini orang punya hati seluas samudera. Bahkan sedari dulu menerimanya tanpa mau dibalas kebaikannya. Kakek Angga langsung menepuk bahu Nathan untuk menyadarkan laki-laki itu.

__ADS_1


"Sampah pun bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi kalau yang mungut bisa mengubahnya. Namun sampah akan tetap jadi barang yang tak berguna jika yang memungutnya tak bisa cerdik dalam membuat sesuatu" ucap Kakek Angga.


Kakek Angga bukan bermaksud untuk mengibaratkan Nathan sebagai sampah, baginya dia adalah sesuatu yang nantinya akan menjadi hal yang berharga. Entah itu berharga untuk dirinya sendiri atau oranglain. Ia hanya akan membantunya sampai bisa membuktikan kepada dirinya sendiri kalau dia bisa menjadi seseorang yang sukses. Terlebih untuk membungkam mulut kedua orangtua yang membuangnya.


__ADS_2